Rapuh: Rengkuh Rangkul
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Ketika seseorang berhadapan dengan waktu,
rasanya penting untuk menanyakan kabar. Sekalipun akan dianggap sebagai
basa-basi tidak penting atau mengganggu, kita perlu percaya bahwa hari ini
hingga mendatang mengetahui kabar—teman—adalah keputusan subtil. Situasi sedang
demikian, samar tak menentu, dan lebih sering mengejutkan. Sepertinya kita
perlu lebih mendalam untuk membacanya.
Mungkin hari ini adalah saat di mana kita
mudah sekali merasa khawatir. Terutama ketika ingin menyampaikan pandangan.
Betapa rasa aman dan tidak aman seperti tarik-menarik dalam kesekaligusan.
Sebagian besar yang terdengar dari tongkrongan adalah parno, atau dalam
psikologi kita menyebutnya sebagai paranoia.
Lewat KBBI VI Daring, paranoia dijelaskan
sebagai penyakit jiwa yang membuat penderita berpikir aneh-aneh bersifat
khayalan. Masalahnya, penyakit ini tidak hanya dirasakan satu-dua orang saja.
Di media sosial kita menemuinya jamak sekali, dan sepertinya sedang berkelindan
di antara banyak orang. Kenapa?
Di beberapa tempat, samar-samar terdengar
bahwa kita perlu menganggap tidak sedang terjadi apa-apa. Maka, pertanyaan
kenapa mesti dibalas dengan hal lain. Bisa jadi tidak berbentuk argumen.
Misalnya, baca cerpen Tanah Air karangan Martin Aleida, atau Anjing-Anjing
Menyerbu Kuburan garapan Kuntowijoyo, atau yang termutakhir Kapten Hanya
ingin ke Dili dan Orang-Orang Oetimu hasil ketikan Felix K. Nesi.
Coba resapi satu di antaranya.
Bila perasaan yang muncul adalah sama, yang
perlu kita lakukan hanyalah merengkuh dan merangkul sebanyak mungkin teman.
Sebab, dalam keberanian senyatanya juga menyimpan kerapuhan. Lewat kerapuhan
kita akan belajar memetakan kelemahan, yang perlu diperkuat. Kita hanya
memiliki satu sama lain. Tidak lebih, tidak kurang.
“Dan, pasti akan ada yang membumi/ adalah
jawaban dari segala yang kulangitkan….” Jelas Soloensis dengan sangat terang.
Desember 2025 memang sendu bila kita
menengok keadaan. Betapa sekadar menulis takarir di media sosial saja mesti
menimbang serupa kita akan berhadapan dengan pengajuan KUR di bank: lolos atau
tidak, ya? Kita seperti dibuntuti hantu, kita mengenalnya, merasakan
kehadirannya, tetapi tidak tahu di mana. Konon, para ilmuwan sosial-humaniora
menyebutnya sebagai hegemoni.
Sementara itu, status quo seolah menjadi
beku. Tidak lagi dapat diperebutkan. Terkendali. Seperti tak ada celah. Dari
pelbagai sumber, konon anak-anak muda Korea Utara merasakannya. Atau, bila
terlalu jauh permisalannya, anggaplah kita sedang mendengar pernyataan senior:
“kowe cah enom mudeng apa?” Atau “kowe cah enom isa apa?”
Baiklah. Terima saja pernyataan itu.
Rengasdengklok sudah terlupakan. Soe Hok Gie hanya nama saja. Dan, Zack de La
Rocha sekadar vokalis RATM saja. Namun, yang luput dari pernyataan itu adalah
semangat tetaplah menjalar meski dalam bentuk terkecilnya sebagaimana
pertanyaan yang hadir di antara petani Chiapas: “awakmu wis padha maem urung,
Cah?”
Sesuatu yang kecil, subtil, dan penuh
kehangatan. Begitulah bila merengkuh dan merangkul kita hadirkan. Sebentuk
harapan pun setidaknya dapat dipertahankan, sekalipun hal itu berhenti pada
makna umum “hidup”. Ambisi terpaksa tertutup, ide terpaksa disimpan, dan
gagasan lebih baik tak dilontarkan. Hingga pada suatu saat nanti dipertemukan
dan menjadi sesuatu yang besar.
Teralienasi, terhakimi, kalian bukan *sensor oleh penulis*…, kata Seringai. Pada akhirnya kita sadar
bahwa membangun bukanlah hal mudah. Proses panjang itu akan menghasilkan
sesuatu. Bahkan, sekalipun sudah merentangkan waktu, kadang-kadang bangunan
yang terimpikan roboh, hanya karena fondasi yang kurang tepat perhitungan.
Jelas dari pengertian tersebut dapat
ditarik bahwa belajar adalah kunci. Hanya dengan begitu, segala pertanyaan yang
berkelindan memungkinkan mendapatkan jawaban. Sesekali tentu perasaan gamang
akan hadir, sebab kita mesti berhadapan langsung dengan waktu.
Himura Kenshin, dalam setiap sekuel film Rurouni
Kenshin menceritakan proses seorang samurai yang menginginkan hadirnya era
baru. Ia berperang di pelbagai gelanggang pertarungan untuk mencapai tujuannya.
Hingga pada akhirnya mimpinya tercapai. Dan, setelah mewujudkannya, ia
mengganti katananya dengan mata terbalik. Ia tetap bertarung, tapi tidak untuk
membunuh.
Akhirnya, dari pelbagai sumber yang tidak
terkotakkan, kita bisa mengambil pelajaran bersama-sama. Mengujinya satu sama
lain. Dengan begitu, paranoia yang belakangan datang menguasai dapat kita
kendalikan perlahan. Kita tidak bisa menyentuh hantu yang hadir di antara kita
itu. Orang tua kita semasa kecil menjelaskan bahwa hantu tidak bisa disentuh.
Kini kita bersepakat dengan mereka tanpa menawar. Meskipun secara visual,
sungguh berbeda dengan bayangan hantu yang kita kenal.
Paranoia. Sebuah kata yang barangkali
sebelumnya terdengar asing dan jauh dari kita. Sudah berkali-kali kalah dan
terbentur membuat rasanya biasa saja. Kutipan terkenal dari pemikir besar yang
lahir dari Suliki itu benar adanya. Saatnya kita mengibaratkan hidup dengan
pertahanan solid serupa bek asal Italia. Kuat. Dan, tentu saja, kita mengingat
kembali pelajaran sapu lidi yang disampaikan bapak dan ibu guru.
Kehadiran pelajaran dari tempat rural
tetaplah mengantar kita pada pengertian dari yang kalah. Bukan sekadar ekonomi,
politik, dan sosial belaka. Justru lebih sering yang hadir adalah sudut pandang
mengapa kita mesti terus melanjutkan hidup. Berkat pelajaran tersebut, segala
yang mungkin dapat dihadirkan. Karena penghadangan hanyalah bagi orang-orang
yang tak berperasaan.
Desember telah terlewat. Tahun telah
berganti. Arus sedang deras-derasnya. Tak ada yang berubah kecuali semakin
was-was.
Penulis: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Rapuh: Rengkuh Rangkul"
Posting Komentar