Membaca The Cloves and The Tobacco sebagai Rumah Bernama Musik

Gambar: Theo Traperta

"Karena di tengah dunia yang semakin pandai membuat manusia merasa asing, The Cloves and The Tobacco pernah membuatku merasa memiliki rumah untuk pulang." -Novia
Ada suatu masa ketika aku percaya musik hanyalah bunyi.

Ia datang dari pengeras suara, menemani perjalanan pulang, mengisi ruang yang lengang, menyelinap di antara pekerjaan yang melelahkan, lalu selesai ketika lagu terakhir berhenti. Ternyata, musik tidak sesederhana itu. Semakin bertambah usia, aku semakin mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak memiliki bentuk, tetapi justru menetap paling lama. Mungkin musik adalah salah satunya. Ia dapat mengendap di dasar ingatan, lalu tetiba muncul kembali melalui satu nada, satu lirik, atau sebuah intro yang tiba-tiba membawa kita kepada seseorang, sebuah tempat, atau versi diri kita yang pernah ada.

Kita mungkin lupa kapan pertama kali mendengar sebuah lagu, di mana lagu itu diputar, bahkan siapa yang memperkenalkannya. Tetapi tubuh sering menyimpan sesuatu yang tidak sanggup diingat di kepala yaitu perasaan. Kita mungkin lupa sebuah lagu, tetapi jarang lupa siapa diri kita ketika lagu itu pertama kali menyentuh kita. Musik semacam itu tidak sekadar didengar. Ia dialami, dihuni, dan pada titik tertentu menjadi bagian dari cara kita memahami kehidupan.

Salah satu musik yang kemudian menjadi ruang semacam itu bagiku adalah The Cloves and The Tobacco, band celtic punk asal Yogyakarta yang telah berkarya sejak 2006. Berangkat dari kecintaan terhadap Flogging Molly dan Dropkick Murphys, mereka mempertemukan kegaduhan punk dengan melodi celtic yang hangat, liar, dan penuh karakter. Banjo, fiddle, tin whistle, gitar, drum, serta energi punk yang mereka bawa seolah memindahkan serpihan musik dari negeri yang jauh ke sebuah ruang yang sangat dekat: Yogyakarta. Mereka tidak sekadar bertanya bagaimana memainkan musik Irlandia, tetapi secara tidak langsung menjawab pertanyaan yang lebih menarik: apa yang terjadi ketika musik itu dimainkan oleh orang-orang Yogyakarta dengan pengalaman hidup, pertemanan, kegelisahan, dan ingatan mereka sendiri?

Jawabannya tumbuh dalam perjalanan musik mereka. The Day with No Sun (2012) menjadi album penuh pertama yang memperkenalkan warna celtic punk mereka melalui cerita tentang pertemanan, perjalanan, whiskey, jalanan, dan kehidupan yang riuh. Kemudian The Indian Ocean (2014) hadir sebagai singel, disusul Across the Horizon (2016) yang membawa cerita lebih jauh kepada kota, pelabuhan, perang, hujan, perpisahan, dan horizon. Setelah beberapa tahun berjalan, mereka merilis Jalan Pulang (2020), sebuah EP yang terasa lebih reflektif, berbicara tentang masa muda, kehidupan, kelas pekerja, kesunyian, dan tentu saja pulang. Perjalanan itu kemudian diteruskan melalui Kota di Utara (2022), Biarkan Berlari (2023), Tapak Tilas Kerinduan, Through The Year of Silence, Sajak Usang Kelas Pekerja (2024), hingga Di Sela Waktu Tersisa dan Tentang Kau Dan Dirimu (2026). Jika dibaca sebagai satu rangkaian, rilisan-rilisan itu seperti catatan tentang manusia yang terus berjalan: berangkat, menyebrang, berlari, mengingat, merindukan, kehilangan, lalu perlahan menengok kembali kepada diri sendiri.

Namun, semua pengetahuan tentang sejarah dan musik itu datang belakangan. Aku tidak jatuh cinta kepada mereka karena sejarah, genre, atau nama-nama instrumen yang baru kupahami setelahnya. Aku jatuh cinta karena sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dikenali ketika ia datang.

Aku bahkan tidak benar-benar mengingat kapan pertama kali mendengar lagu mereka. Yang masih kuingat adalah sebuah malam ketika aku memilih untuk tidak sepenuhnya jujur kepada orang tuaku demi menonton sebuah konser. Sebuah keputusan kecil yang mungkin terdengar konyol jika diceritakan sekarang. Aku datang sebagai seorang anak yang sedang menyembunyikan satu malam dari rumahnya, lalu pulang sebagai seseorang yang menemukan rumah lain, rumah yang tidak memiliki pintu, alamat, atau dinding. Mungkin semuanya bermula dari sana. Dari sebuah malam yang pada awalnya hanya ingin kulewati dengan musik, tetapi justru menyisakan sesuatu yang jauh lebih lama daripada bunyi yang terdengar malam itu.

Lampu belum sepenuhnya padam ketika banjo mulai dipetik. Fiddle menyusul, menggores udara malam dengan melodi yang terasa seperti membawa serpihan negeri jauh ke Yogyakarta. Drum menghantam, gitar meraung, suara manusia berhamburan ke udara, dan dalam hitungan detik batas antara panggung dan penonton seperti luruh. Orang-orang bernyanyi tanpa malu, saling merangkul, menari, melompat, crowd surfing, atau sekadar berdiri sambil tersenyum. Manusia memang memiliki begitu banyak cara untuk mengatakan bahwa ia bahagia. Malam itu, kebahagiaan tidak membutuhkan bahasa.

Aku berdiri di tengah kerumunan dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak merasa berada di antara orang-orang asing. Aku datang sebagai penonton, tetapi pulang dengan sesuatu yang lebih besar daripada kenangan pertunjukan: perasaan telah diterima. Sejak malam itu, aku selalu menyempatkan diri datang setiap kali mereka tampil. Aku membeli tiket dari hasil bekerja, kadang dari uang yang terkumpul setelah seharian bergelut dengan pekerjaan, bahkan setelah lembur yang membuat tubuh terasa seperti benda yang hanya dipinjamkan kepada waktu. Pulang kerja, menempuh perjalanan panjang, datang dalam keadaan lelah dan mengantuk, tetapi tetap ingin menyaksikan my favorite band perform. Agak anjay memang. terkadang ada kebahagiaan yang tidak perlu dibuat masuk akal. Hehe.

Di tengah industri musik yang semakin sibuk mengejar angka streaming, statistik pendengar, algoritma, viralitas, dan berbagai ukuran yang membuat karya mudah diperlakukan sebagai komoditas, The Cloves and The Tobacco mengingatkanku pada fungsi musik yang jauh lebih tua: mempertemukan manusia. Di setiap pertunjukan, aku melihat mahasiswa, pekerja, musisi, seniman, anak-anak punk, orang-orang yang datang sendiri maupun bersama teman. Mereka membawa kehidupan, kegagalan, kecemasan, dan cerita masing-masing. Namun ketika lagu pertama dimainkan, semua itu seperti diletakkan sebentar didepan pintu. Tidak ada yang bertanya siapa kamu atau darimana kamu berasal. Yang ada hanyalah manusia-manusia yang memilih bernyanyi bersama.

Satu suara bertemu suara lain, satu tubuh bergerak mengikuti tubuh yang lain, dan perlahan malam seperti menenun dirinya sendiri dari ratusan kehidupan yang berbeda. Dari situlah aku sering berpikir, mungkin inilah bentuk kebahagiaan yang paling jujur. Ia tidak membutuhkan slogan, panggung politik, atau spanduk. Di situlah musik menjadi lebih dari musik: ia menjadi rumah. Sebab rumah, bukan selalu berbentuk bangunan. Ia bisa berupa lagu, kerumunan, suara banjo dari kejauhan, atau seseorang yang tidak kita kenal tetapi mengulurkan tangan ketika kita jatuh. Rumah bisa berupa ratusan manusia yang bernyanyi dalam satu napas, seolah selama beberapa menit dunia berhenti menjadi tempat yang asing. Dan mungkin, rumah adalah segala sesuatu yang membuat kita tidak merasa sendirian.

Terima kasih, The Cloves and The Tobacco. Bukan hanya karena kalian menciptakan lagu-lagu yang indah atau membuat malam terasa lebih hidup, tetapi karena tanpa kalian sadari, kalian telah menciptakan ruang kecil bagi banyak orang untuk beristirahat dari dirinya sendiri. Termasuk aku.

Kalian mungkin tidak pernah tahu berapa banyak orang yang datang dengan hati yang retak lalu pulang dengan retakan yang sedikit lebih rapat. Kalian mungkin tidak tahu berapa banyak orang yang membawa lelah dari tempat kerja, kegagalan dari kehidupan, dan kecemasan dari masa depan, lalu menitipkannya sebentar kepada musik kalian. Mungkin kalian juga tidak tahu bahwa ada seseorang yang rela menempuh perjalanan panjang setelah bekerja seharian hanya untuk berdiri di tengah kerumunan dan menyaksikan kalian bermain.

Dan mungkin kalian tidak akan pernah membaca tulisan ini. Beberapa rasa terima kasih memang tidak membutuhkan balasan. Cukup dituliskan, lalu dibiarkan hidup di antara kalimat-kalimat.

Jika suatu hari seseorang bertanya mengapa aku begitu mencintai The Cloves and The Tobacco, aku tidak akan menjawab karena banjo, fiddle, tin whistle, atau energi punk yang dibawanya. Aku juga tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang genre atau sejarah mereka. Aku mungkin hanya akan mengatakan “karena di tengah dunia yang semakin pandai membuat manusia merasa asing, The Cloves and The Tobacco pernah membuatku merasa memiliki rumah untuk pulang.”

Rumah yang dibangun dari lagu-lagu, peluh yang bercampur tawa, suara-suara yang bertaut dalam kerumunan, tangan-tangan yang saling menjaga, dan perasaan sederhana bahwa malam itu, setidaknya, kami tidak sendirian. Mungkin suatu hari nanti aku akan terlalu tua untuk berdiri berdesakan di depan panggung. Mungkin kakiku lebih cepat lelah, tubuhku tidak lagi sanggup melompat mengikuti lagu-lagu yang dulu membuatku lupa waktu. Mungkin suatu hari aku hanya akan mendengarkan rekaman mereka dari kamar yang sunyi, sementara dunia di luar jendela terus bergerak. Tetapi aku percaya, ketika nada pertama itu kembali terdengar, sebagian dari diriku akan selalu kembali menjadi perempuan yang pernah berdiri di tengah kerumunan pada sebuah malam, dengan jantung berdebar dan kebahagiaan yang belum mampu kuberi nama. Sebab ada tempat-tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Ia hanya berpindah bentuk: menjadi kenangan, menjadi lagu, menjadi gema, menjadi sesuatu yang diam-diam kita bawa ke mana-mana.

Dan barangkali, begitulah sebuah rumah bekerja. Ia tidak selalu menunggu kita di satu tempat. Kadang ia ikut berjalan bersama kita. Kadang ia bersembunyi di dalam sebuah lagu. Kadang ia muncul ketika kita sedang paling tersesat. Ketika dunia terasa terlalu bising, terlalu asing, terlalu panjang untuk dilalui sendirian, kita hanya perlu mendengarkan baik-baik. Barangkali dari kejauhan masih terdengar banjo yang dipetik, fiddle yang menggesek malam, dan ratusan suara yang bernyanyi. Lalu di antara semuanya, ada satu suara kecil dari dalam diri kita sendiri yang berkata: pulanglah. Sebab bagi sebagian orang, The Cloves and The Tobacco mungkin hanya sebuah band. Tetapi bagiku, mereka adalah rumah yang selalu bernyanyi.


Penulis: Novia Eka Mardani
Editor:
A.


Posting Komentar untuk "Membaca The Cloves and The Tobacco sebagai Rumah Bernama Musik"