Dengar Kota: Terdengar Lebih, Lebih Terdengar

Foto: A.

Dengar Kota merupakan platform yang dibuat untuk mewadahi aspirasi musisi yang berada di Surakarta. Hal ini juga sebagai media arsip untuk teman-teman dalam berkarya. Membawa tagline “terdengar lebih, lebih terdengar” menjadi salah satu tujuan acara ini dibuat, tagline tersebut ditujukan untuk membawa musik Solo Raya agar dapat dikenal entah di Solo Raya ataupun keluar daerah Solo Raya itu sendiri.

Dengar Kota kali ini (24/7) digelar di sebuah coffee shop yang cukup terkenal disolo yaitu Bahagia Bersama. Acara ini dimulai kurang lebih pada pukul 20.30, waktu untuk mulai lumayan mundur dari poster yang disebarkan. Jalannya diskusi hari ini dipimpin oleh Fajar Dwinanto. Sistem diskusi kali ini cukup unik, di mana tidak ada pembicara pasti dan hanya mengandalkan peserta yang hadir pada malam itu. Hal tersebut menjadikan diskusi ini bisa menjangkau keresahan dan aspirasi dari pengunjung yang hadir. Beberapa teman-teman pelaku musik turut hadir dalam diskusi, ada dari Cody and The Real Life (CTRL), Silversky, Car Crash Coma,  Mess In Balance, 1978 kost, Fluxx, The Logic, dan The Pist yang akan mengisi panggung kecil di acara ini. Tidak hanya pelaku musik, rekan-rekan media turut hadir, ada Leluasa, Youth Entertainment, dan Santgigs.

Dimulai dari pertanyaan “apa sih yang menjadi keresahan teman-teman hari ini?”, diberikan kepada Isabel (CTRL), ia menjawab di Wonogiri mempunyai keterbatasan dalam partisipasi dalam mengikuti kegiatan-kegiatan dari kolektif, disisi lain sudah mulai banyak kegiatan aktivasi di daerahnya. Selain itu, teman-teman di Wonogiri kesulitan mendapatkan akses ruang aktivasi karena kurang cocok dengan venuenya. Ia juga mention bahwa banyak band-band baru di Wonogiri.

Dian (Leluasa) menambahkan, di Sukoharjo masih banyak komunitas yang masih aktif dan banyak juga gelombang baru dari perkembangan musiknya. Sama seperti di Wonogiri, teman-teman Sukoharjo juga kesulitan dalam mengakses ruang aktivasi, akhirnya banyak band-band tour yang terlempar ke daerah lain. Menurutnya tempat menjadi keresahan klasik yang belum bisa ditangani hingga hari ini. Hal tersebut mungkin karena ada beberapa pengalaman dari teman-teman kolektif yang menimbulkan stigma, bahwa kolektif hanya memikirkan keuntungannya sendiri. Kurangnya transparansi dana dan kurangnya komunikasi menjadi faktor hal tersebut terjadi.

Lanjut dari teman-teman The Pist, mereka mendapati keresahan berupa ketidak percayaan diri dihadapan teman-teman “senior”. Hal tersebut muncul pada saat mereka tampil di City of Laboratory, mereka tidak percaya diri jika disandingkan oleh band-band yang mempunyai nama lebih besar. Drummer mereka merasa masih mempunyai skill yang belum pantas jika berada satu panggung dengan mereka.

The Pist | Foto: A

Dandy (Car Crash Coma) menanggapi, bahwa ia dulu juga merasa seperti itu ia merasa tidak punya power untuk untuk gabung dengan senior-senior. Namun, ia memberanikan diri untuk memulai percakapan dan gabung dengan senior-senior. Hal tersebut dianggapnya sebagai salah satu cara untuk how to grow in underground. Walaupun merasa relate dengan adanya gap tersebut, ia menganggap hal tersebut harus diputus.

Berbeda dengan The Pist, 1978 kost melihat ekosistem  yang berada di Solo merangkul band-band baru dan justru membantu mereka. Mereka tidak merasa adanya gap antar generasinya. Mereka tidak takut jika tampil di panggung besar, mereka menganggap panggung besar merupakan sebuah momentum untuk mengenalkan band mereka. Senada dengan 1978, Mess In Balance menambahkan bahwa ekosistem di Solo sudah bagus dan harus bring it back rock and roll. Ditanggapi Landhung (City Of Laboratory) sebagai kurator mengenai mengapa ia tertarik mengulik 1978, karena ia mempunyai respect dengan band-band di Solo dan ia juga suka genre yang dibawakan (alternatif), serta mereka juga aktif dalam konten dan berjejaring.

Beranjak ke pertanyaan selanjutnya, “kenapa band-band sulit tembus ke panggung festival?”. Dandy Menanggapi bahwa mungkin banyak kurator musik yang sedang tertarik dengan band-band Jawa Timur. Ia menambahkan jika ingin tembus ke panggung festival, teman-teman harus banyak melakukan tour dan memperbanyak  jaringan. Menurutnya harus berjuang lebih bahkan jika mereka harus dibayar dengan fee yang tidak sesuai.

Beralih ke Landhung, ia melihat bahwa banyak alasan band itu lahir ada yang terlahir untuk komersial/industri dan ada juga band yang lahir hanya untuk bersenang-senang. Ia melihat bahwa kurator hari ini tidak hanya melihat dari segi musiknya saja, tetapi mereka juga melihat dari keunikan dalam aktivasi mereka. Ia juga melihat banyak band yang belum bisa mendeliver perasaan mereka ke panggung. Walaupun tidak berorientasi festival, Silversky menambahkan variasi komunikasi di atas panggung juga penting, seperti yang mereka lakukan, mereka mencoba memberikan suasana tearikal dalam aksi panggungnya

Beralih topik mengenai “mengapa media sekarang banyak yang hanya copas-copas saja, dan apakah mereka juga belum tau fungsi media partner?”

Naufal (Youth Entertainment) menjawab mengenai kenapa sekarang sekedar share, karena mereka terlalu banyak mendapat event sedangkan mereka kekurangan main power, sehingga mereka kurang fokus pada satu hal. Lanjut ke Niko (Santgigs). Mereka mengaku bahwa untuk press rilis hanya copas-copas saja pada awalnya. Mereka merasa belum ada kapasitas untuk mengulik rilisan band tersebut.

Dian menjawab pada awalnya ia juga tidak paham masalah media partner.  Karena Leluasa bermula dari teks/kepenulisan, Dian melihat bahwa media partner ini bisa masuk dalam blog Leluasa dalam bentuk tulisan. Dian menambahkan, bahwa di blog Leluasa tidak ada batasan atau struktur resmi yang menjadi standar utamanya. Karena Leluasa ingin mewadahi keresahan dan bakat teman-teman. Berfokus di Solo Raya, Dian menegaskan “mungkin banyak orang melihat terlalu jauh di jakarta dan bandung tapi mereka lupa sebenarnya ada banyak hal menarik yang bisa ditulis dari sekitar kita”.

Foto: A.

Beralih dari media, “apa yang harus dicantumkan dalam sebuah showcase agar tidak hanya penampilan musik”. Saya lupa nama yang menjawabnya, namun saya ingat garis besar jawaban mereka. Ada usulan untuk aktivasi dalam bentuk talkshow, hal tersebut dicantumkan agar mereka bisa lebih mengenal sebuah band. Ada juga usulan mengenai pameran, entah dalam bentuk foto ataupun lukisan, dengan menyilangkan dua elemen seni dianggap sebuah eksperimen untuk memperkaya warna dalam sebuah showcase.

Pertanyaan terakhir, “apakah submit lagu ke radio masih perlu atau masih relevan hingga saat ini?”. The Logic menjawab bahwa submit di radio masih menjadi hal relevan untuk hari ini, mereka beranggapan radio masih didengar oleh banyak orang entah sedang menyetir di perjalanan ataupun sebagai teman dalam beraktivitas.

Di balik jalannya diskusi, Mamad selaku penggagas acara menjelaskan bahwa Dengar Kota merupakan sebuah platform yang lahir dari beberapa kota dengan tujuan membangun movement agar karya musisi, kolektif, dan pelaku kreatif tidak berhenti sekadar diciptakan, melainkan benar-benar didengar oleh lebih banyak orang. Alasan memilih band-band Solo sebagai fokus acara kali ini, menurutnya, sejalan dengan keinginan agar Solo tidak hanya menjadi penonton di kotanya sendiri, melainkan mampu berdiri sejajar bahkan "menjadi raja" di antara kota-kota lain, sekaligus menjadi pemantik agar band-band Solo lebih didengar oleh teman-teman dari daerah lain. Mamad juga menegaskan bahwa Dengar Kota terbuka bagi siapa pun dan kolektif mana pun, meski tetap melalui proses kurasi lewat mekanisme showcase, melalui program kolaborasi dengan Go Ahead yang memberi ruang bagi setiap kolektif untuk menawarkan konsepnya masing-masing sebelum dikurasi lebih lanjut. Sedangkan “bagaimana konsep yang diperlukan acara ini?”, ia menjawab  hanya kolektif sendiri yang bisa menjawab dari kebutuhan movement ini”. Baginya, program ini adalah jembatan bagi teman-teman kolektif untuk terus berkarya, sekaligus menjawab kebutuhan yang tidak bisa dijawab dalam satu malam saja, melainkan akan berlanjut melalui movement-movement berikutnya.

Sementara itu, Fajar yang memimpin jalannya diskusi malam itu mengaku bahwa momen berkumpulnya teman-teman yang beririsan dengan dunia musik ini merupakan salah satu impiannya sejak dulu, dan menurutnya program semacam ini perlu lebih sering digelar agar teman-teman tidak lagi meraba-raba arah gerak mereka sendiri. Dengar Kota, katanya, menjadi jembatan bagi keresahan-keresahan yang selama ini dipendam oleh pelaku musik di berbagai daerah. Menanggapi kondisi generasi musik hari ini, ia menyoroti bagaimana anak-anak muda kini banyak menjadikan local heroes sebagai panutan dalam berkarya.

 

Penulis: Fadiel Permana Rizky, mahasiswa program studi S1 - Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saat ini sedang magang di Leluasa.

Editor: A.