Bangun: Berhasil, Gagal, dan Kebiasaan
Hari yang baik konon dibuka dengan harapan. Saat bangun dari
tidur, mengatur waktu hari akan berjalan seperti apa, lalu menggambar
kesuksesan akan hadir setelahnya. Itulah waktu yang menenangkan. Menghitung
segala kemungkinan yang akan terjadi. Membayangkan bahwa dunia akan berpihak
kepada rencana.
Sayangnya, kenyataan lebih sering tidak berada pada gambaran
seperti itu. Ketika rencana ideal sudah tergambar disertai piranti kecil yang
mengiringinya, agaknya tak ada masalah. Semuanya konsekuen. Dan, justru karena
itu yang jarang disiapkan adalah apabila kondisi demikian berbalik tidak sesuai
semuanya.
Dalam pergulatan itu, kadang-kadang bayangan berhadapan
langsung dengan kondisi riil. Pandangan yang terus bertarung, tidak
menghasilkan keadaan solid terbentuk: siapa konseptor dan siapa orang lapangan.
Sementara, yang bukan bagian dari keduanya sekadar dianggap penghias. Maka,
apa-apa hanya berasal dari dua tempat itu. Bukan sesuatu yang lebih cair.
“Apakah kerja kolektif akan berhasil?”
“Apakah kerja organisasi efektif?”
“Apakah kerja korporasi nyaman?”
“Apakah kerja individu menyelamatkan?”
Pertanyaan semacam itu terus muncul di mana pun. Mungkin
dalam bayangan penutur adalah pengantar ontologi atau epistemologi, namun
menjadi kurang pas apabila situasi sedang membutuhkan keputusan praktis.
Bayangkan, jika suatu kumpulan mendapat pertanyaan menyoal kolektif sementara
kumpulan itu kesulitan mendapat pekerjaan, dan mereka sedang melakukan
pemenuhan ekonomi. Maka, pertanyaan demikian juga tidak begitu tepat.
Terlepas dari laku ideologi atau pertarungan wacana, melihat
situasi dan posisi menjadi sangat penting. Hal ini tidak dimaksudkan untuk
menyakiti satu sama lain, sekaligus memberi pengertian bahwa menghormati sesama
ialah sama pentingnya. Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan orang terdekat
menitihkan airmata kebahagiaan atau kesedihan. Bagaimana mereka membangun
harapan dan mimpi. Pula, saat menghadapi kegagalan atau keberhasilan.
Di tengah zaman yang penuh keriuhan, penuh perbandingan
kelas, menengok kembali kekayaan makna bahasa bukanlah hal sia-sia. Karena itu,
pengetahuan mengapa kata-kata tercipta di setiap zaman terurai utuh. Bahasa
Indonesia memiliki diksi “refleksi” yang berarti jawaban atas suatu hal atau
kegiatan yang datang dari luar dirinya. Bila hal itu pelan-pelan diresapi, kita
tidak akan kesulitan untuk melewatinya.
Saat waktu habis di ruang kerja atau kegiatan sejenis,
refleksi tidak selalu harus dilakukan secara terstruktur dan rapi. Seorang
buruh, akan sangat sulit melakukan semadi di tempat sepi atau jauh dari
keramaian mesin. Mereka berefleksi perihal hidup bagaimana caranya bertahan
dengan pendapatan yang jumlahnya mesti terbagi ke pelbagai kebutuhan.
“[nama tokoh film, penulis tidak teringat] punya matematika
ekonomi sendiri.” Ucap narator dalam film Pesta Babi (2026).
Barangkali pernyataan tersebut berada dalam konteks
masyarakat adat Papua. Namun, ketika ditarik ke dalam perjumpaan realitas, juga
berlaku ke hampir setiap manusia. Siasat adalah cara yang paling mungkin
dilakukan oleh setiap orang yang tidak memiliki banyak pilihan. Dan, siapa yang
membicarakan mereka? Sebab, mereka tak memiliki cerita sukses yang dapat
dijadikan contoh publik.
Padahal, apa yang diupayakan mereka ketika bangun tidur
adalah sama dengan pembuka tulisan ini. Realitas adalah pengalaman empiris,
bisa jadi pula membentuk pengalaman kognitif. Stigma atas kelas sosial-ekonomi
miskin, menengah, dan kaya adalah wacana yang tidak manusiawi. Sebab, bentuk
kebahagiaan dari ketiganya tidak bisa disamakan.
Meski banyak faktor, stigma semacam itu adalah muasal adanya
konflik. Bahasa sering mengambil peran itu bila tidak disadari. Ketika dalam
suatu obrolan yang isinya dimaksudkan terlihat setara dan beradab, menjadi
terganggu saat hal yang seharusnya tidak perlu muncul.
“Kae anake pak iki,” atau “kae anake bu iki.”
Lantas yang bukan anak siapa-siapa kenapa? Apakah mereka
kemudian dianggap lahir dari rahim yang salah? Apakah keliru di hadapan zaman?
Apakah lebih baik dimatikan di tengah arus kebudayaan? Dan, kemudian jika bukan
siapa-siapa apakah akses lebih baik ditutup?
Seharusnya tidak terjadi bila berakar pada semangat beradab.
Dan, di lingkungan sosial kita, ternyata hal itu masih jauh dari gambaran.
Bangun tidur dengan rencana adalah utopia. Bermimpi karena bukan siapa-siapa
adalah bunuh diri. Begitu, bukan?
Artinya, bangun tidur dalam rencana atau tanpa rencana
adalah pilihan. Terlebih, bagi yang bukan siapa-siapa dan tidak memiliki beban
apa pun. Merekalah yang menang atas segala pilihannya. Sekalipun di tengah
perjalanan akan kecewa atau terluka. Keberanian yang menyelamatkan, kata
FSTVLST.
Begitulah, kenyataan usai terbangun dari lelap. Subjek mesti
melewati hari yang akan sesuai dengan bayangan atau bersiasat lewat keputusan
praktis. Ketidakberpihakan situasi adalah guru yang mesti disadari, dihadapi,
dan dilakoni. Begitulah yang dilakukan Samiam, tokoh dalam novel Perjalanan
Mustahil Samiam dari Lisboa karangan Zaky Yamani.
Kisah yang menerangkan bahwa pengertian tidak hanya berasal
dari institusi formal. Novel berlatar belakang abad 16 itu menceritakan kisah
Samiam ke dalam perjalanan penuh tantangan. Ia menganggap bahwa hidup adalah
pengertian itu sendiri, baik dengan atau tanpa serapan, seketika atau menunggu
waktu.
Dari seorang pejuang, pedagang, budak, dan pengelana adalah
identitas yang melekat di tengah perjalanan hidup Samiam. Satu hal yang kuat
darinya ialah ia menyadari bahwa satu-satunya kunci dalam hidup adalah belajar.
Ia pernah menulis rencana, membuangnya, lalu menulis ulang, repeat.
Samiam dari Lisboa. Melakukannya tanpa penyesalan.
Bahkan, saat Samiam kehilangan seluruh yang dimilikinnya, ia
tetap tabah dan bertahan. Pada saat seperti itu ia merindukan bangun tidur
dengan tenang. Tidak seperti rusa yang sedang dikejar singa. Rencana kadang
tercapai, kadang juga tidak. Sementara, hidup harus terus berlanjut. Bersama
dengan segala bayangan dan kenyataan yang meliputinya.

Posting Komentar untuk "Bangun: Berhasil, Gagal, dan Kebiasaan"
Posting Komentar