Puisi Janji Makan Bersama - Faza Nugroho
Di antara cawan, ampas,
dan laman lowongan kerja
termenung dibuai lamunan
Masih menanti umpan balik
wawancara tempo hari
Seutas pesan masuk
seiring semburat cahaya
menjemput harapan
dari balik kelambu
"Sebelum memaki oligarki baiknya
dan laman lowongan kerja
termenung dibuai lamunan
Masih menanti umpan balik
wawancara tempo hari
Seutas pesan masuk
seiring semburat cahaya
menjemput harapan
dari balik kelambu
"Sebelum memaki oligarki baiknya
mengganti oli gardan.
Tapi, antara memaki
atau tidak, tetap—
di mana bumi dipijak
di situ motor dipajak."
Baru kuingat saat
melongok ke layar
hari ini makin dekat
dengan tenggat
Pagi ini perut kembung
dengan seisi dompet
yang urung berkembang
Kata mereka kerja itu
menyangkut kodrat
pun juga martabat
Kalau boleh jujur,
seporsi martabat
tidak dijajakan
di atas gerobak
Tidak bisa pula ditanak
lalu dilahap bulat-bulat
Kawanku,
hari ini aku turun ke jalan,
sama sepertimu sekarang
Hanya takdir yang beda
Aku menyambung hidup,
kau menyuarakan hidup
Perut kita sama kosongnya,
pikiran penuh, sesak, dan riuh
Tiba di terminal terakhir nanti
kuajak kau ke warung biasa
kita makan bersama
Surakarta, 2024
Tapi, antara memaki
atau tidak, tetap—
di mana bumi dipijak
di situ motor dipajak."
Baru kuingat saat
melongok ke layar
hari ini makin dekat
dengan tenggat
Pagi ini perut kembung
dengan seisi dompet
yang urung berkembang
Kata mereka kerja itu
menyangkut kodrat
pun juga martabat
Kalau boleh jujur,
seporsi martabat
tidak dijajakan
di atas gerobak
Tidak bisa pula ditanak
lalu dilahap bulat-bulat
Kawanku,
hari ini aku turun ke jalan,
sama sepertimu sekarang
Hanya takdir yang beda
Aku menyambung hidup,
kau menyuarakan hidup
Perut kita sama kosongnya,
pikiran penuh, sesak, dan riuh
Tiba di terminal terakhir nanti
kuajak kau ke warung biasa
kita makan bersama
Surakarta, 2024
Penulis: Faza Nugroho, Pemuda Pantura yang tengah berkelana di Yogyakarta.
.
.
.

Posting Komentar untuk "Puisi Janji Makan Bersama - Faza Nugroho"
Posting Komentar