Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 3)

Gambar diolah oleh A.

Yogyakarta, 30 Mei 2045

Agaknya, sebagai semacam mula, aku mesti meminta maaf padamu dulu, Jim, sebab tak lekas-lekas membalas surat yang kau kirimkan beberapa waktu lalu. Aku tahu dan paham, kau tak tergesa dalam menerima suratku; tapi kurasa mesti meminta maaf saja—sebab tak lekas-lekas. Adapun beberapa hari lalu, mesti kurampungkan beberapa pekerjaan.

Ya, meski telah jadi guru senior, dan boleh dibilang sebagai seorang yang telah tua, tetapi pekerjaan tetaplah saja betah mendatangiku, Jim. Jadi, sekali lagi, aku minta maaf; meski kau sama sekali tidak keberatan. Ya, senang pula rasanya kau masih membalas; senang pula membaca tulisanmu yang berkata, roti buatan istriku enak. Amat senang dibuatnya roti-roti kering. Sesekali juga dibuatnya roti basah; dan sangat cocok dimakan kala pagi atau petang. Ah, andai aku punya uang berlebih, pastilah kubelikan dia alat-alat lengkap dan bahan-bahan di atas standar.

Bukankah sering kubilang, Jim, hidupmu diliputi kisah; dan agaknya, jika dikisahkan kembali, orang-orang lebih memilih tidak percaya dibanding percaya. Namun, sebab kau penyair dan pengarang, juga esais, dan kau menceritakan kisah itu kepadaku, bisa dibilang aku percaya—meski tetap menaruh ragu dan curiga di dalamnya. Apa yang bisa dipercaya dari penyair dan pengarang, ya, kan? Akan tetapi, mereka tak pernah benar-benar berbohong; dan lebih pada memelintirkan sejenis kebenaran yang juga samar…

Kukira, jika kau kawin dan beranak, kau bisa jadi sejenis ayah yang baik. Meski juga kupaham, ada sejenis kekhawatiran pada dirimu—sebab sejenis masa lalu. Betapa aku merasa hal yang sama: masih takut dan khawatir dengan tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah, sebagai pemimpin dan seorang yang memberi petuah. Apa yang bisa diharapkan dari penyair, Jim, selain sejenis duka dan derita—yang lebih dalam, lembut, dan tajam?

Ah, ya, andai kau masih cukup lama di rumah janda itu, atau misal di perjalanan selanjutnya bertemu dengan gadis cilik lainnya, kuharap kau berkenan menceritakan mereka kisah seorang penyair yang bahagia—semustahil apa pun itu. Aku kira kau bisa mengarangnya…

Asu memang, kubuka surat ini dengan serangkaian hal yang liris dan melankolis. Apakah aku memang makin tua? Agaknya iya. Asu, asu. Ah, ya, anakku selalu suka mencuri-curi baca buku koleksiku; bahkan yang kuatur sedemikian rupa agar tak dibaca melebihi usianya—tapi selalu gagal. Saat masuk sekolah menengah pertama, aku ingat, dia sudah membaca beberapa buku filsafat, beberapa buku sejarah yang kubeli dengan agak susah payah, juga membaca beberapa buku yang kita garap bersama—di samping buku-buku muram yang ditulis penyair Indonesia.

Saat kubilang, kau adalah kawanku, dia ingin sekali memanggilmu dengan Penyu Jimmi. Saat kutanya kenapa, maka dia akan bilang: Sejauh-jauh penyu berkelana, Yah, dia akan pulang dan kembali ke mana dirinya dilahirkan. Aku kagum dengan ucapan itu, Jim. Namun, soalannya, di tempat yang mana sebenarnya kau dilahirkan, di rahim mana sebenarnya kau lahir sebagai seorang manusia? Kukira, hanya kau yang bisa menjawab. Meski begitu, meski samar, terlebih aku yang mengatakan, mungkin kota kecil bernama Yogya adalah sejenis rumah... sesamar apa pun itu. Asu, betapa melankolisnya diriku, Jim—

Kukira itu dulu, sebab mesti kurampungkan beberapa pekerjaanku. Jika kau masih membalas, mungkin esok akan kukisahi kisah menarik tentang anakku. Kuharap kau berhati-hati, sebab bagaimanapun juga, meski negara tengah hendak menuju seabadnya, selalu ada yang sulit diterka. Tidakkah kau membaca berita dan menontonnya di layar: Ada beberapa gerakan yang mencoba meruntuhkan sesuatu yang sebenarnya masih benih dan kecambah? Doa baikku, Jim. Kunantikan surat-suratmu selanjutnya.

Bersambung...


Penulis: Polanco S. Achri (l. 1998) adalah seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Selain menulis, ia kadang menjadi kurator pameran, sutradara teater, dan produser film dokumenter. Ia bisa dihubungi di Instagram: polanco_achri.


Editor: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 3)"