Hidup Memang Kumpulan Ketidaktercapaian, tapi Setidaknya Kita Masih Punya Kata 'Setidaknya'
Jika kelak, di usia dua puluh lima
tahun kita masih menjadi anak yang lebih sering membawa kabar "nanti"
daripada "sudah". Ditambah rambut orang tua kita semakin menipis
seperti alarm yang mengingatkan tentang waktu bersama yang kian habis. Namun,
setidaknya kita masih memiliki waktu untuk duduk dan mendengar cerita-cerita
yang dulu terburu-buru kita tinggalkan.
Jika kelak, di umur dua puluh tujuh
tahun kita memahami bahwa tidak semua orang yang pernah berjalan bersama akan
sampai di tujuan yang sama. Lalu satu per satu nama berubah menjadi kenangan,
percakapan berubah menjadi arsip, dan kedekatan berubah menjadi kabar sesekali,
setidaknya kita masih memiliki jejak-jejak perjumpaan yang pernah membuat hidup
terasa lebih hangat.
Jika kelak, di umur tiga puluh
tahun nama kita masih belum tertulis di mana-mana. Belum menjadi alasan
seseorang memulai langkah, belum menjadi cerita yang diceritakan ulang, belum
menjadi jejak yang membuat dunia sedikit berbeda, setidaknya kita tidak pernah
berhenti mencoba meninggalkan bekas.
Kalau ada banyak alasan untuk
mengumpati hidup, setidaknya kita masih memiliki kata "setidaknya".
Kata kecil yang menyelamatkan kita dari putus asa. Kata yang mengingatkan bahwa
di antara segala yang hilang, selalu ada sesuatu yang tersisa. Dan
kadang-kadang, sesuatu yang tersisa itulah yang membuat kita sanggup bertahan
sedikit lebih lama.
Barangkali, ada mimpi-mimpi yang
tak menjumpai titik capainya. Bukan karena kita terlalu malas. Bukan karena
kita terlalu payah membaca kemungkinan. Bukan pula karena kita kurang lama
mengetuk pintu-pintu kesempatan. Kadang-kadang, hidup hanya membagikan jarak
yang berbeda antara seseorang dan peluang. Ada yang lahir tepat di depan pintu.
Ada yang harus berjalan berkilometer-kilometer hanya untuk menemukannya.
Dalam sepak bola, kita sering
mengagumi pemain yang berdiri di bawah sorot lampu stadion yang sama. Padahal,
tidak semua dari mereka menempuh jalan yang sama untuk sampai ke sana. Phil
Foden tumbuh dalam ekosistem sepak bola yang nyaris ideal: masuk akademi
Manchester City sejak kecil, berlatih dengan fasilitas terbaik, dibimbing
pelatih terbaik, dan berkembang dalam sistem yang memang dirancang untuk
menemukan serta mengasah bakat.
Kisah yang berbanding terbalik
berasal dari pemain-pemain Amerika Latin. Sebagai misal, Raphinha tumbuh di
Restinga, kawasan favela kumuh di Porto Alegre, Brasil. Sebelum bermimpi
tentang stadion-stadion besar Eropa, ia lebih dulu harus memenangkan
pertandingan melawan keterbatasan yang tidak pernah tercatat dalam statistik
pertandingan profesional. Di Brasil, Raphinha sering mengikuti Várzea,
sejenis sepak bola tarkam yang identik dengan permainan jalanan yang keras,
tanpa aturan ketat, penuh improvisasi, dan minim fasilitas yang memadai. Bahkan
Raphinha berjudi untuk tidak bersekolah formal demi mengejar cita-citanya.
Tentu saja, Phil Foden tetap harus
bekerja keras untuk menjadi pemain hebat. Namun, kisah mereka mengingatkan kita
bahwa kerja keras tidak selalu dimulai dari garis yang sama. Ada orang yang
lahir beberapa langkah dari peluang. Ada pula yang harus berjalan
bertahun-tahun hanya untuk menemukan pintu tempat peluang itu berada. Dan,
ternyata tidak semua orang gagal karena kurang berusaha. Sebagian hanya harus
menempuh jarak yang lebih panjang menuju kesempatan. Dan kadang-kadang, jarak
itulah yang mengubah nasib seseorang.
Dalam buku Guns, Germs, and
Steel (1997) seorang ahli geografi dan fisiologi, Jared Diamond menjelaskan
bahwa tempat tinggal sangat memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakatnya.
Lokasi fisik yang tepat memungkinkan kemudahan akses terhadap pendidikan dan
kesehatan. Dan dengan mudahnya akses-akses, seseorang dapat lebih mempercepat akselerasi
kesejahteraan hidupnya. Sebaliknya, seseorang yang sudah tertinggal perlu
melipatgandakan usahanya agar tidak semakin diam di tempat lalu terkubur.
Melihat kondisi di sekitar sini dan
di waktu ini, rasanya kita sepakat bahwa kita semakin jauh dari peluang. Namun,
mengakhirinya dengan sengaja tentu bukan sebaik-baik pilihan. Sebagai pendengar
band D.O.S.A., setidaknya ada satu pesan yang terus mengena, “Kematian adalah
hak prerogatif yang hanya dimiliki Tuhan.”
Lagipula, ada banyak alasan untuk
melanjutkan hidup. Sebagian bersifat pribadi: orang tua yang masih ingin kita
bahagiakan, sahabat yang masih ingin kita temui, atau mimpi yang belum sempat
kita coba sekali lagi.
Sebagian yang lain bersifat
kolektif: menyaksikan negeri ini menjadi lebih baik daripada hari ini. Melihat
pendidikan lebih mudah dijangkau. Melihat kesempatan tidak hanya beredar di
tempat-tempat tertentu.
Dan sebagian lagi bersifat
kemanusiaan: melihat bangsa-bangsa yang hidup dalam ketertindasan akhirnya
memperoleh kemerdekaannya. Ya, sebagai misal. kalau boleh memilih sebetulnya
saya tidak ingin mati sebelum melihat Palestina merdeka. Selalu menyenangkan ketika
mendengar kabar ketidakadilan telah berakhir.

Posting Komentar untuk "Hidup Memang Kumpulan Ketidaktercapaian, tapi Setidaknya Kita Masih Punya Kata 'Setidaknya'"
Posting Komentar