Dapusa #19 - Benediction | Bernardinus Evan (Knellmort)

Foto: Rohmad Dwi

Untuk teman-teman Leluasa, perkenalkan saya Bernardinus Evan, biasa dikenal sebagai tukang gambar serabutan di bawah nama Vaghov, saat ini sedang tidak sibuk ngapa-ngapain, kalaupun sibuk itu lebih tepatnya sibuk yang saya ada-adakan sendiri. Selain berkarya dalam nama Vaghov, saat ini saya juga sedang mengelola sebuah media musik bernama Sonner Radio yang berfokus pada subkultur hiphop, lalu masih soal media musik juga di Cemetery Cove Archive sebagai editor dan kadang-kadang menulis, juga bantu-bantu mas Andre (Lokal Space) sedikit dalam pengarsipan rilisan musik di Fisikawan Labs, selebihnya kegiatan saya hanya membantu ibu bolak-balik ke warung atau mengantar ke gereja. Dan di sela kegiatan-kegiatan itu sangatlah kosong jika tidak mendengarkan musik (yayane), berikut daftar putar saya akhir-akhir ini:


  1. Nujabes - “Luv(Sic) part 4 (feat. Shing02)”

Jun Seba atau lebih dikenal sebagai Nujabes, adalah seorang produser/beatmaker asal Jepang yang juga dikenal sebagai ‘The Godfather of  Lo-Fi Hiphop’; sedang saya sendiri menganggapnya setara santo/santa (penyebutan orang kudus karena pengabdiannya dalam hidup di institusi gereja Katolik). Ya, tidak berlebihan saya kira, musiknya adalah puisi tanpa kata. Luv(Sic) adalah salah satu favorit dari keseluruhan diskografinya, album ini secara menyeluruh adalah kesenduan itu sendiri; persis seperti bulan Februari ketika hujan masih kerap datang namun dalam intensitas yang jarang-jarang, dan menurut saya sendiri “Luv(Sic) part 4” adalah klimaksnya, sebelum di-’selesaikan’ dengan khidmat oleh part-part selanjutnya. Tambah sendu ketika Februari ini juga adalah bulan tepat ketika ia lahir dan mangkat. Selamat jalan, Nujabes!

  1. J Dilla - “Don't Cry”

Saya tak pernah memiliki kemampuan merancang sebuah komposisi musik dan segala kerepotannya, yang saya punya adalah pemahaman yang tak banyak dan opini saya soal ini bisa saja tak diterima. Maka dari itu, secara serampangan, berangkat dari pemahaman itu saya cukup bisa menilai bahwa apapun yang dikerjakan J Dilla adalah sebuah pengkaryaan yang tak bisa disepelekan begitu saja. Saya hanya paham, tak bisa menjelaskannya secara teknis, jika kalian butuh review soal bagaimana kecanggihan seorang J Dilla atau Jay Dee atau James Dewitt Yancey dalam me-’manusia’-kan mesin, berbagai tulisan sudah tersebar di internet, atau jika kalian butuh link, kunjungi saja Sonner Radio di Instagram (hahaha), teman saya pernah menulis tentangnya.

Track ‘Don't Cry’ yang saya pilih ini adalah satu track yang dipersembahkan Dilla khusus untuk ibunya, dan masuk dalam albumnya yang paling terkenal, Donuts, 20 tahun lalu, satu album yang membuat pandangan saya sedikit-banyak menjadi berbeda ketika berbicara soal hiphop. Dan masih dengan kaitannya soal Februari dan kesenduannya, J Dilla lahir dan mangkat di bulan ini juga, sama seperti Nujabes (bahkan tanggal dan tahun lahirnya bebarengan dengan Nujabes). Terima kasih, Dilla!

  1. Danger Mouse & Sparklehorse - “Star Eyes (I Can't Catch It) (feat. David Lynch)”

David Lynch, seorang filmmaker nyleneh dan surreal. Favorit saya sebenarnya adalah soundtrack di filmnya Blue Velvet (1986) yang dinyanyikan oleh Bobby Vinton dengan judul yang sama dengan judul filmnya. Namun kali ini saya memilih salah satu track di album kolaborasi Danger Mouse dan Sparklehorse. Alasannya? David Lynch menyumbang vokal di dua track dalam album tersebut. David Lynch banyak bicara soal mimpi, dan di track ini saya rasa ia lebih luas dan dalam lagi membicarakannya, meski lewat lirik dalam baris dan durasi yang singkat dan terdengar seperti orang mengigau di tengah malam karena mimpi buruk. Tapi begitulah David Lynch, seorang pemimpi yang kini telah tenang menikmati mimpinya selamanya, swargi langgeng!


  1. Armand Hammer & The Alchemist - “Falling Out the Sky (feat. Earl Sweatshirt)”

Yang satu ini masih soal David Lynch. Armand Hammer—terutama billy woods—adalah salah satu unit hiphop yang banyak mengutip Lynch dalam lagu-lagunya. Di track ini terselip cuplikan wawancara Lynch dengan Charlie Rose di tahun 1997 yang di-sampling oleh The Alchemist untuk menjadi interlude tepat setelah verse billy woods selesai. Cuplikan wawancara itu adalah respon Lynch atas pertanyaan “Do you dream?”  dan respon Lynch adalah: “It's daydreams that I love, where you might be controlling some of the thoughts. The dream takes over, things are unraveling before you without your intervention.”

  1. Mach-Hommy - “SAME 24” (feat. Big Cheeko)

Mach-Hommy akan selalu saya anggap sebagai sebuah paradoks yang menyenangkan. Lagu-lagunya banyak beralaskan kanvas beat drumless yang terdengar kontemplatif, namun ketika mendengar liriknya akan ditemukan kontradiksi dari musiknya. Santai namun angkuh. Saya menyebutnya drumless mbeling.

  1. Westside Gunn - “KITCHEN LIGHTS” (feat. Stove God Cooks)

Vibes-nya masih sama dengan track Mach-Hommy yang saya sebut sebelumnya. Mereka berdua adalah kawan lama—Mach-Hommy adalah bekas member Griselda Records, record label yang didirikan oleh Westside Gunn—jadi tak begitu mengherankan kalau keduanya sam-sama mbeling. Hanya saja, Westside Gunn lebih suka bermain dengan celetukan-celetukan tak terduga, lebih angkuh, dan humor gelap; sedang Mach-Hommy bermain lebih rapi dengan rhyme scheme memukau. Dan soal drumless mbeling lainnya sila saja kulik katalog Griselda Records.


  1. Clairo - “Echo”

Jujur saja, saya baru mendengarkan betul Clairo akhir-akhir ini dan bisa saja tak mendengarkannya sama sekali jika tidak ada ajakan dari Jalu untuk membuat fanmade soal Clairo. Saya sedikit setengah hati dalam niat mendengarkannya. Namun, pembuka album ini, “Nomad” yang membuat akhirnya saya tertarik untuk menyimak keseluruhan albumnya. Dan, tibalah di track “Echo”. Ajaib, sedikit folk, sedikit psikedelik mengawang-awang, sedikit dreamy, dan sisanya suram. Terakhir melihat fenomena seperti ini adalah ketika melihat gambar-gambar Jampeace alias Babagozy alias The Labirin alias Kacamata Merah alias Arya Remin di tembok jalanan dan itu sudah lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali.


  1. Home Front - “Light Sleeper”

Saya merasa relate saja dengan lagu ini karena jarang tidur, haha, dan di lirik bagian pre-chorus: “And I've known this anger / Since the day I knew my name / But maybe it's not called anger / Maybe it's called pain.” dan di bagian lainnya: “And I've been told that this anger / Has a different name / It took some time to understand / All this anger is just pain.” Selain itu, jua karena Home Front menyajikan post-punk dengan warna berbeda, ratapannya tak terlalu kentara, lebih pekat amarahnya.


  1. Nikita - "Walau Seribu Rebah"
    Lagu ini diambil dari salah satu ayat Alkitab di Mazmur 91:7, satu kitab yang memang berisi kidung pujian. Saya tahu bahwa saya tidak religius-religius amat, alasan kenapa lagu ini masuk daftar tidak lain dan tidak bukan karena ibu sedang senang-senangnya mendengar lagu ini yang otomatis saya juga sering mendengarkannya akhir-akhir ini. Selain itu, lagu ini cukup menenteramkan ketika mumet, dan membawa banyak memori menyenangkan sewaktu kecil.



  2. Bernadya - "Kita Buat Menyenangkan"
    Hehehe.


Dapusa adalah Daftar Putar Leluasa, berisi lagu pilihan dari teman-teman. Biasanya kami yang meminta rekomendasi daftar putar/playlist ke teman di sekeliling kami, tetapi jika kamu mau berbagi playlist di sini bisa langsung hubungi kami ya.

Posting Komentar untuk "Dapusa #19 - Benediction | Bernardinus Evan (Knellmort)"