Terang: Hilang Rentang Jalan
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Hari penuh cipratan lumpur ialah realitas bulan Januari. Saat di mana pekerja berduyun berangkat-pulang menuju-dari tempat kerja, dan di akhir bulan menghasilkan rupiah tak seberapa. Apa yang lebih satire daripada menaruh harapan setinggi langit namun kenyataan berkata lain? Dan, setiap dari kita dihadapkan kemungkinan-kemungkinan: usaha tak menentu.
“...Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah/ dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai/ dan sukmanya berubah menjadi burung kondor...” begitulah sajak Rendra yang terdengar lewat mukadimah album St. Kristo (2012) berjudul Burung Bangkai, garapan Siksa Kubur.
Mukadimah yang mengejawantah pengertian mendalam perihal kerentanan kondisi sosial. Kenyataan yang sering dihadapi mayoritas manusia: rentan, terpinggir, dan nihil catatan. Gambaran utuh bagaimana dunia bekerja, saat tempat minim penerangan, sambat tanpa terdengar, dan suara yang menguar begitu saja. Hilang.
Itulah kadar realitas yang acapkali tampak. Tak ada kemenangan dan kekalahan di sana. Hanya semangat untuk bertahan yang dapat ditemui. Dan, pengetahuan yang sama sekali tanggal dalam pembicaraan. Sebab, pertanyaan melulu berkutat pada: “apa dampaknya bagi kita?” Apakah pertanyaan yang keluar dari kedirian atau kelompok adalah hal yang tidak benar?
Masalahnya, tempat tanpa sorot tak pernah dikunjungi, apalagi didengar. Hal ini semata bukan berkait dengan empati, mereka juga tumbuh, bagian dari dunia. Meski narasinya sama sekali tak besar serupa narasi istana atau keraton atau tokoh tapi kalau mereka memang bagian dari dunia, tentu kenyataan yang ada mesti melihat apa adanya.
Di dunia yang kecepatannya melampaui balapan lintas aspal ini, bertanya tak ubahnya seperti batu. Ada tapi tak penting. Tertimbun dengan segala macam pernyataan yang inginnya menguasai, bukan untuk mendengar. Dan, keriuhan pun bukanlah jawaban selain perang bahasa yang tak pernah usai.
Kepadatan hari dan kekalahan membawa kita pada kabar yang tersiar jauh dari Amerika Utara. Bila ada kisah fiksi tentang kepahlawanan, mungkin kita sudah bosan dengan kisah Robin Hood atau Si Pitung. Namun, kisah yang mirip semacam itu baru saja tersiar dari Kanada. Sebuah kelompok yang menamai dirinya Robins des Ruelles, melakukan pencurian dari sebuah kedai lalu membagikannya kepada kaum rentan urban.
Berkat artikel berjudul Montreal di Harian Kompas (6/02), kita tahu Robins des Ruelles melakukan aktivitasnya. Mereka ingin menyampaikan sikap bahwa apa yang mereka lakukan adalah bentuk tindakan politik untuk melawan naiknya harga pangan di negaranya. Hal ini merupakan kisah yang sepertinya sedang ramai di banyak negara. Dan, yang perlu digarisbawahi bukanlah tentang pencuriannya semata, namun tentang mengapa hal itu bisa terjadi.
Pelbagai analisis dapat kita akses di bermacam tempat. Kisahnya tetap sama. Yang terpinggir adalah angka semata. Statistik mengatakan bahwa tempat itu adalah jarak bagi kemajuan. Setelahnya menjadi batas yang sulit hadir dalam narasinya. Padahal urusan perut semestinya mengambil peran fundamen dalam pengertian kemajuan.
Mungkin, argumen semacam itu hanyalah utopia belaka. Persis dengan pandangan bahwa sebaik-baiknya mereka hilang dari data. Masalahnya bagaimana jika kurvanya terus naik? Penghilangan artinya penghapusan. Sejarah sudah terlampau sering mencatat kenyataan demikian.
Betapa nasib adalah pertaruhan setiap orang. Permainan catur menggambarkan hal itu dengan tangkas. Pion serupa deskripsi nyata mengenai korban. Akan ke mana mereka selain mati di hadapan arahan. Selain lurus, sendhika dhawuh, tanpa tahu harus melangkah ke mana.
Konon, sebelum Mehmed II menaklukan Konstantinopel, selain berlatih pedang, ia bermain catur untuk memerhitungkan kemenangan atas Byzantium. Sampai pada satu titik, ia benar mewujudkan cita-cita para leluhurnya. Menguasai ibu kota Romawi Timur. Agung, besar, dan tersebar ke seluruh dunia kabar itu.
Belum lagi yang lain-lainnya: Bonaparte, Columbus, Magellan, Ceng Ho dan lainnya. Memang tidak ada yang salah dari narasi tersebut yang dipelajari hingga kini. Semuanya baik sebagai pembelajaran. Namun, satu yang kerap tanggal: bagaimana dengan analogi pion dalam permainan catur dari narasi itu? Seperti apa ceritanya?
Apakah mereka merasa menang, kalah, atau justru tak merasakan apa pun? Pertanyaan semacam itu barangkali terdengar bodoh dan tidak berguna. Tetapi, jika memang pertanyaan demikian muncul lantas bagaimana? Apakah pion adalah burung kondor dalam sajak Rendra?
Kugiran death metal asal Jakarta yang sudah jarang terdengar namanya, Lost Another, menulis EP Perang Suci (2009). Sebuah repertoar yang menjelaskan posisi pion dalam setiap perang. Jauh menelusur apa yang diwacanakan Lost Another, akhirnya setiap membicarakan wilayah tanpa sorot bukan hanya tak pernah berujung, namun nihil jawaban.
“…sebuah perang yang musnahkan jiwa/ para manusia tak bersalah…” terang Lost Another tanpa metafora.
Begitulah realitas yang terbangun lewat narasi perang. Kisah di balik kemenangan agung, di balik kekuasaan besar. Pertanyaan akhirnya hadir sebagai tanda terka. Jauh dari pernyataan yang bahkan sekadar membuat mereka benar-benar ada. Apalah arti utang narasi jika memang sesungguhnya tak pernah ada di tengah horizon besar.
Mungkin di tengah kebesaran, mempertanyakan hal kecil dan terbuang adalah kesia-siaan. Namun, di situlah narasi kebertahanan hidup berada. Sekadar kebingungan membagi penghasilan untuk keluarga, tagihan, dan unjuk gaya merupakan kenyataan generasi kiwari. Barangkali itulah perang suci hari ini. Medan laga di hadapan realitas atas nama batas.
Selingan lain ialah membagi waktu bertukar resah. Tentang kondisi tak menentu. Membentuk kesadaran akan bukan siapa-siapa di hadapan sejarah. Ada, sebagai riak-riak kecil di sudut sempit tanggal sebutan agung. Tanpa simbol, bendera, dan catatan. Seperti dokumen tanpa perhatian, yang penting tertandatangani.
Penulis: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Terang: Hilang Rentang Jalan"
Posting Komentar