Perilisan dan Bedah Buku Lampu Apill: Musik dan Persimpangan di Dialog Kopi Sukoharjo

Foto: Dok. Egi

Suatu program yang dihadirkan oleh Leluasa bertajuk Ngobrol Leluasa ke-10, sekaligus perayaan rilis buku Lampu Apill: Musik dan Persimpangan yang ditulis oleh Rudi Agus Hartanto. “Lampu Apill adalah sebuah pengertian yang selalu ada di perempatan dan menjadi tempat kita untuk melihat segala hal, Kalimat yang menjadi closing statement (boso gaul e) dari Rudi untuk mengakhiri sesi bedah bukunya.

Acara berlangsung di Dialog Kopi, Sukoharjo (25/06). Tempat yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk berbincang dengan teman-teman. Ditemani oleh riuhnya jalan raya yang sedikit berisik namun tidak menghalangi keberjalanan diskusi buku ini. Karena bukan tentang ruangnya bagaimana tetapi dengan siapa kita melakukannya.

Tak terlalu ramai, acara cukup santai diwarnai gejolak tawa dan gojlokan teman-teman selama sesi acara berjalan. Tidak ada yang harus dalam acara ini, moderator yang apa anane, sesi bedah yang disambi guyonan, acara literasi tapi suasana tetap kaya kumpul bareng kanca-kanca.

Foto: Dok. Egi

Dalam proses penuangan tulisan-tulisanRudi mengumpulkan tulisannya sepanjang 2022-2024. Dalam proses pengkaryaan buku ini menggunakan praktik gotong royong/kerja bakti, nek basa jawane “disengkuyung bareng”. Buku ini berlatar cerita di Sukoharjo dan Solo Raya, sehingga teman-teman (Sukoharjo dan Solo Raya) diajak untuk “ndwue gawe”.

Teman-teman diajak untuk terlibat dalam pengkaryaan ini, juga sebagai upaya advokasi meramaikan karya teman-teman. Salah satu teman yang diajak Rudi dalam proses pengkaryaan ini yaitu Firgiawan Ristantosebagai editor. Egi mengatakan bahwa keterlibatan dirinya dalam proses pengkaryaan ini atas dasar pertemanan, karena ingin berkontribusi dalam ranah pertemanan.

A. Dian dan Egi | Foto: Dok. Egi

Buku ini tidak menceritakan apa dan siapa yang berada di arus utama (populer), namun menceritakan yang berada pada arus pinggiran (kurang mendapatkan sorotan, terpinggirkan, dan terlupakan). Lampu Apill atau kerap disebut bang jo adalah konotasi yang diibaratkan sebagai tempat jeda sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan.

Di era yang selalu berpacu dengan kecepatan, bang jo menjadi tempat untuk berhenti sejenak, istirahat (ambekan), mengamati apa yang ada di sekitar kita. Dalam kehidupan kita tidak harus sama dan mengikuti kecepatan orang lain, semua punya waktu serta proses untuk mencapai tujuannya masing-masing. Itulah pemahaman dan pandangan saya mengenai judul buku ini.

Sesi acara bedah buku dan diskusi yang tidak terus terfokus pada satu hal saja, tetapi juga menyoroti berbagai hal-hal lain turut mewarnai sesi bedah buku ini. Musik yang sangat dekat dengan kehidupan kita, bahkan sangat relevan dalam semua keadaan kehidupan mulai dari bahagia hingga sedih.

Musik yang turut serta sebagai tema pembahasan dan perbincangan di buku ini, tidak hanya bercerita soal musik tetapi juga band-band musik pinggiran (Sukoharjo dan Solo Raya). Musik yang dijadikan sarana advokasi membantu menyuarakan suara-suara yang terasingkan dan terpinggirkan. Buku ini mengadopsi teman-teman band Sukoharjo dan Solo Raya yang hidup pada arus pinggiran, tetapi tetap menyuarakan suara dan selalu hidup dalam ruang mereka sendiri.

Bedah buku dan diskusi selesai. Melanjutkan pada sesi wajib dalam sebuah acara yaitu foto bersama teman-teman yang ikut meramaikan dan merayakan. Tentu acara tidak selesai sampai di situ. Banyak dari teman-teman yang hadir saling menyapa, bercengkrama, saling berbagi cerita dengan teman-teman lamanya. Suasana yang terjalin cukup hangat, gojekan-gojekan yang menghadirkan tawa dan tak terasa obrolan itu berlangsung sampai larut malam.

Itulah cerita dan pandangan dari saya setelah menghadiri acara ini. Mendapatkan banyak ilmu baru dan tentu saja mendapat banyak teman baru yang bisa saya jadikan pengalaman dan cerita saya kelak.



Penulis: Aditya Sambodo Aji, mahasiswa program studi S1 - Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saat ini sedang magang di Leluasa.

Editor: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Perilisan dan Bedah Buku Lampu Apill: Musik dan Persimpangan di Dialog Kopi Sukoharjo"