Memori: Barisan Tak Terkenang
Bambang Setiawan adalah nama yang patut tercatat di bulan Agustus 2026. Ia bekerja sebagai penjual cermin, tetapi nyawanya terenggut oleh sebab yang tak pernah terpikirkan siapa pun. Ia tak akan dikenang oleh lembaga arsip nasional atau mereka yang punya wewenang mengajukan seseorang menjadi pahlawan nasional. Bambang Setiawan adalah catatan kolektif. Jelas ia tidak akan tertulis di dalam buku sejarah. Tetapi, ia hidup di antara panas dan berjubelaya manusia di jalanan yang riuh.
Kematian Bambang Setiawan diduga akibat penyiksaan yang dilakukan oleh ormas yang konon hendak mengamankan kota dari demonstrasi. Bagaimana mungkin sebuah perkumpulan yang mengatasnamakan diri organisasi masyarakat mengambil tugas yang seharusnya dilakukan lembaga lain? Mari kita berpikir ulang, kota diamankan dari demonstrasi? Oleh ormas?
Peristiwa yang dialami Bambang Setiawan terjadi tepat setahun setelah Affan Kurniawan meninggal pada 2025 lalu di tengah prahara Agustus. Berkat sebuah mobil rantis, Affan, seorang pekerja ojek daring, kehilangan nyawanya. Tak ada lembaga arsip yang mencatat nama orang-orang seperti Bambang atau Affan. Karena mereka bukan siapa-siapa. Bukan seorang presiden, keturunan raja, atau akademisi kondang.
Narasi bukan siapa-siapa akan terus berulang di Kacamata Leluasa. Sebab, hanya dengan begitu ingatan akan terus terawat. Mungkin akan terdengar membosankan, terasa tak berkembang, tetapi bagaimana bila memang tiada yang mencatat nama mereka? Bambang dan Affan memberikan keringat untuk keluarga. Untuk hidup. Tetapi, nyawa mereka justru terenggut meski tidak terlibat apa pun.
Kepercayaan yang coba terbangun di antara kekuasaan dan arus pinggiran semakin melebar. Berjarak. Sulit mendapatkan titik temu. Bahkan, harapan-harapan yang mulanya terdengar indah, justru lebih terasa kosong. Melalui keadaan semacam itu, rasa aman yang bagaimana bisa kita titipkan untuk mencapai kelayakan?
Sementara, kita merasa bahwa rasa aman mesti dibangun sendiri. Jarak yang semakin melebar seperti tak memberi ruang keamanan yang ideal. Kalau di sebuah forum diskusi, bagaimana bila sebuah pertanyaan muncul: apa yang paling kita butuhkan?
Jelas. Hari ini yang kita butuhkan adalah keamanan. Keamanan yang dibangun karena tafsir “adil” yang universal, bukan karena ketakutan. Mengacu kepada KBBI VI Daring, lema adil memiliki tiga pengertian: (1) sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak: keputusan hakim itu (2) berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenara (3) sepatutnya; tidak sewenang-wenang.
Hari-hari ini “adil” sangat melekat dengan wicara publik orang-orang berotoritas. Mulai dari sambutan suatu acara dengan menyebutkan program-program tertentu tanpa melihat apakah selaras dengan konteks acaranya, pidato berapi-api yang mengatakan bahwa kebijakan sudah berjalan baik untuk hajat hidup orang banyak, serta pelekatan “adil” pada beragam peristiwa formil lainnya.
Di tengah zaman ketika semua orang bisa berbicara virtual: warganet, pendengung, dan pemengaruh, ada posisi yang berseberangan dengan otoritas lalu dianggap pembenci, perusak, atau pengacau keadaan. Tetapi, apakah demikian tepat ketika keterbukaan menjadi dasar kehidupan bersosial kita. Sementara kondisi layak untuk hidup, masih jauh betul dari harapan.
Maka, keniscayaan yang terjadi atas jalan yang kita pilih adalah berisik. Mengingatkan bahwa tak perlu jauh-jauh mencari makna dan konteks “adil”. Cukuplah membuka kamus lalu mencari pengertiannya, kemudian menengok kanan-kiri, apakah bahasa yang sering digunakan di pelbagai ruang publik itu sudah menjadi praktik utuh?
Sebab berbicara berbusa-busa sebagai otoritas namun kondisi di lapangan tidak sejalan, maka hanya bualan belaka jadinya. Seno Gumira Ajidarma, lewat Orang Makan Orang (2024) menyebutnya dengan “Budaya Kibul”. Saat manusia menggunakan kuasa otoritasnya untuk mengeksploitasi atau menguasai orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Dalam konteks ini, mematikan orang lain atas nama diri sendiri.
Kibul-kibulan ini terjadi di tengah kondisi yang memang tidak ideal. Saat orang lain lapar, yang dilakukan orang-orang yang merasa memiliki otoritas ini adalah ceramah bahwa kehidupan khalayak harus kenyang dan sebagainya tanpa melakukan apa pun. Dan, biasanya praktik semacam ini enggan diakui sebagai bentuk budaya. Sebab, budaya harus adiluhung dan tidak tersentuh ide-idenya. Jauh berada di langit-langit. Sayangnya, di sana, sudah penuh dengan sawang. Tidak pernah dibersihkan.
Persis seperti makna kontekstual “adil” dalam realitas sehari-hari yang tidak menemukan juntrungannya. Hari di mana organisasi masyarakat diduga merenggut nyawa orang lain. Saat di mana “trah” adalah jalur menuju kekuasaan atas nama bibit, bebet, bobot. Waktu di mana stabilitas melekat dengan makna ketakutan. Kesemua itu menghadirkan situasi yang gamang. Tentang hari ini.
“Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” ketik K.H. Mustofa Bisri sebagai puisi pada 1987.
Puisi Bisri isinya penuh dengan pertanyaan. Menyoal segala hal yang gamang. Ketidakselesaian permasalahan sosial-kolektif yang terus menumpuk. Dan, tidak terselesaikan dengan baik. Karena itu, jika ada air mata yang menetes terus-menerus, maka usapan hanyalah lapis pertama penyelesaian. Sementara, pertanyaan mengapa air mata itu bisa keluar tanggal.
Begitulah, kondisi hari ini. Istana terus berpesta. Mereka yang mencangkul, menarik ojek, bekerja di pabrik terus diperas. Atas nama pajak dan kemajuan meski jalan berlubang dan tidak rata. Meski ide pendidikan menjulang tetapi sekolah reyot. Meski tidak bergizi disebut bergizi. Meski koperasi tetapi tidak menghidupi. Meski adiluhung tetapi tidak luhur.
...Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana.
Tengah hari sangatlah terik. Pertanyaan yang dilandasi “bagaimana” sudah berkelindan penuh. Saat terang, ternyata pertanyaan sudah seperti tengah malam. Mengingat waktu dan keadaan, artinya tak ada pilihan. Bambang Setiawan dan Affan Kurniawan memberi pelajaran dasar. Tidak tentang heroisme atau patriotisme. Ketika nyawanya direnggut, ia sedang mencari nafkah untuk keluarganya atas nama cinta. Tetapi tidak mendapat perlindungan sebagaimana seharusnya.
.png)
Posting Komentar untuk "Memori: Barisan Tak Terkenang"
Posting Komentar