Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 2)
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Yogyakarta, 25 Mei 2045
Anakku perempuan, Jim, dan kunamai ia Kinan, Kinanti Soedibjo. Kini, dia
sudah kuliah, dan mengambil studi Ilmu Sejarah. Aku tak pernah memaksanya untuk
menempuh jurusan tertentu; kuserahkan semua pilihan kepadanya; dan hanya
memberi serangkaian saran dan pengalaman sebagai pertimbangan seperti
selumrahnya orangtua, juga memintanya bertanggung jawab atas pilihannya. Aku
sedikit-banyak mengamini ucapan Khalil Gibran dalam Sang Nabi: Anakmu bukanlah
anakmu… Namun, Jim, bagaimanapun juga, meski tak memungkiri ucapan penyair
Libanon itu, aku tak bisa genap mengamini; sebab dia memang anakku, suatu yang
berasal dariku dan istriku.
Namun, bukankah menarik, Jim, seorang anak gadis yang bapaknya adalah
penyair-pengarang, dan dibesarkan puisi dan fiksi, kini malah mengambil studi
tentang histori? Ah, tapi kisah dan sejarah bukanlah suatu yang genap terpisah!
Kami sering berdiskusi seperti selumrahnya ayah dan anak; walau seperti yang
bisa kau kira, meski masih di tahun pertama, dengan kepintaran yang diwarisi
dari ibunya, aku tak ubahnya berhadapan dengan kritikus budaya! Hahaha…
Anakku anak yang pandai, Jim, betapa ia dapatkan besiswa untuk studinya.
Sejak sekolah menengah hingga bangku kuliah, dia selalu berhasil mendapat
beasiswa negara! Dan agaknya, sebab itu, seperti aku pula yang biaya studinya
ditanggung negara, tak pernah bisa genap untuk membenci negara; walau sulit
mencintainya.
Namun, janganlah kau kira aku tak mencintai bumi pertiwi di mana aku
dibesarkan dan disusui—dan kini dianugerahi anak dan istri! Anak itu begitu
cantik serupa ibunya, dan pandai sepertinya. Dan aku? Aku hanya bagian
menceritai kisah-kisah dan dongeng-dongeng; cerita nabi dan dewa-dewi. Ah,
sial, betapa aku agaknya memang sudah bapak-bapak: begitu hanyut ketika
berkisah tentang anaknya. Kini, aku lebih paham, kenapa orangtuaku begitu
gandrung berkisah tentangku kepada kawan-kawannya—
Masih kuingat, Jim, saat kau jadi kurir penerbitan—dari satu penerbit ke
lain penerbit. Dan, aku, saat itu, adalah guru muda. Apa kau tak rasa sedikit
geli, kau yang sarjana pendidikan malah jadi pengembara, sedang aku yang
sarjana sastra malah berdiam di sebuah kota dan jadi guru bahasa? Hahaha… Asu,
asu, betapa memang ada sesuatu yang sulit diterka dengan segera.
Namun, kau tahu, aku tak pernah bisa mengajarkan apa pun kepada siapa
pun; bahkan kepada anakku sendiri. Aku lebih banyak belajar; meski dengan
tangan gemetar. Dan bukankah kau sebenarnya yang lebih banyak mengajar?
Maksudku, di tiap kembara, perjumpaanmu dengan gadis-gadis dan perempuan itu,
bukankah kau telah mengajarkan kepada mereka tentang cinta dan perasaan yang
hadir nyata, tapi tak bisa dimiliki dan mesti rela dilepas pergi? Ah, manusia
begitu sering merasa kehilangan. Dan kau, Jim, adalah guru itu! Agaknya, di
kala senja begini, di kala malam begini, kau begitu luhur…
Agaknya puisi memang tak bisa ditukar uang. Agaknya ada alat tukar
tersendiri!
Ah, kau bertanya tentang kawan-kawan sindikat... Mereka baik-baik
saja—setidaknya dalam takaran lumrah yang dapat dipandang kasat mata. Iwan
kembali ke Madura dan kawin dengan seorang yang sudah menjalin hubungan
dengannya sejak lama: tapi jarang sekali ditunjukannya pada kita kala masih
menduduki usia likuran. Ia masih menulis konten-konten dari rumahnya, masih
cukup fasih membaca nasib manusia; dan mesti menjaga makan, sebab lambung masih
saja limbung. Apa kau tak membaca beritanya yang ramai di media?—berita tentang
Indonesia Emas? Gus Bani jadi dosen di Fakultas Budaya.
Ia begitu sibuk, jadi sulit bertemu dengannya. Namun, pekan lalu, ketika
ada kuliah umum, anakku bertemu dengannya: dan malah diberi buku kritik
sastranya yang terbaru! Ah, asu benar, buku itu bagus, tapi mahal. Kalau tak
diberi, sudah pasti aku tak membacanya. Hahaha… Gus Sapik masih juga menulis
fiksi, novelnya rancana terbit bulan Juli nanti. Aku mau menyarankan kau beli;
tapi tidakkah getir: Agaknya uang itu lebih baik untuk membeli lauk gereh dan
nasi. Ia masih mengajar di pondoknya, masih juga memberi khotbah di beberapa
plosok Jawa. Kalau ada sejenis nasib baik, kukira kau bisa menemuinya. Ya,
walau menghindar, Jim, kalau bertakdir bertemu ya bertemu.
Anakku seangkatan dengan anaknya Gus Bani; walau beda jurusan. Ya, ia
memang kawin lebih dulu; tapi sebab dia dan istrinya fokus studi, jadi ya
anaknya jadi seusia dengan anakku. Anak tertuanya juga perempuan yang pandai.
Suatu waktu pernah main ke rumah sederhanaku; dan sial benar mendengar diskusi
anakku dan anaknya Gus Bani. Aku benar seperti orang tua yang tolol. Asu, asu—
Jim, sudah kubilang, kau adalah guru dan pengajar yang sesungguhnya;
setidaknya mengajari sejenis kehilangan yang puitik. Kami kehilangan, bersedih.
Namun, kami selalu punya tetapi. Tidakkah kepergianmu, ketika mau dibaca dengan
sedikit lebih lembut dan saksama, adalah puisi? Dan kurasa, kami bisa membaca
itu; atau, setidak-tidaknya diriku.
Walau kau harus tahu, Jim, sebab orang-orang mengenal aku sebagai
kawanmu, beberapa kali ada gadis-gadis dan perempuan yang mendatangi rumahku:
bertanya tentangmu. Dan kau harus tahu, awal-awal, istriku cemburu. Asu,
berurusan dengan penyair memanglah sejenis nasib buruk yang baik dan nasib baik
yang buruk. Hahaha…
Aku tak tahu juga, Jim, kenapa orang-orang begitu optimis—di masa yang
diliputi tragedi dan duka berulang. Namun, aku tak pernah mau berputus asa. Ya,
walau masih sering mengumpat: Asu! Apakah Penyair Joko di surga berhasil
memakai celana? Sekali lagi, meski jarang berdoa, aku masih berdoa untuk
orangtuaku yang kian renta, dan juga untuk anak dan istriku juga. Aku? Aku
jarang berdoa untukku sendiri.
Dan, kini, sebagai kawan, aku hanya berdoa: semoga kau tetap tak bunuh
diri. Jalanilah hidup hingga tuntas, Jim! Dan bersama surat ini kusertakan
beberapa roti kering buatan istriku. Ya, anggaplah sejenis sederkah. Apa kau
ingat kisah perempuan pendosa yang masuk surga sebab memberi air anjing yang
kehausan? Mungkin, ini sejenis jalan keluarga kami masuk surga: sebab memberi
makan seorang yang meradang menerjang seperi binatang jalang. Hahaha… Moga, kau
tak tersinggung; walau kau boleh juga untuk memaki.
Ya, ini memang panjang sekali; tapi kukira sejenis perasaan lega sebab
kau hidup sudahlah berhasil menggerakkan suratku jadi panjang-lebar. Aku tak
mengharap kau lekas membalas, tapi tentu suratmu juga kunantikan. Doa baik
untukmu—
Bersambung...
Penulis: Polanco S. Achri (l. 1998) adalah seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Selain menulis, ia kadang menjadi kurator pameran, sutradara teater, dan produser film dokumenter. Ia bisa dihubungi di Instagram: polanco_achri.

Posting Komentar untuk "Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 2)"
Posting Komentar