Anjing Mati (Matiasu): Musik Doom tak Pernah Mati!

Foto: Mumammad Dwiky

Lokananta, Jumat, 26 Juni 2026, menjadi saksi bahwa penantian selama 13 tahun terbayar seperti semestinya. Malam itu, Lokananta studio dipenuhi oleh golongan hitam bahkan dari luar kota. City of Laboratory dalam gigs The Last Wave of Triton, membawa kembali duo stoner/doom yang ikonik itu memijakkan kaki di kota Surakarta setelah tour pertama mereka bertahun-tahun lalu. Manusia berambut gondrong serta baju hitam berbondong-bondong datang sebagai kaum dari kultus Poseidoom yang siap menerka malam dengan kepala ngangguknya. Di luar line up band-band gaul seperti Silversky atau Senja Dalam Prosa yang disediakan oleh City of Laboratory, Matiasu tetaplah pionnya. Malam itu, sabdah dari fuzz yang dikawinkan dengan Les Paul Iqra (gitaris Matiasu) tergiang kencang menyeluruh di studio Lokananta.

Tepatnya pukul 22.53 WIB, ketika Matiasu dipanggil untuk menaiki stage, para kultus Poseidoom itu sudah bersorak ria, terlebih lagi ketika salam disampaikan oleh Iqra, disahut kembali oleh para manusia berbaju hitam legam, dan akhirnya riff pembuka dimainkan, di situlah menjadi bukti bahwa Surakarta selalu siap menerima musik Stoner/Doom.

Seiring berjalannya penampilan, situasi semakin liar dan kacau. Entah ada apa yang terjadi, tiba-tiba manusia berambut gondrong lompat tanpa ancang-ancang ke arah penonton. Sorot lampu merah, mempertegas suasana bahwa ini semacam ibadah yang harus dilakukan. Tak hanya itu, di sudut studio terlihat juga orang-orang yang menikmati sambil geleng-geleng terbawa lantunan dari pedal Big Muff yang terpadu. Intinya malam itu bukanlah gigs biasa, melainkan upacara pemujaan terhadap skena doom/stoner di Surakarta. Antuisiasnya gila sekali, bermodalkan dua orang, Iqra (gitaris) dan Haris (drummer) bisa membuat gaduh studio Lokananta malam itu. Terlebih lagi saat mereka melakukan tribute kepada Matt Pike (gitaris Sleep) dan membawakan Aquarian (1992). Serentak kaum-kaum Poseidoom itu dibuat terbatu dengan riff ikoniknya. Heran bukan kepalang! Sekali lagi hanya dua orang! Yang gitarisnya terlihat tak sesangar itu, bisa membuat orang-orang ngangguk mendengarkan permainannya.

 

Bincang dengan Matiasu

Walaupun secara akar band-band-an Iqra memulainya dengan bermain genre Hardrock atau Garage-rock, ternyata ia memiliki ikatan batin dengan Sleep yang cukup mendalam sebagai latar belakang terbentuknya Matiasu. “Pertama ngebandnya itu sekolah menengah, hardrock terus garage-rock, terus The Sigit sih utamanya. Terus baru dari situ mencari roots-roots lain dan pertama ketemu itu Sleep sih. Riffnya ikonik. Heavy-nya dapat, terus groove-nya dapat”, sahut Iqra sewaktu diwawancara. (26/06).

Dari situ terlihat, teknik permainan Iqra tak lepas dari pengaruh Matt Pike sebagai gitaris Sleep dalam membuat lagu-lagu Matiasu seperti Doom Dance, After Dark, dan lainnya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Iqra waktu ditanyai guitar heronya. Dengan tegas nan lantang ia menjawab. “Matt Pike lah, siapa lagi. Sayangnya di album Sleep baru, bukan dia”, sahut Iqra. Tidak hanya Sleep, ternyata band-band stoner/doom lainnya juga ikut mempengaruhi materi-materi yang dimuat Matiasu. “Matiasu itu sebenarnya perpaduan, dari Sleep, Electric Wizard, Church of Misery, dan Godsnake yang kita coba kolaborasikan. Kalau diperhatikan beberapa lagu itu, dipengaruhi sama band-band itu,” sambungnya.

Senjata Perang Iqra | Foto: Muhammad Dwiky

Alasan mengapa Matiasu memilih dua personil juga disampaikan, karena ia tak ingin bandnya hanya dikenal melalui musiknya saja, tetapi juga persona. Ucapanya ini terbukti, ketika ternyata tak butuh lebih dari dua orang untuk membuat gencar gigs stoner/doom. Ia juga menambahkan jika dua personil juga cukup. Kembali lagi atas persoalan persona ini pula, asma Matiasu dipilih agar lebih gampang teringat dan memiliki ciri khas.

Duo ini dapat dikatakan berhasil dalam membangun brandingnya di skena stoner/doom lokal dan membawa kultus-kultus penggiat musik tersebut semakin masif. Kembali lagi bersenjatakan Gibson Les Paul, pedal Big Muff, dan lantunan drum lamban, mereka berani mendobrak pasar dengan kekonsistennya yang terus dijaga. Bahkan Iqra sendiri mengimani, sejatinya musik yang ia mainkan tidak pernah mati.

“Stoner/doom gak bakal mati, karena punya komoditas sendiri. Pun juga niche market dan sesuatu yang niche akan selalu dicari. Karena adanya Matiasu bukan sebab relevan apa engga, ya karena suka aja”, tutup Iqra.


Penulis: Muhammad Dwiky
Editor: A.

Posting Komentar untuk "Anjing Mati (Matiasu): Musik Doom tak Pernah Mati!"