Selayaknya Pram, Saya Juga Ingin Lihat Semua Ini Berakhir
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Hal
yang sangat memakan ruang di hati adalah tidak didengarkan. Lebih-lebih jika hal
yang terpendam itu adalah perihal yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Salah satu kasus yang tidak menyenangkan ini pernah dialami oleh Pramoedya
Ananta Tsoer. Pram merasakan getirnya diasingkan ke pulau perawan bernama Pulau
Buru.
Pram
mengakui mengalami berbagai simulasi neraka selama ia menjadi tapol di
pengasingan. Sialnya, semua simulasi neraka itu ia jalani tanpa proses
pengadilan pascaperistiwa G30S. Selain serentetan kerja paksa dan buruknya
keadaan, ihwal yang juga menyakitkan bagi Pram adalah hilangnya kesempatan
untuk diakui sebagai manusia yang memiliki suara.
Tidak
hanya diakui memiliki suara, di sana Pram dan tapol sering kali tidak diakui
sebagai manusia. Dari sejumlah catatan, diceritakan bahwa Pram dan
rekan-rekannya harus membuka jalan untuk permukiman, membangun barak-barak
untuk latihan, menyisir lahan untuk pertanian, dan membudidayakan tanaman walau
sering hasil panen mereka dimainkan tengkulak, atau bahkan dirampas.
Di sana, konon masih ada suku yang masih
sangat tribal dan kanibal. Bahkan, untuk bertahan hidup para tapol memakan apa
saja, misalnya tikus, ular, atau cumi-cumi mentah. Keracunan sudah seperti
rutinitas yang angka-angkanya hanya dianggap sebagai angka, tidak lebih.
Tercatat, Pram diasingkan di Pulau Buru selama 13 tahun 1966 hingga 1979.
Kendati sehari di sana rasanya seperti menenggak beratus-ratus purnama lengkap
dengan kesakitannya.
Dalam
situasi yang terus menguji daya bertahan, apakah berharap adalah sebaik-baik
pilihan? Beberapa tahun setelah injakan pertama di Pulau Buru,
berbondong-bondong wartawan mendatangi Pram. Beberapa dari mereka menanyakan
apakah datangnya wartawan mampu menumbuhkan harapan dalam dada Pram. Namun,
Pram hanya menginginkan melihat semua ini berakhir. Walaupun sebetulnya, butuh
puluhan tahun baginya untuk menunggu “semua” ini berakhir.
Pram
adalah sebentuk bukti bahwa manusia bisa bertahan dalam kondisi sulit yang
berkepanjangan. Pernyataan ini bukan untuk meromantisasi tentang penderitaan
Pram. Justru yang pantas direnungkan ialah mengapa harga dari sebuah karya
agung dan rasa ingin bertahan sedemikian mahal? Lebih lagi, mengapa ada
pihak-pihak yang sedemikian tuli terhadap teriakan sayatan luka sesamanya.
Butuh
puluhan tahun bagi Pram untuk membekukan luka-luka yang ditanggungnya. Kembali
ke tahun-tahun sekarang, kiranya butuh berapa lama untuk menahan luka yang tak
tertanggungkan? Sementara harga-harga kebahagiaan dan sebangsanya semakin naik
seleher. Ditambah lagi, selalu coba kita siasati tentang keseharusan untuk
bertahan di hari esok. Dan beruntungnya janji itu setidaknya tak lupa kita
dengungkan setiap pagi.
Setiap
hari kita tetap mengikuti keseharian, tetap menjalankan peran, tetap berusaha
percaya bahwa ada sesuatu yang sedang diupayakan. Namun, di saat yang sama, ada
jarak yang tidak pernah benar-benar dijembatani (jarak antara yang mengalami
dan yang memutuskan). Apa yang kita alami tentang kelaparan, ketakutan, atau
ketidakpastian itu adalah keabsolutan fakta. Kasus-kasus itu bukanlah imaji
yang kadang dinilai relatif belaka.
Untuk
hari depan, sebetulnya kita tidak hidup di kurun waktu 1970-an selayaknya Pram.
Pada waktu itu, listrik masih sulit dan pangan belum berkelimpahan seperti
sekarang. Namun, ada beberapa kekhawatiran yang bisa kita bandingkan dengan
kurun masa itu. Jika dulu keterbatasan hadir secara kasatmata, hari ini ia
hadir dalam rupa yang lebih fatamorgana: sesuatu yang menyilaukan mata kita,
tetapi sebetulnya menggerus lambung kita. Mengutip kata-kata dari seorang
kawan,
“Mung
mergo sega sak pulukan, mateni potensi pirang-pirang.”
Artinya,
‘Hanya karena satu suapan nasi dapat membunuh jamaknya potensi’.
Untuk
hari depan, sebenarnya kita tidak berlayar ke Pulau Buru. Namun, ke sesuatu
ruang dan masa yang sebenarnya belum sepenuhnya kita eja. Tentu kita tidak
berharap akan ada suku kanibal, makanan tak layak, atau kerja paksa yang
melebihi jam daya tahan manusia. Utopia kita sebetulnya sederhana: rasa ingin
didengarkan, rasa ingin dilindungi, sekaligus rasa ingin mengembangkan diri.
Terlalu
lama kita mendambakan sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Dan jawaban dari
dambaan doa itu terasa sekali jauh jaraknya. Lantas, jika jawaban
masalah-masalah dan doa-doa kita tak ada di Puncak Langit, sangat mungkinkah
jawaban itu terletak di bumi? Barangkali jawaban-jawaban rasa khawatir kita
terletak pada uluran tangan ketika kegiatan tilik di desa, atau ketika
bergunjing lalu menanyakan kabar tetangga, atau juga dalam bentuk lengan-lengan
yang tabah ketika sambatan di kampung datang.
Kalau
boleh pesimis, sebetulnya kita semakin jauh panggang dari tujuan mula. Namun, kita
semakin terbiasa dengan keadaan yang tidak seharusnya. Hampir setiap bulan kita
mengalami kabar-kabar yang mengganjal di dada. Rawatlah rasa mengganjal itu,
kumpulkan kalau perlu. Sebab jika hal ini senantiasa dibiarkan, mungkin kita
tidak hanya akan kehilangan suara. Mungkin kita akan kehilangan kepala,
telinga, atau bahkan mata. Namun, mungkin saja tidak.

Posting Komentar untuk "Selayaknya Pram, Saya Juga Ingin Lihat Semua Ini Berakhir"
Posting Komentar