Rapuh: Rengkuh Rangkul

Gambar diolah oleh A.
Konon, Desember adalah bulan penutup tahun. Saat di mana resolusi tahun berikutnya jamak berseliweran di pelbagai tempat. Entah akan tercapai atau tidak, hal itu merupakan urusan lain. Kemenangan dan kekalahan mesti sama-sama disambut. Sebab, waktu, tak pernah tertutup bagi siapa pun. Karenanya ia berputar: sesekali mengancam, kadang memberi rasa aman.

Ketika seseorang berhadapan dengan waktu, rasanya penting untuk menanyakan kabar. Sekalipun akan dianggap sebagai basa-basi tidak penting atau mengganggu, kita perlu percaya bahwa hari ini hingga mendatang mengetahui kabar—teman—adalah keputusan subtil. Situasi sedang demikian, samar tak menentu, dan lebih sering mengejutkan. Sepertinya kita perlu lebih mendalam untuk membacanya.

Mungkin hari ini adalah saat di mana kita mudah sekali merasa khawatir. Terutama ketika ingin menyampaikan pandangan. Betapa rasa aman dan tidak aman seperti tarik-menarik dalam kesekaligusan. Sebagian besar yang terdengar dari tongkrongan adalah parno, atau dalam psikologi kita menyebutnya sebagai paranoia.

Lewat KBBI VI Daring, paranoia dijelaskan sebagai penyakit jiwa yang membuat penderita berpikir aneh-aneh bersifat khayalan. Masalahnya, penyakit ini tidak hanya dirasakan satu-dua orang saja. Di media sosial kita menemuinya jamak sekali, dan sepertinya sedang berkelindan di antara banyak orang. Kenapa?

Di beberapa tempat, samar-samar terdengar bahwa kita perlu menganggap tidak sedang terjadi apa-apa. Maka, pertanyaan kenapa mesti dibalas dengan hal lain. Bisa jadi tidak berbentuk argumen. Misalnya, baca cerpen Tanah Air karangan Martin Aleida, atau Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan garapan Kuntowijoyo, atau yang termutakhir Kapten Hanya ingin ke Dili dan Orang-Orang Oetimu hasil ketikan Felix K. Nesi. Coba resapi satu di antaranya.

Bila perasaan yang muncul adalah sama, yang perlu kita lakukan hanyalah merengkuh dan merangkul sebanyak mungkin teman. Sebab, dalam keberanian senyatanya juga menyimpan kerapuhan. Lewat kerapuhan kita akan belajar memetakan kelemahan, yang perlu diperkuat. Kita hanya memiliki satu sama lain. Tidak lebih, tidak kurang.

“Dan, pasti akan ada yang membumi/ adalah jawaban dari segala yang kulangitkan….” Jelas Soloensis dengan sangat terang.

Desember 2025 memang sendu bila kita menengok keadaan. Betapa sekadar menulis takarir di media sosial saja mesti menimbang serupa kita akan berhadapan dengan pengajuan KUR di bank: lolos atau tidak, ya? Kita seperti dibuntuti hantu, kita mengenalnya, merasakan kehadirannya, tetapi tidak tahu di mana. Konon, para ilmuwan sosial-humaniora menyebutnya sebagai hegemoni. 

Sementara itu, status quo seolah menjadi beku. Tidak lagi dapat diperebutkan. Terkendali. Seperti tak ada celah. Dari pelbagai sumber, konon anak-anak muda Korea Utara merasakannya. Atau, bila terlalu jauh permisalannya, anggaplah kita sedang mendengar pernyataan senior: “kowe cah enom mudeng apa?” Atau “kowe cah enom isa apa?”

Baiklah. Terima saja pernyataan itu. Rengasdengklok sudah terlupakan. Soe Hok Gie hanya nama saja. Dan, Zack de La Rocha sekadar vokalis RATM saja. Namun, yang luput dari pernyataan itu adalah semangat tetaplah menjalar meski dalam bentuk terkecilnya sebagaimana pertanyaan yang hadir di antara petani Chiapas: “awakmu wis padha maem urung, Cah?”

Sesuatu yang kecil, subtil, dan penuh kehangatan. Begitulah bila merengkuh dan merangkul kita hadirkan. Sebentuk harapan pun setidaknya dapat dipertahankan, sekalipun hal itu berhenti pada makna umum “hidup”. Ambisi terpaksa tertutup, ide terpaksa disimpan, dan gagasan lebih baik tak dilontarkan. Hingga pada suatu saat nanti dipertemukan dan menjadi sesuatu yang besar.

Teralienasi, terhakimi, kalian bukan *sensor oleh penulis*…, kata Seringai. Pada akhirnya kita sadar bahwa membangun bukanlah hal mudah. Proses panjang itu akan menghasilkan sesuatu. Bahkan, sekalipun sudah merentangkan waktu, kadang-kadang bangunan yang terimpikan roboh, hanya karena fondasi yang kurang tepat perhitungan.

Jelas dari pengertian tersebut dapat ditarik bahwa belajar adalah kunci. Hanya dengan begitu, segala pertanyaan yang berkelindan memungkinkan mendapatkan jawaban. Sesekali tentu perasaan gamang akan hadir, sebab kita mesti berhadapan langsung dengan waktu.

Himura Kenshin, dalam setiap sekuel film Rurouni Kenshin menceritakan proses seorang samurai yang menginginkan hadirnya era baru. Ia berperang di pelbagai gelanggang pertarungan untuk mencapai tujuannya. Hingga pada akhirnya mimpinya tercapai. Dan, setelah mewujudkannya, ia mengganti katananya dengan mata terbalik. Ia tetap bertarung, tapi tidak untuk membunuh.

Akhirnya, dari pelbagai sumber yang tidak terkotakkan, kita bisa mengambil pelajaran bersama-sama. Mengujinya satu sama lain. Dengan begitu, paranoia yang belakangan datang menguasai dapat kita kendalikan perlahan. Kita tidak bisa menyentuh hantu yang hadir di antara kita itu. Orang tua kita semasa kecil menjelaskan bahwa hantu tidak bisa disentuh. Kini kita bersepakat dengan mereka tanpa menawar. Meskipun secara visual, sungguh berbeda dengan bayangan hantu yang kita kenal.

Paranoia. Sebuah kata yang barangkali sebelumnya terdengar asing dan jauh dari kita. Sudah berkali-kali kalah dan terbentur membuat rasanya biasa saja. Kutipan terkenal dari pemikir besar yang lahir dari Suliki itu benar adanya. Saatnya kita mengibaratkan hidup dengan pertahanan solid serupa bek asal Italia. Kuat. Dan, tentu saja, kita mengingat kembali pelajaran sapu lidi yang disampaikan bapak dan ibu guru.

Kehadiran pelajaran dari tempat rural tetaplah mengantar kita pada pengertian dari yang kalah. Bukan sekadar ekonomi, politik, dan sosial belaka. Justru lebih sering yang hadir adalah sudut pandang mengapa kita mesti terus melanjutkan hidup. Berkat pelajaran tersebut, segala yang mungkin dapat dihadirkan. Karena penghadangan hanyalah bagi orang-orang yang tak berperasaan.

Desember telah terlewat. Tahun telah berganti. Arus sedang deras-derasnya. Tak ada yang berubah kecuali semakin was-was.


Penulis: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Rapuh: Rengkuh Rangkul"