Kamar: Tampak dan Lupakan
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Dalam beberapa waktu terakhir, saya seringkali menjumpai pembicaraan atau tulisan yang menyinggung perihal arsip. Arus-arus bertegangan kerap menginduk topik kepada museum, perpustakaan, tokoh, atau peristiwa besar. Dari situ, geliat pembahasannya menghasilkan seminar, workshop, pameran, atau acara sejenis.
Meski bukan masalah besar, namun ada induk topik yang semestinya bisa menjadi alternatif. Ialah kamar, ruang tamu, atau ceceran tanda di sudut rumah. Ada hal-hal kuat yang memungkinkan untuk menghasilkan topik yang lebih beragam. Saat orang berpikir mengapa selalu barang besar yang dibicarakan, maka tempat penyimpanan privat itu bisa menjadi pembuka tabir lain.
Sebagai misal, sumber pembahasan adalah perpustakaan, lebih sering yang didapati adalah menyoal buku. Sementara, jika berangkat dari kamar, misalnya, barangkali buku bukan menjadi suatu bahasan paling utama. Justru, bentuk-bentuk tulisan fotokopi yang merekam pemikiran atau pandangan liyan yang dapat dijadikan bahan.
Bagi mereka yang merawatnya—jarang menyebut diri arsiparis, memanggilnya dengan zine. Koleksi semacam itu sulit ditemukan di perpustakaan nasional, daerah, kampus, atau sekolah. Produksi terbatas serta spirit kemandirian menempatkan zine seperti benda mati. Bahkan, melampau itu, tidak sedikit anggapan bahwa zine sebagai barang yang mengancam.
Zine adalah literasi bebas. Jika pada proses penerbitan buku membutuhkan penyunting dan kerja tim agar “layak” dibaca publik, maka zine justru mengambil jalan penerbitan berbeda. Zine diproduksi dengan spirit berbagi literasi murah, tanpa beban editorial, serta cenderung membawa pesan yang liar. Spontanitas produksi-distribusi semacam ini yang mengantar zine berada di ruang privat.
Karena berada di ruang privat, akhirnya bagian-bagian yang semestinya bisa membuat suatu narasi terasa utuh menjadi bercelah. Induk narasi yang terpusat atau tersentralisasi seperti menegasikan inklusivitas sebagai makna performatif semata. Pertarungan pola gerak antara turun ke bawah atau di menara gading adalah persoalan yang tak pernah tuntas.
Di antara itu, ada pola kerja otonom yang sebenar-benarnya terjadi namun tereduksi hanya karena bukan bagian arus. Sentral adalah titik temu. Dan, di situ, yang berjarak—geografis atau wacana, menjelma menjadi sesuatu yang liyan dan terasing. “Kae bocahku” atau “kae bocahmu”.
Ketika keseragaman menuntut, kematian temporal sebuah ide lekas mewujud. Arsip adalah makna bahasa yang diperebutkan. Upaya penghidupan narasi yang muncul dari arsip-arsip seperti tubuh mengingat kejadian masa kecil. Bagaimana orangtuaku mengasuhku hingga membentuk diriku hari ini, batin orang-orang saat beranjak dewasa.
Hari ini, pada saat pembicaraan pemikir menekankan kedalaman, seolah-olah yang dangkal dan permukaan adalah kesia-siaan. Ada respons cepat yang disebut reaksi. Konteks tersebut teriring lewat keberadaan keberanian. Meskipun tidak jauh berbeda pengertiannya dengan tindak performatif, tetapi kenyataan akan berpandang atas nama sikap.
Begitu pula dengan barang-barang liyan. Keterbatasan yang terpagari modal, eksposur, tekanan kanon, dan ditambah algoritma, menjadikannya celah unik. Ketika idiom-idiom bahasa lekat pemaknaan berlebih, maka seribu jalan tafsir ialah galian tanpa arti. Pembebasan beban makna bahasa seperti sisa abu bakaran jerami yang melingkar. Jauh, dan lebih sering tersingkir karena angin.
Terpakunya ruang konvensional penyimpan arsip sebagai sumber, meletakkan akses yang kadang-kadang mesti ditembus dengan prosedur rumit. Mulai dari administrasi, jaringan organisasi, dan sejenisnya. Pernak-pernik kerumitan itulah yang memungkinkan literasi alternatif hadir.
Berkat kertas fotokopi dengan nama pena sebenarnya atau anonim, bacaan terakses lebih murah. Masalah utama, meski dalam pandang pencipta bukan masalah-masalah amat, adalah produksi massal. Bagaimana jika pilihan pencipta justru bukan menjadi sesuatu yang besar? Namun, menjalar seperti tumbuhan rambat yang menitipkan akarnya di tempat dia tumbuh.
Merekam aktivitas tetangga, kawan, atau bahkan negosiasi tentang nilai-nilai dalam keluarga adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. Kadang-kadang pengetahuan tidak melulu tentang kebesaran, kewibawaan, atau keagungan semata. Pengetahuan barangkali adalah filosofi memasak nasi goreng berbumbu kencur atau tidak. Lalu dua lidah bertemu, yang satu bilang mantap, yang satunya menyampaikan kurang cocok.
Mungkin, hari ini sudah waktunya mengarsipkan hal-hal semacam itu. Bumbu masakan ibu yang biasanya di warung makan ada embel-embel “rahasia keluarga sejak…”, dengan adanya catatan tentang dapur kita masing-masing, ke depan “rahasia” bukan tentang intervensi. Tetapi, menghadirkan otonomi bahwa setiap cerita, sekalipun kecil, sungguhlah berharga.
Hal itu jelas terdengar utopis. Masalahnya, sesuatu yang kecil lebih sering tidak tercatat, tidak terkurasi, dan tidak jarang dianggap tidak bisa menghasilkan perubahan bagi khalayak. Lantas, sampai kapan, narasi besar akan bersumbu pada tokoh-tokoh besar, peristiwa perang, bangunan bertembok tebal, atau mereka yang tercatat dalam majalah masa lampau?
Sementara, yang menggunakan cangkul, menanam padi, mencari rumput setiap hari, alias menggunakan alat untuk menghidupinya sendiri sulit ditemui dalam arsip-arsip. Zine, di awal, hanyalah permisalan. Dan, sisanya adalah sebentuk resah. Kenapa golongan kami tidak pernah dibicarakan atau dipikirkan. Apakah karena yang kami miliki sekadar cangkul? Apakah yang kami miliki sekadar sapi? Bukan karena di rumah kami bersemayam pusaka, atau kuda.
“Sudah. Tidak apa-apa. Sudah biasa.” Begitulah, bahasa yang sering ditemui dalam percakapan yang tidak sedang membicarakan “tokoh” atau “peristiwa besar”.
Ketika hari semakin sore, tiada yang lebih penting dari mengusap peluh. Lalu, kita mendapati dua pengertian: antara berangkat kerja atau pulang kerja. Pemahaman yang memang bukan sesuatu yang dianggap penting bagi kemajuan. “Sing penting kowe ngono, ngene.” Begitulah, ucap mereka yang terbiasa nyaman dari kapan pun.
Kamar adalah ruang privat. Tanpa melepaskan pengertian harafiah maupun metafornya, jangan-jangan kita tidak pernah sadar jika dari sanalah semuanya berawal. Kisah yang lebih dekat dengan barang terpendam daripada yang tampak.

Posting Komentar untuk "Kamar: Tampak dan Lupakan"
Posting Komentar