Sebuah Sangkakala dari Yogyakarta: Suatu Variasi Mendengarkan Album Diogenes dari The Kick
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Jika dunia
berakhir, sejauh mana kesenian dapat menyelamatkan kita? Jika perut kosong
menggejala, sejauh mana kesenian dapat mengenyangkan rasa lapar?
Pertanyaan-pertanyaan pragmatis semacam ini setidaknya pernah dibahas W.S.
Rendra lewat salah satu naskah dramanya. Dalam naskah Kesaksian
Burung-Burung Kondor (1973), ada sepenggal dialog yang kurang lebih seperti
berikut,
Apakah
kesenian lebih penting daripada roti?... Apakah puisi bisa menghentikan
kemelaratan, Jose? // Secara langsung dan seketika tidak, tetapi puisi bisa
mendatangkan kekuatan jiwa bagi mereka yang menderita.
Dalam bentuk
kesenian lain, wabil-khusus puisi, penyair Aan Mansyur juga pernah mengetengahkan
dunia praktis dengan dunia estetika:
Puisi
tidak menyelamatkan apa pun, namun memberi
keberanian
membuka jendela dan pintu pada pagi hari.
Menyeret
kakiku menghadapi dunia yang meleleh
di
jalan-jalan kota yang tidak berhenti berasap.
(Tidak Ada New York Hari Ini, 2006:)
Kedua kutipan itu sama-sama
tidak sedang menempatkan kesenian sebagai pengganti roti. Keduanya justru
mengingatkan bahwa ada kelaparan lain yang tak pernah selesai hanya dengan
mengenyangkan perut. Di tengah badai kelaparan dan kekurangan—seperti saat ini—kesenian
bekerja dengan cara yang lebih sublim. Ia (kesenian) tidak selalu datang untuk
membantu manusia dalam berjalan, tetapi kadang kesenian membantu manusia
belajar untuk berhenti dan mengingat. Kalau kesenian tidak dapat mengubah
dunia, mungkinkah ia dapat mengubah cara kita menjalani dunia?
Atas dasar itu, tugas kesenian
sesekali menyerupai “sangkakala”: memberi peringatan bahwa sesuatu sedang
berubah. Ketika tahu bunyi sangkakala tiba, kesiapan tidak lagi banyak berarti.
Ada hal-hal yang harus dihadapi, baik waktu yang terus berjalan, kehilangan
yang datang tanpa aba-aba, cita-cita yang bergeser, maupun diri sendiri yang
perlahan menjadi asing. Dari sebuah sudut Kota Yogyakarta, tepatnya Kotagede, bunyi
semacam itu terdengar melalui Diogenes (2025).
Diogenes adalah album terbaru dari The
Kick, band yang memainkan punk-rock sekaligus memainkan perasaan. Album berisi
delapan lagu ini resmi dirilis pada tanggal 10 Juli 2026. Lebih lanjutnya,
album ini sekaligus menandai 10 tahun perjalanan The Kick sejak awal berdirinya
pada tahun 2016. Dalam perjalanan itu, album Diogenes begitu kentara suasana
pendewasaannya. Secara musikal, album ini memiliki kekayaan penjelajahan
estetika dibanding beberapa EP dan album yang sudah-sudah: Renaisan
(2024), Rangsang (2023), atau Suburban Terror (2021). Secara naratif,
tentu album Diogenes memiliki variasi yang lebih dewasa, jujur, sekaligus
berani.
Lebih spesifiknya, album
Diogenes menarasikan berbagai kegelisahan yang akrab dengan usia kepala tiga.
Di antara beragamnya isu yang diangkat, ada beberapa isu mendasar yang
tersemat, seperti burnout, urban fatigue, dan polycrisis global.
Di titik ini, The Kick tak lagi sekadar menggambarkan chaos-nya pinggiran
kota, tetapi juga merelevansikannya dengan diskusi kasus dalam lanskap yang
lebih luas.
Namun, sebagai catatan,
membatasi Diogenes sebagai album tentang usia kepala tiga rasanya justru
mengecilkan daya jelajahnya. Sebab, yang dipertaruhkan album ini bukan
semata-mata soal rentang usia, melainkan pengalaman dan tahapan menjadi
manusia. Oleh karenanya, album ini masihlah perlu didengarkan bagi mereka akan
memasuki dan telah memasuki usia 30-an.
Selain membicarakan manusia
yang merangkak menuju usia matangnya, garis bawah yang lebih terasa dalam album
ini justru terletak pada nuansa distopianya. Konsep distopia adalah antonim
dari konsep utopia. Menurut Thomas More (1519), utopia menarasikan sebuah ruang
imajiner yang indah, sempurna, dan serba sejahtera. Di sisi lain, distopia
justru menggambarkan kondisi sosial yang penuh keburukan, ketidakadilan, ketertindasan,
hingga penderitaan yang menjalar di segala lini, (John Stuart Mill, 1868).
Ada beragam produk budaya yang
mengangkat suasana distopia. Sebagian contohnya adalah novel 1984 karya
George Orwell, album F#A# karya Godspeed You! Black Emperor, dan film Mad
Max: Fury Road karya George Miller. Dalam ranah yang lebih dekat, ada pula
novel Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma dan album Stambul
Arkipelagia dari Silampukau. Sebetulnya masih banyak sekali contoh karya
distopik, tetapi nyaris semua karya distopik selalu menghubungkan penderitaan
dengan kegagalan manusia dalam membangun masa depan yang lebih baik dan
berkelanjutan. Distopia, dengan demikian, tidak semata-mata menggambarkan dunia
yang buruk, tetapi juga menjadi semacam peringatan tentang ke mana dunia hari
ini mungkin sedang bergerak.
Distopia klasik sering membawa manusia ke
dunia yang telah berubah menjadi asing. Diogenes justru memperlihatkan
dunia yang masih sangat kita kenali—perang, pekerjaan, kota, keluarga, hujan,
rumah bocor—tetapi semuanya perlahan menjadi tidak layak dihuni. Salah satu
sebab mendasar dari ketidaklayakan ini adalah lantaran akselerasi sosial.
Akselerasi sosial adalah ketika
dunia dituntut berjalan semakin cepat. Revolusi Industri pada abad ke-18 dan
ke-19 mempercepat produksi, transportasi, dan mobilitas melalui mesin, pabrik,
dan kereta api. Sementara pada abad ke-20, produksi massal, kendaraan bermotor,
radio, televisi, hingga penerbangan membuat dunia bergerak semakin cepat.
Perang dunia bahkan menunjukkan bagaimana kecepatan teknologi, mobilisasi, dan
komunikasi dapat menjadi bagian dari kekuasaan untuk saling menghancurkan.
Memasuki akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, internet, telepon pintar, dan
media sosial membawa percepatan itu ke dalam ruang yang paling intim: kehidupan
sehari-hari. Percepatan boleh saja membawa manusia ke mana pun dalam sekejap,
tetapi bagaimana jika percepatan itu membuat manusia melewati titik didihnya?
Bagaimana jika manusia terus dipaksa berlari, sementara tubuh dan pikirannya
memiliki batas?
Dalam kasus dunia yang semakin
cepat, seorang sosiolog dari Jerman, Hartmut Rosa, pernah menawarkan konsep
alternatif. Adapun, konsep yang ditawarkan ialah resonansi. Resonansi
dibutuhkan karena manusia tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan
dan mempercepat dunia. Namun, manusia juga membutuhkan hubungan yang membuatnya
merasa disentuh dan mampu terlibat dalam menanggapi dunia secara bermakna.
Resonansi dengan demikian menjadi kebalikan dari keterasingan: sebuah hubungan yang
menjadikan manusia tidak sekadar melewati dunia, tetapi benar-benar mengalami
dan mendengarkannya. Mungkin, di tengah akselerasi yang membuat manusia terus
berlari, kita justru membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak.
Di titik inilah Diogenes
terdengar seperti sebuah sangkakala dari Yogyakarta. Dalam suatu ajaran agama,
sangkakala memang menandai berakhirnya waktu manusia untuk bertobat. Diogenes
tentu bukan tiupan terakhir itu. Ia lebih menyerupai bunyi peringatan yang
datang sebelum semuanya terlambat: sebuah panggilan untuk mendengar kembali
dunia, orang lain, dan diri sendiri.

Posting Komentar untuk "Sebuah Sangkakala dari Yogyakarta: Suatu Variasi Mendengarkan Album Diogenes dari The Kick"
Posting Komentar