Sekar Tri Kusuma: Menari adalah Menderita
| Sekar Tri Kusuma | Foto: Gutami Hayu Pangastuti |
“Menari adalah menderita,” canda Sekar (29/04), ketika kami
mengajukan perekam kepadanya.
Candaan itu senyatanya bukan gurauan semata. Pepatah kuno
Belanda, yang hampir mirip ungkapan Sekar pernah digunakan oleh Haji Agus
Salim: Leiden is lijden! (Majalah Prisma No 8, Agustus 1977) yang
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi memimpin adalah menderita. Memorabilia
dari Agus Salim, seyogianya dapat digunakan sebagai pisau pengertian atas
ungkapan Sekar.
Sekar kiwari bukanlah seorang diplomat sebagaimana Agus
Salim. Ia adalah seniman yang menggerakkan tubuhnya sebagai penyampai pesan,
narasi, hingga wacana yang berkelindan di antaranya sebagai keniscayaan hidup.
Tak ada pertanyaan yang paling musykil untuk diajukan. Sekar menjawab atas nama
tubuh yang menantang batas waktu.
Selamat malam, Mbak Sekar. Maaf mengganggu waktunya. Kami
hendak bertanya beberapa hal terkait keterlibatan Mba Sekar dalam 24 jam menari?
Baik, Mas. Silakan.
Bagaimana rasanya menari berjam-jam?
Sekarang pukul berapa?
Pukul 21.00, bagaimana rasanya?
Berarti sudah 15 jam saya menari. Rasanya mengambang, Mas.
Apa yang mau dinarasikan Mba Sekar selama 24 jam menari?
Bahwa gerak itu universal dan seni itu ada di keseharian
kita.
Bagaimana Mba Sekar menggambarkan bahwa seni ada di
keseharian?
Selama 24 jam, biasanya kita, penari 24 jam larangannya
tidak boleh tidur. Selebihnya boleh. Misalnya, mau makan, boleh. Bagaimanapun
kita tetap manusia, kan, Mas. Artinya, kita punya waktu biologis ya. Kita perlu
poop, makan, bahkan andai kita hendak beribadah pun, juga boleh.
Satu-satunya yang tidak dibolehkan itu adalah tidur. Karena kita dalam keadaan
tidak sadar, kan, Mas.
Ada pendamping medis atau pendamping lainnya selama
menari?
Ada. Jadi setiap dua jam sekali kami dicek tensinya, dicek
napasnya. Selain itu, kami juga sudah tanda tangan kontrak. Dalam kontrak itu,
juga disebutkan, misal tensi terlalu tinggi atau terlalu rendah, kemudian
secara medis dianggap tidak aman, kami harus berhenti.
Berarti kesehatan masih yang paling utama ya?
Masih. Tentu, kami tidak mau untuk mengeksploitasi tubuh.
Kita tetap harus (sadar) manusiawi.
Sebagai penari perempuan di 24 jam menari, adakah yang
hendak disampaikan kepada perempuan di luar sana?
Tidak ada siapa pun yang bisa membuatmu berhenti menari atau
kami bisa menjadi apa. Kamu bisa menjadi apa pun, tidak terbatas usia, tidak
terbatas siapa kamu. Dan, kalau menari sudah menjadi pilihanmu.
Sungguh-sungguhlah dalam menari. Karena saya percaya bahwa passion adalah
penderitaan yang kita pilih. Dan, saya memilih tari adalah penderitaan yang
saya pilih.
Kalau yang melekat dengan Agus Salim itu adalah Leiden
is lijden, memimpin adalah menderita. Kalau Mbak Sekar memilih dance is
kijden, menari adalah menderita?
Yes! (tertawa).
Ada yang menginspirasi Mba Sekar untuk melakoni 24 jam
menari?
Tentu orangtua dan
guru-guru tari saya terutama. Orang-orang yang support dan membuktikan
bahwa ranah tari itu tidak hanya di permukaan saja. Ada banyak sekali hal yang
belum terekspos dan mungkin itu yang menjadi, selama ini kami (penari) sering
dianggap remeh, dan lain sebagainya. Jadi seperti, saya masih punya optimisme
bahwa kita masih punya cara lain untuk menyampaikan bahwa apa yang kita
kerjakan ini bisa diperhitungkan.
Last but not least. Ada tidak yang menjadi catatan
Mba Sekar kepada sesama penari?
Sederhananya saya seperti merasa, tari itu love and hate
relationship. Kayak saya merasa hidup di situ, tapi kadang juga merasa
terikat juga di situ.
Mba Sekar juga pernah tidak menari karena sebuah
kecelakaan? Bagaimana ceritanya?
Itu ceritanya saya dilarang menari. Tapi, sekarang menari
dua puluh empat jam.
Saya kira itu, Mba. Ada salam untuk teman-teman Leluasa?
Sehat untuk semuanya. Salam untuk teman-teman Leluasa
semuanya. Terima kasih.
Beberapa pertanyaan sebenarnya masih berkelindan. Namun, waktu dan tempat belum berjodoh untuk membuat wawancara ini sedikit lebih panjang. Sekar berhasil menyelesaikan 24 jam menari di hari berikutnya (30/04). Dari proses panjang yang dilakukannya, tidak ada yang lebih membuat penasaran selain mengapa tari menjadi sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya.
Interviewer: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Sekar Tri Kusuma: Menari adalah Menderita"
Posting Komentar