Antrean: Tanpa Pemberhentian
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Di tengah antrean panjang pembelian BBM, rasanya gamang ketika berimajinasi mengajukan pertanyaan kepada orang-orang yang mengantre lebih dari dua puluh menit. Apa yang terlintas di kepala mereka? Apa gambaran yang ada di tengah lamunan lemas itu? Apakah satu di antaranya adalah perihal kesuksesan?
Semasa bersekolah, sukses, merupakan kata yang rutin terselip di antara nasihat bapak dan ibu guru. Ketika usia semakin menua, apakah kemelekatan makna sukses masih sama dengan penjelasan dari masa-masa indah itu? Atau, setidaknya, cita-cita yang tertulis di kertas saat absensi sebelum pelajaran dimulai teringat?
Jika seseorang pernah bercita-cita menjadi seorang presiden, ternyata sama sekali bukan itu yang terwujud, ketika menua apakah masih bisa disebut sukses? Barangkali kenyataan-kenyataan demikian subtil digali. Agar setiap cerita atas hidup dapat dikonsumsi siapa saja. Bahwa bisa jadi seseorang berhasil menggapai cita-citanya. Ada pula yang jauh lebih banyak tidak mencapai titik tersebut.
Yang berhasil, kisah hidupnya mudah ditemukan di buku, siniar, film, dan lain-lainnya. Ketika meninggal orang-orang semacam itu akan dikenang khalayak. Sementara, yang tidak, ceritanya menguap. Hilang. Dan, kehilangan satu cerita dalam kehidupan, seyogianya bisa digambarkan zaman telah kehilangan pelajaran. Berapa banyak cerita yang telah hilang?
Heroisme dan patriotisme terus diglorifikasi menjadi cerita utama. Sementara, generasi dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih berat daripada kisah yang mereka dengar. Mereka melihat suguhan bahwa menjadi seorang pemimpin di tempat mereka hidup, senyatanya meski berasal dari kalangan tertentu.
Lihat, siapa para pemangku kebijakan dan yang mengurus hidup khalayak hari ini. Berapa presentase yang benar-benar berproses? Bahwa memimpin tidak berbasis keturunan siapa pun, alias berangkat dari tempat gelap? Sepertinya hanya sebagian kecil dari mereka yang berada di posisi itu, yang tidak sampai hati menyampaikan “gagal, coba lagi” sebab mereka tahu kenyataan generasi yang sebenar-benarnya.
“Kowe kalah awune timbang cah kae.”
Sampai kapan pernyataan semacam itu akan dihadapkan kepada mereka yang bercita-cita? Dan, di tengah pernyataan itu, setara, duduk sebagai kata penuh makna di tengah-tengahnya. Suatu kali, ilustrator Menuju Maut, mengatakan bahwa hidup sangat absurd. Panjang-lebar ia menjelaskan, lalu mengakhiri dengan pernyataan yang sangat muram.
“Cita-cita bukan untuk orang-orang seperti kita di negara ini,” tegasnya (sudah dimodifikasi).
Apa yang disampaikan Menuju Maut sebenarnya merupakan sebentuk bisik-bisik yang mudah didapati di mana saja. Jika di sebuah pidato ada yang menyatakan bahwa hidup khalayak tenteram dan stabil, maka yang ia dengar adalah laporan, bukan kenyataan. Bahkan, untuk bermimpi membangun rumah saja, rasanya sudah berhasil membuat tidur tidak tenang.
Muram. Seperti orang-orang yang melaju satu langkah di tengah antrean BBM. Atau, seseorang yang mendapati bahwa BBM bersubsidi diberi keterangan “habis”, ketika hari sudah berganti malam. Mungkin saja ada logika yang belum kita mengerti sepenuhnya: ketika malam hari, isinya adalah orang-orang kaya. Tidak ada buruh bergaji UMR pada waktu tersebut.
Kehidupan bebas, tak ada intervensi, dan merasa aman serta nyaman (baca: bukan karena ketakutan) adalah utopia kiwari. Bayang-bayang yang sedang menjauh dari kemungkinan terwujud. Gambaran yang sepenuhnya sekadar lintasan di kepala. Namun, di antaranya, korsa, melekat dan hidup. Apa pun yang terjadi, tiada satupun yang mampu menghentikan. Apakah hal itu sesuai dengan mimpi atau tidak, bukan sebuah persoalan. Sebab, tak ada pilihan di hadapan waktu.
Dari satu tempat ke tempat lainnya. Perasaan sama akan terus menjalar. Sama persis dengan kisah-kisah sejarah perihal kemerdekaan dari semua bangsa. Jika perasaan sama sudah dalam situasi yang menuntut, perubahan sulit untuk dihindari. Radikal ataupun perlahan.
Hal-hal demikian penuh dengan pembelajaran. Karena itu, menjadi sebuah masalah apabila mereka yang mengurus hidup orang banyak bebal dan merasa tahu. Sementara, bisik-bisik dari tempat rural terus terjadi: pidato terus, mengerti tidak. Sungguh aneh bukan?
Hal ini tentu adalah persoalan serius. Ketika sesuatu yang berkait dengan kuasa didasarkan kepada keinginan semata, maka tak ada kebijaksanaan yang hadir. Nestapa akan menjemput. Bila waktu sudah tiada pilihan, bisik-bisik berubah riuh yang sangat kuat. Tak terbendung.
Waktu menjadi sangat cair. Milik semua orang. Mimpi bereposisi dalam bentuk keberanian. Alasan di baliknya sungguh mulia; untuk kehidupan yang lebih baik. Pengertian lain tentang hidup artinya adalah proses yang sangat dialektis dan tidak kaku. Kemudian kenyataan yang akan membayar dengan tuntas.
Kita sedang mengalami situasi di mana harapan terus dipatahkan. Cita-cita adalah bualan. Sementara, mimpi, merupakan kata yang terlanjur mengkristal. Sulit menemukan genggaman hidup bila terus-menerus dikontrol seperti hari ini. Serupa kematian yang datang lebih cepat sebelum pilihan ditentukan.
Debu jalanan mengudara tak henti. Keringat terus diperas untuk memperpanjang umur yang tak seberapa. Berbeda dengan usia pensiun mereka yang bersenjata. Terus diperpanjang, sejauh luka sejarah yang tak pernah terungkap.
Inilah hari di mana apa yang kita upayakan terasa sia-sia.
Karena itu berpegangan tangan merupakan tindakan yang sangat politis. Bentuk yang dapat memberi jeda kepada bahasa. Aktivitas yang dapat memberi peringatan kepada mereka. Bila perasaan sama telah bertemu di tengah puing cita-cita yang bergelantungan.
Mungkin jika berhasil akan membuat keadaan lebih baik. Jikapun tidak, juga sudah biasa. Setidaknya kepada anak-cucu kita bisa memberi keterangan dengan pengantar “dulu, aku…” berada di barisan dengan kepala tegak. Dan, menjadi catatan pembelajaran di ruang tamu.
Tulisan ini sangat kering. Tidak berperasaan. Tidak rapi. Dan, segala yang tidak-tidak. Seperti pidato yang rutin kita dengar setiap hari. Termasuk, ketiadaan cita-cita bagi generasi yang bukan siapa-siapa. Kecuali kalimat pamungkas yang paling sering tersampaikan sebelum tidur.
“Besok bekerja lagi.”
Penulis: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Antrean: Tanpa Pemberhentian"
Posting Komentar