Merayakan Persimpangan di Lokananta: Book Tour Lampu Apill Bersama Matapatjar, Naufal Riady dan Danang Rusdy
![]() |
| Foto: WB |
Melanjutkan dari rangkaian Lampu Apill book tour selanjutnya, Leluasa dan Rudi Agus Hartanto mengambil kursi diskusi di sebuah tempat cagar budaya dan pusat kreativitas Lokananta, dengan menjadikan Kopi Aloo sebagai ruang diskusi serta berkerja sama dengan kedai buku Matapatjar dalam bedah buku yang hangat ini (21/07/2026). Dalam acara ini Dian (Leluasa), dan Rudi (Penulis) di temani oleh Naufal Riady sebagai pembawa acara dan Danang Rusdy sebagai pemantik.
Bedah buku ini terkesan intimate karena tidak terlalu ramai seperti rangkaian-rangkaian book tour sebelumnya, namun masih dengan pembawaan pembicaraan yang santai dan masih berada di alur pembicaraan yang mudah dipahami.
Buku ini menarik karena isi dalam buku diambil dari daerah-daerah yang tidak terlalu kelihatan skena musiknya. Menurut Danang, pencatatan ini menjadi perwakilan antargenerasi dan harus ada tujuan serta ia melihat Rudi masih membawa rasa inferiornya. “Selama kita masih punya statement yang nanggung kita susah dalam merayakannya,” ujarnya. Menurut Danang tidak hanya Surakarta tetapi masih banyak kota yang belum terpapar media atau sorotan. Dalam pencatatan ini Danang menangkap bahwa modal sosial menjadi suatu hal yang vital. Danang juga mempunyai pandangan bahwa zine masih menjadi ramuan yang maksimal dalam pencatatan seperti ini.
Namun Rudi menekankan bahwa buku ini ditulis dalam konteks penulis berdiri sebagai penonton. Buku ini mencakup arsip perjalanan teman-teman, keluh-kesah teman-teman, ataupun isu yang sedang diperbincangkan hari ini. Walaupun Rudi mengatakan naif jika tulisan ini hanya untuk teman-teman, buku ini juga dibuat sebagai penebusan utang terhadap teman-teman.
“Kalau tidak bisa lolos di media, setidaknya ada yang mewakili suara teman-teman,” ujar Rudi.
Kimung yang membuat proyek Bandung Bawah Tanah menjadi pemantik Rudi dalam penulisan buku ini. Rudi juga menjelaskan bahwa ia banyak menemui jurnal ilmiah yang mengangkat arus bawah namun hanya sebatas Jakarta dan Bandung. Solo yang mempunyai banyak aktivitas arus bawah justru tidak dilihat ataupun diriset seperti gerakan arus bawah yang ada di Jakarta dan Bandung.
Rudi menjelaskan banyaknya diksi “barangkali”, “mungkin”, yang digunakan menjadikan tanda bahwa Rudi masih menemui keterbatasan akses dalam pencatatan ini. Tidak ada visual dalam buku ini disebabkan karena Rudi suka sesuatu yang berbau ingatan atau sesuatu yang tidak utuh (patah). Menurutnya, teks tanpa gambar membuat banyak orang dapat berimajinasi.
Rudi tidak berekspektasi lebih dalam karyanya ini. Rudi hanya ingin mencatat semangat teman-teman, lalu bisa memantik pengetahuan baru bagi siswa-siswanya (Rudi adalah seorang guru). Dengan buku ini sampai kepada siswa-siswi Rudi, mereka akhirnya tahu bahwa ada band-band seperti Green Day yang tumbuh di Solo. Menanggapi tulisan yang dianggap masih membawa inferior, Rudi menjelaskan bahwa tulisan ini dibuat secara sadar dan perasaan inferior ini tetap ada namun harus dibayar dengan keberanian.
Senada dengan Rudi, Dian menjelaskan bahwa program ini berjalan untuk merawat sebuah jalinan pertemanan dan menunjukan semangat gotong royong antarkolektif pada zaman sekarang. Selain itu, Dian, menjelaskan bahwa buku ini juga ingin menjadi bahan perbincangan untuk teman-teman. Ia melanjutkan bahwa buku ini ingin memunculkan ide-ide dari teman-teman kolektif lainnya. Buku ini juga diharapkan menjadi media untuk memperluas wawasan pembacanya atau bisa disebut sebagai corong informasi bagi pembacanya.
Dipantik mengenai apa atau bagaimana kolektif tersebut, Dian menjawab, Leluasa terbentuk atas minimnya ketersediaan ruang lalu mereka merebut ruang untuk lingkungan sekitar sendiri. Dilanjutkan oleh Danang, komunitas tidak hanya dapat berjalan pada satu bidang tetapi mereka juga dapat bergerak menjalar terhadap bidang lain. Komunitas ini dianggap sebagai lingkaran “setan” disebabkan oleh alur yang selalu berputar-putar dan anggapan bahwa seolah-olah komunitas harus tetap berdiri dengan idealis dan realistis.
Membahas mengenai kolektif, pihak Lokananta ikut serta memberi pengalamannya bekerja sama dengan kolektif. Pihak Lokananta merasa kecewa dengan teman-teman komunitas karena pihak Lokananta sudah memberikan ruang kepada teman-teman dan sudah percaya dengan kolektif. Namun, ada beberapa kolektif ternyata tidak memenuhi hal yang tidak sebagaimana kesepakatan.
Saya menangkap dari pembicaraan tersebut, ada ketidaksesuaian antara perjanjian dana dengan realita yang terjadi. “Hal tersebut tidak dilakukan oleh semua kolektif dan hanya beberapa saja,” ujar salah seorang pengunjung Ivan Ruly. Dari kejadian tersebut ia sangat menyayangkan hal itu terjadi, ia berharap agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.
Setelah diskusi selesai, kami mencoba wawancara mengenai acara malam itu. Ada Naufal, yang selain berperan sebagai moderator sekaligus pengelola Kedai Buku Matapatjar. Ia baru pertama kali membaca buku ini setelah diajak teman-teman untuk menjadi pembawa acara. Sebagai pembaca dari luar lingkaran, ia menangkap sisi teknis dan proses kreatif penulisan yang jarang dibahas dalam diskusi bedah buku pada umumnya, di mana biasanya obrolan lebih banyak berputar di sekitar buku ketimbang isinya sendiri.
Baginya, "Lampu Apil" adalah metafora lampu merah yang kerap dilupakan orang, padahal hidup justru banyak dihabiskan di titik itu. Lamunan, rasan-rasan, dan keluhan tentang lampu yang tak kunjung hijau. Soal musisi arus bawah, ia memandang gerakan grassroots sebagai ombak yang sering dianggap remeh, padahal jika bergerak bersama, akhirnya akan menjelma menjadi gelombang besar. Ia menutup dengan satu kata: asyik.
Pandangan lain datang dari Eden, yang hadir sebagai bentuk dukungan sekaligus rasa penasaran terhadap buku yang membahas musik dan Solo Raya. Setelah beberapa kali absen di rangkaian book tour sebelumnya. Ia mengaku diskusi ini memberinya landasan baru untuk memahami sudut pandang Rudi sebagai penonton dalam merekam berbagai peristiwa di Solo Raya, sekaligus memaknai "Lampu Apil" sebagai representasi persimpangan dan percabangan sudut pandang yang membebaskan pembaca memilih arah bacanya sendiri.
Senada dengan Eden, Danang Rusdy yang didapuk sebagai pemantik diskusi menilai justru menariknya forum ini karena tidak semua yang hadir berada dalam satu suara. Sebab ruang diskusi yang seragam hanya akan terasa menjemukan. Ia memaknai "Lampu Apil" sebagai representasi dinamika traffic light lengkap dengan riuhnya jalan raya, dan menilai bahwa istilah "arus bawah" atau underground kini kian tidak relevan karena setiap orang punya cara masing-masing mengelola karyanya di era yang lebih terbuka ini. Keduanya menutup kesan dengan kata "mantap" dan "dinamis".
![]() |
| Danang Rusdy | Foto: WB |
![]() |
| Foto: WB |
![]() |
| Naufal Riady | Foto: WB |





Posting Komentar untuk " Merayakan Persimpangan di Lokananta: Book Tour Lampu Apill Bersama Matapatjar, Naufal Riady dan Danang Rusdy"
Posting Komentar