Mendengarkan The Architecture of the Ritual: Rilisan Split dari Plague, Attribute, Diligence
![]() |
| Gambar Sampul The Architecture of the Ritual |
Sebuah rilisan split yang menarik diluncurkan oleh Plague (Surakarta, Indonesia), Attribute (Oryol, Russia), dan Diligence (Tokyo, Japan) dengan membawakan melodi yang unik dan identitas daerah masing-masing. Split ini diluncurkan pada 3 Juli 2026 yang diproduksi oleh Hit and Burn Records. 3 band, 3 negara, dan 3 pendekatan musik yang berbeda membuktikan bahwa jarak dan perbedaan bukanlah sebuah halangan untuk keberjalanan pertemanan dan memproduksi sebuah karya yang menarik. Yang menjadikan split ini istimewa bukan hanya kolaborasinya, tetapi bagaimana tiga elemen dengan warna musik berbeda yaitu death metal, metalcore, dan hardcore bisa dirangkai dalam satu karya besar yang menceritakan tentang penindasan, aliran sesat, keserakahan, kehancuran diri, dan bayang-bayang masa lalu.
Plague - Beautiful Lies We Needed
Sebuah instrumen yang menjadi pembuka dalam split kali ini. komposisi ini terasa seperti sebuah pintu mempersiapkan pendengar untuk memasuki suasana yang lebih gelap dan reflektif di lagu-lagu berikutnya, sekaligus memberi ruang jeda sebelum intensitas emosional mulai dibangun.
Plague - Vow of Retalition
Lagu ini menurut saya penggambaran dari sebuah perlawanan, seperti judulnya Vow of Retalition yang berarti sumpah pembalasan, yang menjelaskan untuk tidak diam dalam menghadapi sebuah penindasan melainkan harus bangkit dan melawan balik.
Plague - Where the Cold Does Not End
Setelah didengarkan dan saya telaah melalui lirik dan distorsi yang dimainkan, saya menangkap lagu ini merupakan penggambaran dari kehidupan yang semu, keheningan diri yang membelenggu, dan bayang-bayang masa lalu yang masih menghantui diri sendiri, sebuah pengakuan pahit bahwa hidup terus berjalan dan harus bertahan dengan segala permasalahan yang ada.
Attribute - A Different Face, A New Meaning
Sebuah lagu yang mengisyaratkan bagaimana seseorang merendahkan diri pada sebuah aliran, yang pada akhirnya aliran tersebut hanyalah sebuah kebohongan untuk mengambil keuntungan dari “pengikut-pengikut” aliran tersebut. Pada akhirnya “We accept in silence this eternal flight from death!”
Attribute - Second Death
Dalam musik ini saya menangkap bahwa musik ini cocok didengarkan bagi seseorang yang sedang mendapati kebingungan, merasa tidak berkembang, dan putus asa. Ketika saya mendengar ini dan menelaah liriknya saya mendapat 2 kalimat yang menurut saya menggambarkan suasana dalam musik ini, “The sticky air can no longer be expelled from the chest” dan “Wandering from wall to wall in oblivion, giving up peace to fear and waiting for a second death”. Dua kalimat itu mewakili sebuah perasaan sesak dan putus asa akan kehidupan yang sedang dijalani, seolah tubuh dan pikiran terjebak dalam ruang yang sama tanpa jalan keluar.
Diligence - Preta
Saya merasa lagu ini menjelaskan tentang sebuah kepuasaan manusia yang tak pernah bisa dicapai. Mungkin bagi saya ini adalah cerminan untuk orang-orang “atas” yang tidak pernah puas akan apa yang mereka miliki saat ini, namun keserakahan tersebut menghantarkan mereka kedalam sebuah kehancuran. Judul Preta sendiri merujuk pada konsep hantu kelaparan dalam kosmologi Buddhis-Hindu, yang memperkuat tema kerakusan tanpa akhir ini.
Diligence - Beyond the miror
Sebuah lagu yang menggambarkan seseorang yang membenci masa lalu dan mencoba untuk membersihkan diri, namun noda masa lalu tidak akan pernah bersih, hal itu saya tangkap dari sebuah potongan kalimat lirik “I slammed my fist into it and shatters. A shard of the mirror pierces. With a pain that cannot be erased.”

Posting Komentar untuk "Mendengarkan The Architecture of the Ritual: Rilisan Split dari Plague, Attribute, Diligence"
Posting Komentar