Paradoks: Seru Pengingkar
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Informasi yang menghadirkan perasaan miris rasanya tak bisa lagi dibendung. Semua itu terjadi di bulan Juli 2025. Saat kita hendak meluruskan kaki sembari mengusap gawai, sebuah sekolah reyot mesti berjajar dengan bangunan koperasi yang bertolak belakang dengan ide Mohammad Hatta. Atau, tangis seorang anak meratapi jenazah ayahnya yang tewas dikeroyok usai tepergok diduga mencuri ayam.
Untuk makan. Segenggam nasi.
Untuk pendidikan. Ilmu pengetahuan.
Begitu pula ketika pengadil konstitusi memutuskan bahwa program makan bergizi tidak boleh menggunakan dana abadi pendidikan. Logika mendalam disampaikan hakim sebagai pengingat bahwa dana pendidikan tidak boleh ditafsir sekenanya. Seenaknya. Sak-sak e. Bahwa ilmu pengetahuan adalah realitas yang niscaya. Jika kenyataan tersebut bisa terwujud, maka perut banyak orang akan terurus dengan sendirinya.
Lalu, kita mendengar kenyataan pahit yang disampaikan kepala perpustakaan negara. Bila distribusi buku ke pelosok negeri mesti dihentikan karena anggaran tidak mencukupi. Bahkan, guyonan tentang paket sedang berada di DC Cakung tidak lagi berlaku. Ini soal distribusi pengetahuan. Tersendat bukan karena apa pun. Hanya karena orang banyak tidak dibuat untuk berpengetahuan.
Pelan-pelan, cerita dari Kuba, saat revolusi 26 Juli terjadi pantas menjadi dongeng. Ketika para kombatan dan masyarakat yang belum bisa membaca, diajari Guevara agar mampu menguasai aksara. Semua itu terjadi di tengah perjuangan menghentikan rezim tangan besi, Flugencio Batista, yang mesti melalui medan berat berbukit dan padatnya kebun tebu Karibia. Bahwa harapan untuk hidup tidak sekadar dibangun melalui makna bahasa “kekuatan”, tetapi juga, “pengetahuan”.
Kini tinggal 0,2% masyarakat Kuba yang tidak bisa membaca. Dalam riset yang ditulis Ruth A. Supko (2017 https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1147644.pdf), literasi mampu menanggalkan kelas masyarakat di negara Kuba. Mulai dari mereka yang berasal dari kota atau desa, kaya atau miskin, berpendidikan formal atau kelas pekerja. Semua itu terjadi karena rencana panjang serta kekuasaan yang meyakini kekuatan pengetahuan.
Belum lagi saran dari seorang menteri yang menyarankan wajib membaca buku dari penulis barat. Konon, buku dari penulis dalam negeri ditulis secara subjektif sehingga tidak ia sarankan. Paradoks semacam ini datang bertubi. Seolah-olah kita tidak memiliki cendekiawan yang mampu berbagi pandang untuk menyelesaikan masalah.
Terus-menerus situasi semacam ini terjadi. Apa penyebabnya justru menjadi pertanyaan yang tak pernah usai. Apakah karena tidak kompeten? Rasanya pertanyaan tersebut terlampau usang. Atau, jangan-jangan pertanyaan tentang mampunya kekuasaan mengelola hidup khalayak sudah tidak bisa mewakilinya. Karena itu, mesti dilakukan refleksi mendalam.
Tetapi, kembali lagi menyoal paradoks. Kita mengingat peristiwa cermin ketika debat calon presiden 2024 lalu. Ada satu calon yang tidak berani becermin. Apakah refleksi menjadi sesuatu yang kurang dalam hidup bila enggan melakukannya. Hal-hal semacam ini menjadi penting.
Siswa di sekolah, setiap selesai materi selalu mendapat tugas untuk mengevaluasi pembelajaran. Sebab, mereka mesti tahu apa yang kurang dari materi yang sudah dipelajari. Begitu pula, gurunya, urusan administratif yang seabrek itu salah satunya adalah refleksi pengajaran. Pola ini dilakukan sebagai alat ukur untuk proses belajar di hari-masa berikutnya.
Jika di sebuah pidato kita mendengar bahwa pendapat ahli, keluh-kesah khalayak, atau suara marjinal sebagai penghalang kemajuan, maka kita sedang menghadapi kenyataan penuh paradoks. Hendak ke mana kehidupan bermuara? Siapa yang masih utuh menitipkan hidupnya kepada harapan bila kenyataan demikian adanya.
“Mereka.. bermain Tuhan. Merasa benar, menjajah nalar!” teriak Seringai lewat Mengadili Persepsi (2007).
Pesan sudah menguar dari pelbagai sudut. Setiap titik menyampaikan pesan melalui cara masing-masing. Waktu seperti sekarang ini, sudah seyogianya menjelma menjadi catatan. Pesan yang tidak mendapat perhatian, jangan sampai menghilang. Catatan sudah mestinya dilakukan siapa pun.
Kalau pada tingkat paling puncak sudah kesulitan mencatatn kenyataan, maka merekam perasaan adalah cara yang baik. Tiada yang muskil di sana. Kelak, zaman akan menanyakan apa yang terjadi sekarang. Sebab, hidup di masa mendatang akan mendapati persoalan yang lain–barangkali turunan dari masa kini.
Satu di antara yang membuat orang bermasalah adalah ketika dirinya tertutup atas kenyataan. Jika tidak tahu, maka seseorang harus belajar. Jika kesulitan mengurai, maka ia harus belajar mendengar. Begitulah pesan dari realitas yang mesti dilakukan. Sebab, keberadaan menuntut belajar dari sekitar.
Setangkas itu pula yang disampaikan khalayak kepada kekuasaan melalui beragam bentuk. Penyampaian semacam ini bukanlah ancaman atas segala yang berkait persatuan. Justru dengan adanya peringatan, masalah dapat segera diselesaikan. Mendengar bukanlah hal yang menghabiskan segalanya. Begitu pula, maaf, tiada yang menurunkan kehormatan seseorang.
Membiarkan air mata terus mengalir di antara anak-anak dan keluarga sulit disebut sebagai keputusan bijak. Di sana mereka telah menitipkan harapan. Karena itu harapan mesti dikelola sebagai pertahanan di hadapan waktu yang terus merentang. Sebab, ketika harapan dimatikan, maka tiada bentuk negosiasi yang tepat selain perubahan radikal.
Khalayak tentu berspekulasi. Saat harapan dan kenyataan tidak sebanding, maka deretan catatan akan terus tertulis. Hari ini mungkin tiada yang berbicara, tetapi sejarah yang akan menyampaikan kelak: bahwa umbar pidato tidak terjadi di atas kenyataan, hanya sekadar mimbar.
Tepuk tangan terdengar kosong. Persis seperti nihilnya kehadiran kuasa yang tidak mengenal persoalannya. Mulai dari tempat paling terang hingga paling gelap. Terabaikan. Hingga melekat dengan pengertian tak bersisa. Dan, di situlah harapan bersemayam.

Posting Komentar untuk "Paradoks: Seru Pengingkar"
Posting Komentar