Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 4)
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Yogyakarta, 5 Juli 2045
Selama kau masih hidup dan baik-baik saja, kurasa itu sudah lebih dari
cukup; sehingga surat adalah suatu dan sejenis sarana saja. Namun, jelas, tak
dapat kupungkiri maupun kupungkanan, ada sejenis kegelisahan
pula. Setelah dapat kabar, berkabar, lantas lama tak ada kabar, siapa yang tak
merasa kehilangan, kan? Karenanya, kukira tak genap ada kata terlambat dalam
kerja surat-suratan ini.
Juli ini umurku akan bertambah—dan usia akan berkurang. Ah, sajak
Chairil memang sejenis kebenaran: Hidup hanya menunda kekalahan. Kemarin,
kudapati sejenis demam: hanya ringan. Dan aku teringat pada usia bergantian
dari duapuluh empat ke duapuluh lima. Bulan Juni 2023! Ada demam yang amat
menghinggapi, dan sebab itu, seperti yang kau tahu, aku diopname di RS. Ah,
lambung, usus, dan hati. Apakah kau masih ingat saat itu, Jim? Kau dan
kawan-kawan sindikat mengunjungiku; dan tentu, itu menghiburku. Walau, kau
tahu, asu benar Iwan, hahaha, menjenguk kawannya yang sakit tapi malah membahas
utang... Kekonyolan yang getir, komedi yang tragik, ya, kan?
Namun, kukira, guraukan itu yang membuatku memutuskan untuk kawin;
membuatku berani menanggung sejenis kegetiran lain. Agar ada yang merawat, Pol,
ucap kalian waktu itu. Sakit hati (liver), ah, kenapa pula kata ini sangat
denotatif sekaligus konotatif, agaknya memang hanya bisa disembuhkan dengan
sejenis teman-kekasih. Walau juga kupaham, Jim, kawin dan beranak bukan hadir
untuk mengobati kesepian: tapi berbagi kesepian.
Aku masih agak lemah, belum bisa banyak menulis. Aku menulis surat yang
mungkin pendek ini pun dengan sembunyi-sembunyi: sebab takut ketahuan Istri,
sebab ia begitu menyayangiku, sehingga tak mengizinkanku lelah-lelah dulu.
Meski begitu, nyatanya ketahuan juga; hahaha… Dan bersama ibuku yang sepuh, dan
anakku yang belia, aku dimarah-marahi. Bayangkan, tiga generasi perempuan
memarahiku. Namun, kupaham, itu karena mereka begitu menyayangi dan
menghargaiku.
Sekali lagi maaf, sebab tak dapat mengirim surat panjang seperti
kemarin-kemarin. Namun, selepas tubuh kembali bugar, akan kubagi kisah seperti
yang lalu. Dan sebab aku ketahuan, dan juga tahu aku menulis surat untukmu, dia
memintaku menyertakan pula kue kering baru yang dibuatnya. Jadi, selamat
menikmati. Dan sebab ketahuan, beberapa parangraf akhir surat ini—dituliskan
anak gadisku. Ah, tanganku kian gemetaran saja… Doa baik tercurah; semoga kau
baik-baik saja. Dinantikan surat dan kabar-kabar lainnya.
Bersambung...
Penulis: Polanco S. Achri (l. 1998) adalah seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Selain menulis, ia kadang menjadi kurator pameran, sutradara teater, dan produser film dokumenter. Ia bisa dihubungi di Instagram: polanco_achri.
.png)
Posting Komentar untuk "Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 4)"
Posting Komentar