Mengingat Kembali Jalan Berlubang

Gambar diolah oleh A.

Semasa kecil, dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kita teramat takjub dengan pohon pisang. Pohon yang sering diremehkan karena dicurigai menjadi tempat bermukimnya para hantu itu ternyata menyimpan manfaat yang tidak hanya untuk dirinya sendiri. Dari hulu akar hingga ujung daun, pohon pisang menyimpan segudang manfaat. Akarnya konon dapat dijadikan obat pencernaan, batangnya dapat dijadikan pakan ternak, buahnya dapat dijadikan solusi atas asam lambung, dan daunnya dapat dijadikan bungkus makanan. Namun, ada satu lagi kegunaan pohon pisang di tengah derasnya musim penghujan: sebagai penambal jalan berlubang.

Di tengah banyaknya jalan berlubang yang ditambal dengan alasan, hadirnya pohon pisang adalah penanda suara perjuangan dari masyarakat. Seperti di hari-hari lalu, dikutip dari laman Detik Jatim, masyarakat Tulungagung menumbuhkan denyut hidupnya dengan menanam pohon-pohon pisang di jalanan Kecamatan Ngunut (15/2/2026). Dari prosesi penanaman itu, masyarakat mengingatkan tentang janji-janji dari sosok liyan yang hilang ditelan angin muson barat. Pohon pisang seolah menjadi simbol harapan dan kepedulian di tengah hari-hari yang disibukkan dengan mode bertahan hidup atau dalam bahasa lain disebut survival.

Harapan dan kepedulian adalah dua hal yang mahal akhir-akhir ini. Namun, semahal-mahalnya kedua barang tersebut, harapan dan kepedulian memanglah harus terus disebarkan. Sebab, seperti benda ajaib bernama ilmu, harapan dan kepedulian yang dibagi tidak akan berkurang. Mengutip puisi “Derai-Derai Cemara” karya Chairil Anwar, rasanya harapan dan kepedulian adalah dua barang yang dapat menunda kekalahan. Kekalahan-kekalahan yang datang walau kita sudah sedemikian terlatih terjebak dalam mode survival.

Tidak ada yang mudah di hari ini. Selain harus menghafal jalan-jalan berlubang sepulang kerja, kita masih harus mengingat betapa banyaknya mimpi yang gugur bersama getaran sekrup motor di jalan berlubang. Menghafal jalan berlubang ternyata bukan sekadar urusan keselamatan. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana kita dibentuk oleh ketidaksempurnaan yang ternyata terus dibiarkan.

Jalan berlubang hanyalah satu dari segunung persoalan kita di bulan Februari ini. Rasanya, hadirnya Hari Kasih Sayang dan tibanya Bulan Suci belum cukup menghangatkan hari-hari kita yang gigil. Sebagai misal, kita turut merasakan dinginnya air ketika permukaan laut meninggi sehingga perlahan merenggut lahan pemakaman di Timbulsloko, Demak, Pantura. Peristiwa ini pernah diabadikan Majelis Lidah Berduri dalam sampul album Hujan Orang Mati yang diluncurkan pada akhir 2024 lalu.

Hampir dua tahun dari karya itu, dan suara-suara dari mereka yang terlupakan masih saja terendam. Momen nyadran, yang berupa ziarah kubur jelang Ramadan untuk mengingat mereka yang telah pergi, nahasnya harus terhalang oleh cobaan dari krisis iklim. Bulan Sya’ban atau bulan Ruwah, yang biasanya menjadi bulan milik para arwah, seolah perlahan-lahan dipaksa terlupakan. Dalam serentetan agenda senjata pelupa masal dari para liyan, beruntungnya kita masih sudi saling mengingatkan. Mengingat memang bukan perkara yang selalu indah, tetapi mengingat adalah sebentuk laku bahwa manusia seharusnya menjadi makhluk yang tak mudah berkhianat.

Satu ingatan duka yang lain jatuh di dunia musik punk. Kepergian Adie Indra Dwiyanto alias Babeh Romi the Jahats seolah menguji ingatan-ingatan pendewasaan kita selepas naiknya album Film Murahan dulu. Album bersampul hitam dengan gaya stencil itu sering menjadi rujukan pendewasaan pemuda di medio awal 2010-an. Suara Babeh Romi yang parau, akor yang sederhana, juga lirik yang bernuansa “pinggiran” itu banyak membuat pendengar merasa akrab. Ternyata peluh, kegagalan, dan kebangkitan masihlah formula jitu agar kebahagiaan dapat bertahan lebih lama.

Hujan yang datang tanpa ampun ini seolah membuat karat pada tubuh-tubuh kita yang rentan. Jalan berlubang, pohon pisang, terhimpitnya saudara-saudara kita di Demak, dan kepergian Babeh Romi seakan-akan bertemu dalam satu simpul yang sama: tentang ingatan yang terus diuji oleh kehilangan dan pengabaian. Barangkali kita bisa belajar dari bunga dandelion: yang sedemikian rapuh diterpa angin, tetapi senantiasa bersiasat untuk selalu ada dan berlipat ganda.

“…di hadapan Babilon, bertahanlah sedikit lebih lama, menebarlah serupa dandelion.”

—Morgue Vanguard dalam Konser Rimpang, Efek Rumah Kaca (27/7/2023)


Penulis: Erhan Al Farizi

Posting Komentar untuk "Mengingat Kembali Jalan Berlubang"