Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 1)

Gambar diolah oleh A.
Yogyakarta, 15 Mei 2045

Amat terkejut kudapati suratmu, Jim, yang datang tanpa genap bisa diterka; meski sebenarnya telah kudapati semacam tanda-tanda. Aku membacanya di teras rumah; sebuah rumah kecil sederhana yang setelah begitu keras dan susah payah akhirnya bisa kukatakan sebagai rumahku sendiri, meski kau paham: di kota ini tanah dan langit tak pernah bisa genap dimiliki. Aku membaca sembari ditemani kopi dan roti kering buatan istriku.

Dan, kukira, kau lekas terbayang pada kejadian masa lalu: Di teras kantor penerbitan, duduk menikmati kopi dan beberapa bakpia kering dengan berbagai isian. Ah, kau ingat pastinya, kita patungann tuk beli bakpia dengan uang yang tak seberapa; dan sebab kau adalah sejenis manusia flamboyan, kau berhasil merayu gadis dan janda pemilik warung itu guna memberi berlebih. Ah, sore yang dipenuhi dengan percakapan tentang puisi dan fiksi, seni dan kebudayaan dari suatu negeri yang kini sudah menempati usia seabad!

Dan, betapa kau mengawali suratmu dengan bertanya padaku pada tentang bagaimana kota; dan meski klise, atau menyebalkan, izinkan kukata: Kota hanya basah, Jim… Ini memang masuk musim kemarau, tapi kukira kau paham: Airmata yang jatuh sebab kehilangan, keringat yang begitu deras tetapi hanya mendapat sedikit beras, dan ludah yang terbuang meminta keadilan tetap menjadikan kota basah—

Kau tahu, aku tak pernah percaya kebetulan... Kemarin-lusa, istriku membersihkan ruang kerjaku yang penuh dengan kertas dan buku-buku, dengan naskah yang dan beberapa catatan yang menutut rampung tapi begitu sulit diselesaikan. Ah, sial benar, aku mesti ceritakan bagian ini. Namun, kukira, ada baiknya kau sedikit tersenyum dan tertawa, sebab kegetiran hidup manusia. Ia membersihkan kamarku dan memilah, buku mana yang sekiranya masih kupakai dan yang sudah layak dijual kembali: guna menampal kebutuhan yang mesti kami penuhi.

Dan, kala itu, istriku berhasil menemukan buku tipis itu: Suatu yang Kecil dan Mungil. Asu, ucapku segera; dan tentu saja, ia berkata bahwa sebaiknya aku mengurangi kebiasaan mengumpatku—terlebih sebab usia. Dan kau juga mesti tahu, beberapa hari lalu, seorang kenalan memintaku mengisi rubrik esai: memintaku menuliskan esai tentang tema Tionghoa. Karenanya, meski terkejut, mendapati suratmu adalah suatu hal yang bukan kebetulan.

Sebagai selumrahnya manusia, juga juga kawanmu, aku tentulah terkejut dengan keputusanmu yang pergi pada tahun 2025 itu. Namun, seperti yang pernah kau guraukan di suatu kesempatan, ada sejenis kedekatan sejarah di antara kita, maka aku bisa agak lekas membaca. Di saat itu, kau dan aku sudah berusia 27! Ah, angka sakral itu; angka yang menjadi tanda di mana Chairil menemui maut: di mana Chairil menuliskan sajak luhur yang akan tetap luhur itu!

Karenanya, saat kebanyakan kawan mencari-carimu, aku hanya berdiam dan memanjatkan doa: Semoga pemuda itu tak bunuh diri. Aku tak hendak memaksamu memberi tahu alasan kembaramu, tapi bila suatu kali kau hendak menceritakanya kuterima. Meski demikian, saat menerima suratmu, walau akan kau ejek sebagai bocah peganut romatisme, aku mesti mengakui, sepasang mataku berkaca. Asu memang. Bajingan, bajingan. Ah, usia tua... Namun, mataku tetap belum tolol, Jim, di beberapa media, meski kau memakai nama pena, bisa kuterka itu tulisanmu: Mataku belum tolol, kupingku belum bodoh, dan hatiku masih belum membatu! Hahaha—

Ah, ya, selepas kepergianmu, setelah serangkaian nasib getir lain, aku juga tak pernah mengira, aku berhasil kawin dan kini memiliki seorang anak gadis semata wayang. Tidakkah ironi dan getir—tapi juga komedi satir? Kau yang senantiasa dikelilingi gadis kini malah mengembara seorang diri mengitari tanah Jawa; dan aku yang kikuk dalam relasi romantik, malah menjadi seorang suami dan bapak.

Ya, aku kira kau masih sama, akan menyepakati, semacam ini bukan capain yang bisa disombongkan. Bukankah nasib adalah kesunyian masing-masing? Namun, tidakkah kau bisa membaca lebih lembut dan cermat, Jim, semacam nasib Chairil memecah pada dirimu dan aku… Beberapa hal yang belum digenapi Chairil, kita genapi; beberapa yang mesti dikoreksi atas Chairil, kita koreksi dan ubah sendiri.

Di surat balasan ini, aku tak hendak panjang menulis—meski nyatanya panjang pula. Adapun, hal itu agar kau masih mau bertanya dan mengirimiku surat yang berisi cerita-cerita. Aku tak tahu dari mana kau bisa tahu aku punya anak gadis; tapi mengingat kau masih memiliki darah dukun, aku tak merasa heran; dan mengingatmu adalah pembaca Chairil juga membuatku tak heran kau menerkaku punya anak gadis.

Adapun, kuharap kau mau mengirimiku alamat yang agak jelas. Bukan, Jim, bukan maksudku mengunjungi atau memintamu hidup lebih tertata; aku hanya hendak mengirimimi beberapa kue kering buatan istriku, dan memintamu memberi pendapat, sebab bagaimana juga lidah orang Bangkamu selalu bisa dipercaya.

Dan, agaknya aku mesti berterima kasih, sebab saat itu, saat aku mesti berterima kasih padamu, kau sudah pergi mengembara. Terima kasih sebab kau sudah berkenan mengedit novelaku kala itu; dan membuatnya bisa terbit. Memang tak untung, tak membawa banyak uang; tapi kau bisa terka, novela itu telah membawa jalan cerita selanjutnya... Dan aku masih menulis puisi, masih mengirimkannya ke beberapa media, dan masih diolok generasi tua—yang kini jelaslah sudah renta. Hahaha! Ada banyak kisah menarik yang akan kusampaikan; jadi berilah balasan, dan akan kukisahi kau beberapa hal yang konyol dan tolol...

Bersambung...


Penulis: Polanco S. Achri (l. 1998) adalah seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Selain menulis, ia kadang menjadi kurator pameran, sutradara teater, dan produser film dokumenter. Ia bisa dihubungi di Instagram: polanco_achri.


Editor: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 1)"