Mendengar Lagu, Membaca Nasib
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
“When you're happy, you enjoy the music. When you're sad, you understand the lyrics.”
(Saat kau bahagia, kau menikmati musiknya. Namun, saat kau sedih, kau memahami liriknya.)
Ketika bulan-bulan paling basah menggejala, kutipan tersebut menghinggapi berbagai jendela linimasa media sosial. Terlebih sebulan yang lampau, ketika lagu December dari Neckdeep berhasil membuat beberapa lelaki dewasa mengembun hatinya. Sebagian besar warganet lalu menyepakati bahwa musikalitas rasa bahagia berkaitan dengan nada (musik) sedangkan rasa sedih berkaitan dengan bahasa (lirik).
Kutipan yang diamini secara menjamak tersebut adalah pernyataan yang dinukil dari pendapat Frank Ocean, seorang rapper dari Negeri Paman Sam. Kutipan itu memang tak secara langsung tertera dalam lagu atau catatannya, tetapi kutipan tersebut diatribusikan kepadanya lewat diskusi fanpage. Di sisi lain, kutipan tersebut juga dapat dirasakan dalam albumnya Blonde atau Channel Orange.
Lantas, kutipan terkait musik dan lirik itu menumbuhkan berbagai pertanyaan. Ada dua pertanyaan mendasar dari kutipan tersebut: mengapa dan bagaimana. Sebetulnya, ada 1.000 jalan untuk mencari jawaban terkait faktor perkara ini. Namun, seorang intelektual dari Konstanz, Jerman, yang bernama Wolfgang Iser pernah membahas duduk perkara ini. Jawaban dari permasalahan ini terletak pada ternganganya ruang kosong dalam setiap karya, khususnya karya tulis (yang dalam lagu mewujud pada lirik).
Menurut Iser, setiap karya menyediakan ruang kosong sehingga medan makna tidak lagi menjadi otoritas pencipta. Ruang kosong ini tercipta karena dua kemungkinan: (1) kesengajaan untuk pemfokusan wacana karya, (2) bukti betapa manusia tidak sempurna mencapai kemanunggalan makna. Dari titik inilah penikmat melakukan kerja-kerja pendengaran untuk saling melengkapi lagu. Penikmat bukan hanya menjadi objek, melainkan juga sebagai subjek lagu.
Ketika penikmat menjadi subjek lagu, lirik tidak hanya memainkan relevansinya dengan publik, tetapi juga berfungsi sebagai cermin yang retak. Ia tidak memantulkan wajah secara utuh, melainkan serpihan-serpihan pengalaman yang pernah, sedang, dan akan. Pada titik ini, lirik bekerja bukan sebagai pesan yang selesai dikirimkan, melainkan sebagai kemungkinan makna yang terus dinegosiasikan. Pendengar datang dengan sejarahnya masing-masing, lalu menambal ruang kosong itu dengan ingatan, luka, dan harapannya sendiri.
Barangkali ruang kosong ini adalah piranti yang dimainkan oleh pelaku-pelaku musik kiwari. Ruang kosong inilah bukti bahwa Jason Ranti dan Baskara Putra sering kali menolak menjelaskan makna dan latar belakang lagunya. Dalam bahasa lain, fenomena ini dapat dikatakan explanation kills art!
Sebagai permisalan, ruang kosong juga bekerja pada lagu Disarankan di Bandung karya Dongker dan Jason Ranti. Secara lugas lagu tersebut mengartikulasikan Bandung sebagai latarnya. Namun, karena pendengar memiliki pengalaman dan harapan, pendengar bebas memaknai lagu tersebut terkait konsep “di mana” dan “bagaimana”. Ada yang memaknai lagu tersebut dengan jalanan kotanya yang jahanam, bangku perkuliahan yang menunda kepastian, beberapa cinta yang menyelamatkan, atau hubungan interpersonal perkawanan yang sungguh rentan.
Kembali lagi ke bagian musik dan lirik. Keduanya kerap diposisikan seolah bekerja secara terpisah: musik untuk perasaan, lirik untuk pemahaman. Padahal, dalam pengalaman mendengar, pemisahan itu tidak pernah benar-benar tegas. Musik dan lirik sama-sama menyimpan ruang kosong yang menunggu diisi oleh pendengarnya. Perbedaannya hanya terletak pada pintu masuknya. Musik sering kali mengetuk lewat suasana, sementara lirik menyelinap lewat bahasa.
Ketika seseorang sedang bahagia, boleh jadi ia lebih leluasa dalam menerima bunyi. Musik hadir sebagai latar yang menyenangkan, tanpa tuntutan untuk dipahami secara mendalam. Sebaliknya, saat seseorang sedang sedih, ia cenderung mencari pegangan. Lirik lalu menjadi tempat berlabuh, bukan sekadar karena ia lebih bermakna dan relevan, tetapi karena pendengar sedang membawa beban yang ingin diletakkan. Dalam kondisi ini, lirik bekerja bukan sebagai “tujuan”, melainkan sebagai “jalan” (ruang kosong yang diisi oleh pengalaman personal).
Perkara ini menunjukkan bahwa segala yang personal selalu memiliki konteks sosial. Pun segala konteks sosial memiliki implikasi yang personal. Lagu, pada akhirnya, bergerak di antara dua wilayah itu: ia ditiupkan ruhnya dari pengalaman individual penciptanya, tetapi menemukan jalan hidupnya justru ketika bertemu dengan pengalaman intersubjektif pendengarnya.
Lalu, mengapa kita berduka secara berjamaah ketika mendengar lagu Membebaskan Hujan dari Tirani Puisi karya Morgue Vanguard? Terlebih ketika Lord Kobra melantangkan,
Dan mengurai kegelapan dari Derai Derai Cemara
Bahwa hidup tak melulu soal kekalahan yang tertunda
Namun pula perihal menjalani yang tak terduga.
Apa pun itu, selamat mengisi ruang kosong. Ruang paling bisu yang justru memberi kita kemerdekaan untuk menyebut aku, kau, dan kita.
Penulis: Erhan Al Farizi

Posting Komentar untuk "Mendengar Lagu, Membaca Nasib"
Posting Komentar