Temu: Persilangan dan Persimpangan

Gambar diolah oleh A.

Pertemuan adalah pengikat sudut pandang. Di dalamnya merentang kesepahaman atas nama pengertian. Hari-hari bulan Maret 2026 menerangkan arti rangkul kanan-kiri, bertahan di tengah pelbagai gempuran situasi. Pertemuan menjadi tempat untuk mengukur serta menguji diri.

Pertemanan seolah menjadi tempat kemungkinan dititipkan. Ia dibicarakan, dikonstruksikan, hingga digambarkan. Seiring itu, tidak semua hal juga mesti disepakati. Pertemanan justru memberi tempat perbedaan dan pelajaran hadir. Tidak semua harus diiyakan. Ada kalanya perbedaan hadir untuk membangun rasa saling menghormati.

Di tengah dunia yang menuntut keseragaman, sebagai manusia, tentu hal itu sangat memberatkan. Setiap dari kita tumbuh, belajar, hingga terbentuk dengan cara yang tak mungkin sama. Persamaan ada karena perasaan. Lewat itu semua, keseragaman muncul lewat cara beragam. Ada yang keras, tampak, dan terbuka, yang kemudian disebut dengan doktrin. Atau, yang berlaku lewat metode yang lebih pasif: wacana.

Suatu kali, dalam diskusi yang berlangsung di angkringan, ada sebuah pertanyaan menarik yang diajukan seorang teman: “Menurutmu, Indonesia merdeka karena apa?” Sebagian besar orang yang turut terlibat dalam percakapan itu menjawab sebagaimana pengantar dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Terlepas dari itu, ada satu jawaban yang membuat suasana hening beberapa detik.

“Kita merdeka karena semua orang teriak merdeka. Kita mandiri karena setiap orang berteriak berdikari.”

Berkat pernyataan itu, pembicaraan bergeser ke pelbagai topik, meski masih dalam ruang lingkup sama. Bagaimana kemudian pernyataan dapat membentuk kesadaran individu, komunitas, dan konstruksi sosial. Hadirnya kesadaran dalam pengertian yang lebih mendalam disebut sebagai pengorganisasian.

Kita kembali menengok tabir sebuah lagu yang pernah berkumandang di jalanan Italia. Para partisan yang berhasil melengserkan rezim Benito Mussolini, menyanyikan Bella Ciao sebagai penyemangat sekaligus alat pengorganisasian. Satu pengertian yang dapat ditangkap pada waktu itu adalah ketika akumulasi perasaan yang tak terbebaskan terpanggil, ia menjelma menjadi kekuatan yang sangat besar.

È questo il fiore del partigiano,

O bella, ciao! bella, ciao! bella, ciao, ciao, ciao!

È questo il fiore del partigiano,

Morto per la libertà!

Seiring waktu berjalan, pelbagai tulisan merangkum bahwa Bella Ciao memiliki sisi romantis. Ia seolah memberi penjelasan kepada seseorang, bahwa dirinya pergi karena keadaan menuntut demikian. Tidak dengan maksud meninggalkan, tetapi turun ke medan yang nantinya dapat mengubah keadaan. Mungkin tidak menjadi lebih baik, tapi menjadi lebih aman.

Lalu, hal serupa juga terjadi di Indonesia. Berbeda dengan Bella Ciao yang berpamit pergi kepada kekasihnya, di Indonesia, melalui Darah Juang, seorang anak meminta ibunya untuk merelakan bahwa ia pergi agar keadaan berpihak kepada mereka yang papa. Hingga hari ini, kedua lagu itu masih berkumandang di jalanan.

Dan, yang cukup unik dari keduanya adalah bukan dinyanyikan karena sekadar hafal sehingga setiap orang mesti sing a long. Tidak. Keduanya serupa api yang menyulut jerami kering. Seketika itu pula, situasi akan berujung kepada dua hal: kemenangan atau dipadamkan.

Bukankah ujung dari kedua hal itu sering kita jumpai? Apa yang lebih sering ditemui? Alih-alih kemenangan, kabar di hadapan yang lebih sering terjadi adalah dipadamkan. Tak ada pepatah mati satu tumbuh seribu jika kematian diarahkan tanpa kompas kepada siapa saja. Internal atau eksternal. Satu jaringan atau sekadar beririsan.

Begitulah kejadian yang tidak mengenal catatan dan rentetan waktu. Keadaan menjadi rumit. Konvensi kultural mengalami kebuntuan. Pelbagai simulasi muncul sebagai bentuk setting atau kontrol. Negosiasi yang semestinya terbuka, menjadi tertutup, menihilkan daya tawar pemikiran dan tindakan.

Jalanan Italia hampir seratus tahun lalu, membawa kabar apabila pertemuan antarmanusia secara langsung tetaplah penting. Ia bisa saja terasa transaksional, tetapi di luar itu, setidaknya ada mata yang memberi jembatan kepercayaan. Di mana, tidak selamanya keuntungan dan kemenangan yang berada di antaranya.

Bagaimanapun air mata sudah terlanjur jatuh terlalu banyak. Keringat sudah terlalu membuat basah pakaian. Tembok kasar sudah terlampau sering menggesek kulit. Dan, jika tidak untung dan menang, siapa yang masih bertahan di kanan-kiri? Dialah yang mengurai maksud dari balik kata bertahan.

Hanya dengan begitu, merawat yang ada di sekitar, sekalipun tidak akan pernah meledak adalah keberanian. Mungkin, akan ada yang mengatakan bahwa keberanian itu hanyalah bentuk sembunyi dari keengganan berkembang. Mungkin saja tidak, dan tidak semuanya bisa disamakan dalam sudut pandang semacam itu. Sebab, kita tidak pernah tahu apabila bahasan terkait sudahlah mewakili kebahagiaan.

Karena lampu tak perlu dinyalakan khusus untuk siapa. Lampu sudah semestinya diarahkan ke tempat di mana setiap orang memiliki kesempatan atas penerang. Sebuah kematian apabila arah cahaya hanya menuju satu titik, sementara setiap titik di sekitarnya adalah bagian keseluruhan. Dan, seperti jerami sebelumnya, lampu lebih sering dipadamkan.

Karena itu, bahasa Indonesia mencoba memberi pengertian tentang “kita”, yang tidak tunggal. Tapi, bersama-sama. Jauh sebelum kenyataan terbentuk, dari masa lalu, kita sudah terbiasa dihadapkan dengan setting dan simulasi. Entah sebagai penentunya, atau turut terlibat di dalamnya karena sadar, atau terjerumus arus deras yang menghanyutkan.

Seiring itu, konvensi kultural terus saja menghasilkan ketetapan. Ia terus berkembang dan berubah, serupa bayangan merdeka yang pernah diajukan dari masa lalu, atau di hari ini, dan di masa depan. Apakah masih relevan terus-menerus memisahkan sesuatu dari dua hal yang berlawanan? 

Dan, suatu kali, konon, seorang pemikir dari Jerman pernah mengajukan pertanyaan yang cukup menohok usai Perang Dunia II selesai: siapa yang pernah memikirkan mereka yang tidak pernah berpikir tentang menang dan kalah? Namun, mereka berada di antaranya tanpa satu pun yang memikirkannya.

Waktu terus berjalan. Malam sudah terlalu larut. Kekhawatiran di sisi lain tak bisa dibiarkan hadir karena pertemuan dan pertemanan. 

 

Penulis: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Temu: Persilangan dan Persimpangan"