Dan Kelaparan Bangkit dari Tidurnya yang Panjang

Gambar diolah oleh A.

Di teras rumahmu, adalah jarang ketika pria tua berbaju koko singgah dengan wajah kuyu. Ia mengaku menjual kalender meski tahun sudah menjejaki separuhnya. Tuturnya, kalender itu seharga lima puluh ribu. Laba dari penjualan kalender itu ia katakan akan bermakna sebagai sedekah. Sedekah karena akan dipersiapkan untuk amal jariyahmu. Di antara tiga amal jariyah, setidaknya engkau akan mendapatkan doa anak saleh dan sedekah jariyah. Dugaanmu benar, ia menawarkan taman surga karena sedekahmu akan digunakan untuk pembangunan pondok pesantren. Namun, tak pernah terdengar kabar tentang pembangunan pondok akhir-akhir ini dan di sekitar-sekitar sini.

Di teras rumahmu, adalah jarang ketika perempuan paruh baya datang untuk menawarkan pekerjaan. Pekerjaan itu konon bergerak dalam bidang keuangan. Selain itu, ia menjanjikan keuntungannya yang dapat berlipat selayaknya tumbuh cabang pada gulma. Bahkan, pimpinan perusahaan itu tampak tak pernah kehabisan cara untuk mengganti mobil, meninggikan rumah-rumah megahnya, dan terbang ke negeri-negeri nun jauh. Namun, kau dituntut menggandeng setidaknya sepuluh orang dengan modal dua juta perkepala.

Di teras rumahmu, adalah jarang ketika seorang ibu hadir dengan berpakaian serba putih. Ia bercerita bahwa hari-hari ini sedabg musim penyakit DBD karena cuaca sedang tak pasti. Ia mengaku berasal dari dinas kesehatan dan berniat baik untuk mengatasi jangkitan penyakit itu. Dijanjikannya sebuah solusi yang sekarang ada di tangannya. Tak lain solusi itu bernama paket obat pembasmi jentik-jentik. Obat yang konon sangat ampuh. Cukup teteskan ke bak mandi atau genangan air, niscaya nyamuk akan punah dari lingkungan. Namun, obat itu terbilang mahal. Lima paket obat itu seharga peluh dan gajimu dalam satu hari.

Di teras rumahmu, adalah jarang ketika seorang pemuda asing mengetuk pintumu dengan bersemangat. Dari mulutnya keluar kabar bahwa akan ada atraksi di perempatan kampung. Kau mengikutinya dan menjumpai pajangan keranda dan seonggok manusia berbalutkan kain kafan. Di sekelilingnya, kobaran api melambai-lambai. Kau yang sering dibesarkan oleh cerita mistis lalu mengkhusyuki pertunjukan itu. Setelah pertunjukan bubar, kau tersadar. Ada kejanggalan. Dompetmu yang biasanya tipis terasa semakin hampa. Biaya hidup seminggu dalam dompetmu telah raib. Yang tersisa di genggamanmu hanya obat yang sebenarnya khasiatnya tak kauketahui. Sial. Kau tergena gendam.

Kau sebetulnya masih bisa menambah daftar ilustrasi tentang modus operandi penipuan yang kian sering. Saat ini, penipuan-penipuan itu tak hanya terjadi di berita-berita atau di postingan-postingan media sosial yang jauh dari kediamanmu. Beragam modus penipuan itu nyatanya hanya sedekat kamar tidurmu dengan teras. Lebih lagi, penipuan itu telah berani mengetuk pintu rumahmu—tempat yang kau percayai sebagai ruang paling aman. Sialnya lagi, kemarin kau menjumpai bahwa penipuan sudah semakin dekat hingga urat leher. Salah satu modusnya misalnya dengan scam lewat piranti telepon pintar.

Riwayat penipuan itu membuatmu hanyut dalam perasaan tahun 2020. Waktu itu wabah bernama Covid-19 menggejala. Kabar buruknya ia tidak hanya menyerang paru, tetapi juga perut. Tentu perut yang kau pikirkan adalah bahwa Covid-19 membuat banyak orang terputus mata rezekinya. Lalu, mereka mengupayakan apa saja demi dapat menyambung hidup. Berjenis-jenis penipuan, berkeliarannya para maling, dan berpestanya para begal adalah contoh kabar-kabar buruk di tahun-tahun yang kelabu itu.

Sebetulnya, sangat menarik untuk membincangkan jamaknya jenis penipuan—walau sebetulnya setiap hari kau telah merasa ditipu. Pikiranmu lantas mengulik bagaiman kerja-kerja penipuan itu. Dan salah satu pertanyaan yang muncul adalah, “Mengapa penipuan-penipuan itu bangkit dari tidurnya?”

Entah mengapa, engkau ingat kata-kata dari Bang Napi, tokoh dalam serial acara TV di RCTI. Ia yang pernah menemani masa kecilmu pada masanya itu pernah berpesan bahwa biang dari setiap kejahatan adalah kesempitan dan kesempatan. Tak usah repot-repot mencari data pendukung, kau sudah tahu bahwa hari-hari di tahun ini adalah ruang yang kian mencekik lagi menyempit. Harga-harga melambung sebanding dengan naiknya asam lambung di perut. Daya beli juga lesu selayaknya mata pekerja ketika gajinya tertelan habis sebelum bulan berganti. Sementara itu, televisi dan video pendek media sosial sering mewartakan pendapat tak masuk akal dari pihak-pihak yang berbicara atas nama negara. Ini barangkali bentuk ironi paling telanjang karena sebenarnya setiap lafal ucapan mereka dianut oleh umat. Kesenangan yang sudah lama terenggut kini juga harus semakin runyam karena ketenangan pun habis digerogoti oleh keadaan.

Di luar sana, keadaan yang sulit ini perlahan juga menggerogoti usus. Banyak orang mengusahakan mengamankan perutnya. Ya, ternyata kelaparan perlahan tapi pasti telah menjelma wabah yang sangat mungkin menular. Sebagian orang lapar karena tak punya makanan. Sebagian lain lapar karena tak pernah puas untuk melanggengkan kekuasaan.

Suatu hari, di hari yang cerah tapi berdebu, kau menjumpai rasa lapar yang tak dapat ditunda. Rasa lapar itu bergentayangan di jalanan. Tak sulit menemukan pengemis, pengamen, manusia silver, atau tukang parkir yang sering menodong paksa. Lupakan urusan moral dan spiritual, kalau saja ada sedikit rezeki tentu kau akan berperan sebagai tangan di atas terhadap mereka. Namun, situasimu sama laparnya dengan mereka. Bahkan, mungkin rasa laparmu jauh lebih buruk.

Mengutip pendapat dari H.P. Lovecraft, bahwa rasa takut adalah perasaan paling purba dari manusia. Kini, perasaan paling purba berbentuk rasa takut itu telah menemukan teman bernama ‘rasa lapar’. Sementara itu, kau teringat manusia adalah makhluk yang terlampau akrab dengan hari buruk sehingga selalu menemukan cara untuk bertahan.

Peradaban manusia boleh saja senantiasa bersikap optimis karena matahari di esok pagi masih akan terbit dari timur. Akan tetapi, menurut peraih Nobel Sastra 1990, Oktavio Paz, laju peradaban manusia adalah personifikasi dari ketidakpastian. Selalu ada kemungkinan untuk terpeleset. Dalam keadaan yang arusnya cepat dan tak pasti, nasibmu mungkin sudah siap tergelincir. Entah mengapa tiba-tiba kau ingin pulang ke rumah. Menghabiskan banyak waktu bersama keluarga. Atau bersiap-siap menuliskan wasiat. Untuk kali ini, kau benar-benar takut pada hantu tak berwujud yang sering disebut orang-orang dengan ‘hari esok’.

Andai saja hantu itu bisa terbakar jika dikenai ayat kursi. Andai saja setan-setan yang membuat semuanya menjadi kacau ini bisa meleleh jika dibacakan taawud. Sedangkan cara kerja doa adalah sebuah misteri. Maka, dalam rasa laparmu ini, kau mulai merindukan janji diijabahnya doa-doa orang yang dizalimi.

 

Penulis: Erhan Al Farizi


Posting Komentar untuk "Dan Kelaparan Bangkit dari Tidurnya yang Panjang"