Lampu Apill dan Kota yang Belum Selesai Dibaca
“Belum mas. Jam 8”
Pesan WhatsApp dari Indra Agusta masuk pukul 19.44 WIB.
Padahal aku sudah duduk di atas Astrea Star putih gading di parkiran sebelah Pagars Backyards sejak beberapa menit sebelumnya. Mesin motor sudah lama mati. Rokok kretek yang kubakar tinggal separuh. Sesekali kuangkat kepala melihat orang keluar masuk bangunan di sampingku, lalu kembali menatap layar ponsel.
Malam itu, Minggu, 5 Juli 2026, aku datang untuk menghadiri bedah buku Lampu Apill karya Rudi Agus Hartanto. Poster elektronik menjanjikan acara dimulai pukul 19.00 bersama A. Dian Permana, R. Jalu Barnes, dan Indra Agusta.
Mungkin karena itu, sebelum masuk aku mengirim pesan kepada Indra untuk memastikan apakah acara sudah dimulai.
Belum.
Aku menghabiskan rokok sampai ujung.
Halaman Pagars sudah cukup ramai ketika aku masuk.
“Eh, Mas Jon.”
Indra mengulurkan tangan. Tak banyak orang yang masih memanggilku Jon. Sapaan itu selalu terdengar seperti datang dari fase hidup yang lain.
Satu per satu orang yang duduk semeja dengan Indra kusalami. Belakangan baru kusadari, dua di antaranya adalah Dian dan Rudi. Saat itu mereka tampak seperti peserta lain yang datang lebih awal.
Indra menunjuk sebuah kursi lipat camping yang masih kosong.
“Dari mana, Mas?”
“Dari rumah. Kartasura.”
“Ngga ke Suaraga?”
Lima menit pertama kami justru sama sekali tidak membicarakan buku. Obrolan melompat dari Suaraga Festival ke pembacaan soal Jawa Wellness sebagai branding kota, lalu bergeser ke tebak-tebakan soal aliran dana dan konstelasi politik lokal.
Menjelang delapan malam aku menuju meja registrasi. Barcode yang kupindai terhubung ke Google Form berisi data diri. Kolom domisili menggoda keisenganku. Pernah suatu kali, saat mengisi absensi di suatu acara, kutulis “Kongo”. Tak ada yang protes.
Malam itu tidak.
Alih-alih menulis Solo seperti biasanya, kutulis lengkap: Kartasura, Sukoharjo.
Di meja registrasi ada beberapa barang yang dipajang.
Merchandise.
Mataku langsung berhenti pada tiga buku yang dipajang berjejer dengan sampul coklat kemerahan.
Lampu Apill.
Refleks kuambil satu.
“Bisa QRIS, Mbak?”
Perempuan yang menjaga registrasi menghentikan makan malamnya. Ia justru menyapu ruangan dengan mata, mungkin mencari seseorang yang bisa menjawab.
“Belum bisa, Mas”
Aku mengembalikan buku itu. Sedikit kecewa. Aku sudah bertemu Lampu Apill, tetapi belum berhasil meminangnya pulang.
Tiba-tiba terdengar suara gamelan.
Aku menoleh ke dalam ruangan.
Untung segera teringat sedang berada di Jalan Sam Ratulangi. Jalan yang sebelum fly over Purwosari berdiri, pernah menjadi salah satu simpul tongkrongan, distro, dan musik independen di Solo. Kalau saja malam itu aku berada di sebuah pendopo tua, mungkin aku sudah mengira sedang kerawuhan–istilah yang kupakai ketika sebuah ruang terasa didatangi sesuatu yang tak kasat mata.
Dari dalam ruangan, empat orang sudah duduk di atas panggung rendah. Peserta memenuhi sisi-sisi ruang, sebagian memilih bersandar di tembok sehingga terbentuk formasi huruf U yang patah.
Saat berdiri, aku baru melihat Pak Frans di dekat pagar. Sejam sebelumnya aku sempat bertanya lewat WhatsApp apakah beliau akan datang. Bukan karena ada urusan penting. Aku hanya belum pernah datang ke Pagars. Rasanya lebih tenang jika ada satu dua wajah yang kukenal.
Di depan pintu aku sempat ragu melepas sepatu.
“Nggak usah, Mas. Dipakai aja.” ucap mbak penunggu registrasi.
Syukur deh.
Setidaknya malam itu Vans kesayanganku tidak perlu kutinggal di depan pintu untuk terinjak orang yang keluar masuk.
Dian mewakili Leluasa selaku penerbit buku membuka acara dengan permintaan maaf.
Buku yang malam itu hendak dibedah ternyata belum selesai dicetak.
Penyebabnya terdengar nyaris mustahil. Proses proofing dilakukan melalui ponsel. Di layar, warna halaman tampak kekuningan. Dian mengira buku memang akan dicetak di atas book paper. Baru ketika hasil cetak datang, Dian sadar. Yang kuning bukan kertasnya, tapi hasil foto dari ponsel milik si tukang cetak yang sudah uzur. Hasilnya tercetak di HVS putih. Alhasil, buku terpaksa dicetak ulang.
Aku tertawa.
Ganjil juga ya, di tahun 2026 nasib sebuah buku bisa ditentukan oleh kualitas layar sebuah telepon genggam. Apesnya, malam itu kami jadi berkumpul untuk membedah sebuah buku yang bahkan belum sempat kami pegang.
Jalu melanjutkan sesi diskusi dengan permintaan maaf yang lain. Ia merasa bukan orang yang paling tepat membedah buku ini. Masih banyak nama yang lebih layak atau lebih senior.
Namun setelah menyimaknya berbicara, justru tampak mengapa ia patut berada di sana. Meski mengaku bukan pembaca buku yang tekun, Jalu aktif terlibat di Solo Rumble Crew. Di kota yang banyak komunitas datang dan pergi, usia itu membuat ucapannya tentang kolektif terasa punya pijakan.
Ia berkali-kali menegaskan perbedaan antara komunitas dan kolektif. Dua istilah yang sering dipakai bergantian, seolah berarti sama.
Lalu yang paling membekas, ia melempar satu kalimat yang membuatku terus berpikir, bahkan sampai saat naskah ini ditulis.
“Heran deh masih ribut soal ekosistem. Itu sudah ada. Tinggal soal vegetasi-nya.”
Aku tidak tahu berapa orang di ruangan itu
yang langsung menangkap maksudnya.
Kalimat itu seperti memindahkan titik berat pembicaraan yang tempo hari sempat ramai di sosial media pelaku skena. Mungkin yang perlu dirawat bukan lagi ekosistem. Melainkan kehidupan yang tumbuh di dalamnya.
Indra Agusta lalu mengambil alih percakapan. Kalau Jalu membedakan komunitas dan kolektif, Indra mulai menguliti bagaimana istilah kolektif sering dipakai untuk membungkus praktik yang justru bertolak belakang dengan semangatnya. Menurut Indra, istilah kolektif atau komunitas terlalu sering dipakai tanpa benar-benar membangun hubungan antar manusia. Pengalamannya sederhana. Undangan menjadi pembicara atau ajakan berkolaborasi sering datang lewat DM dari orang-orang yang bahkan belum pernah ditemuinya.
Barulah setelah itu Indra benar-benar
menjalankan tugasnya sebagai pembedah.
Ia mengaku membaca file PDF Lampu Apill
sebanyak empat kali.
Sengaja tidak membaca pengantar, termasuk,
kuduga, blurb di sampul belakang.
Aku kembali teringat meja registrasi. Ya
bagaimana mau membaca sampul belakang. Bukunya saja belum selesai dicetak.
Empat kali membaca membuatnya menemukan
beberapa irisan yang menurutnya menjadi benang merah buku itu: Rock In Solo,
Down For Life, sepak bola, dan skena pinggiran—wilayah-wilayah yang sering
disebut sebagai Solo coret atau kota lain yang lazim disebut second city.
Menurut Indra, kekuatan Rudi justru paling
terasa ketika menulis tentang Rock In Solo dan Down For Life. Bukan karena
berhasil menggambarkan siapa yang tampil di atas panggung. Melainkan karena ia
memindahkan perhatian ke hal-hal yang nyaris tak pernah masuk liputan:
manajemen penonton hingga cara sebuah konser bekerja dari balik layar. Sebagai
orang yang berasal dari Sragen dan baru mengenal skena musik bawah tanah
sekitar 2008, Rock In Solo bagi Indra bukan sekadar festival.
Ia adalah pintu masuk.
Namun pujian itu tidak membuat Indra
menahan kritik.
Salah satu contohnya ketika Sukoharjo atau
Karanganyar masih ditempatkan sebagai pinggiran, sementara Solo menjadi pusat.
Atau ketika Rock In Solo disebut menghadirkan wajah Solo yang berbeda dari kota
pusat kebudayaan Jawa yang selama ini dikenal.
"Ya udah tabrak aja."
Baginya, Solo sejak awal memang tidak
pernah tunggal. Tidak ada satu wajah yang bisa mengklaim diri sebagai Solo yang
paling asli.
Rudi tidak buru-buru menanggapi kritik itu. Alih-alih membantah, ia justru membuka rak bukunya sendiri. Dari sanalah ia mulai bercerita.
Ia menyebut nama Yuditeha sebagai salah satu tempat ia belajar. Cerpen, puisi, bahkan novel pernah ia tulis dan terbitkan. Sampai suatu ketika ia menemukan buku-buku yang mengarsipkan skena dan kota. Ia menyebut Kimung Burgerkill, Anwar Jimpe Rahman, serta beberapa literatur berbahasa Inggris tentang musik dan kultur skena.
Lampu Apill tidak lahir dari ambisi menulis sejarah. Ia lahir dari dorongan untuk mencatat.
Sejak awal Rudi memberi satu batas. Tulisan-tulisan di dalam Lampu Apill lahir pada rentang 2022 hingga 2024.
Ia tidak mengklaim sedang menulis sejarah skena musik Solo. Ia hanya sedang mengarsipkan sepotong waktu yang kebetulan ia alami. Ia bahkan membayangkan suatu hari nanti buku itu diberikan kepada adiknya yang kini masih duduk di bangku SMP.
Sebagai jawaban sederhana:
Kenapa kakaknya hampir tiap hari wira-wiri dari pelosok Mojogedang ke Solo.
Mikrofon berpindah dari tangan ke tangan. Percakapan terus mengalir sebelum akhirnya forum dibuka untuk peserta.
Penanya pertama memperkenalkan diri sebagai Krisna dari Sragen.
Ia menanggapi pembacaan tentang pusat dan pinggiran. Menurutnya, batas-batas itu sebenarnya sudah lama mencair. Indikatornya sederhana. Belakangan, nama sebuah band di poster acara nyaris tidak pernah diikuti asal kota. Praktik yang sekian dekade lalu lazim kita temui di skena musik bawah tanah.
Aku nyaris gagal mengenali penanya berikutnya.
Raka.
Butuh beberapa detik sampai aku sadar. Rambut gondrongnya sudah hilang. Cara bertanya dan nada bicaranya tidak.
Masih sama dinginnya. Masih sama ringkasnya. Bahkan ketus.
Ia hanya mengajukan tiga kata kepada Rudi.
Context. Finding. Outcome.
Rudi tidak memulai dari buku. Ia kembali lagi kepada bacaan yang membentuk cara pandanganya.
Kimung. Anwar Jimpe Rahman. Serta berbagai bacaan lain tentang musik dan skena.
Context, baginya, bukan semata-mata Rock In Solo atau Down For Life. Melainkan tradisi dokumentasi yang membuatnya percaya bahwa pengalaman di dalam sebuah skena layak dicatat. Dan pengalaman di sini, jelas bukan selalu hal-hal besar. Hanya di Lampu Apill-lah, perkara nasi kucing sampai perlu diberikan catatan kaki.
Soal finding dan outcome, jawabannya justru terdengar sederhana.
“Saya bukan arsiparis. Saya juga bukan jurnalis.”
Rudi hanya mencatat.
Jalu sempat meledeknya kurang nongkrong. Ruangan tertawa. Rudi tidak membantah. ia mengakuinya. Catatan-catatan dalam Lampu Apill memang lebih banyak lahir dari sudut pandang seorang penonton. Bukan orang dalam yang sedang menulis memoar, melainkan seseorang yang berdiri beberapa langkah dari pusat keramaian, lalu mencatat apa yang dilihatnya.
Menjelang sesi berakhir, seorang peserta yang duduk di sebelah kiriku bertanya.
Namanya aku lupa. Pertanyaannya tidak.
Jika Bandung punya Kimung, Makassar punya Anwar Jimpe Rahman, apakah Solo juga memiliki arsip terpadu semacam itu?
Empat orang di depan sempat saling berpandangan. Mereka berbisik-bisik. Tidak ada jawaban yang benar-benar tuntas. Mungkin memang tidak ada.
Aku bergumam pelan.
“Tidak.”
Atau mungkin lebih tepatnya…
Belum.
Yang dimiliki Solo adalah potongan-potongan arsip yang tersebar di banyak orang.
Sebagian tercecer di zine.
Sebagian hidup di blog pribadi.
Sebagian tersimpan di hard disk.
Selebihnya…
Tetap menjadi cerita lisan.
Seperti banyak cerita lisan lainnya, perlahan ikut menghilang bersama orang-orang yang menyimpannya.
Forum ditutup dengan sesi foto bersama.
Aku tidak ikut.
Ponsel yang sejak awal diskusi kuletakkan di lantai kembali kupegang. Beberapa chat dan panggilan tak terjawab menunggu di layar.
Aku keluar sambil menyalakan sebatang rokok.
Tak lama kemudian Pak Frans menyusul.
“Cah-cah isih do mbahas Lokananta.”
Tak lama kemudian Rudi keluar.
“Lanjut nulis opo?” tanya Pak Frans.
“Taksih katah pak,” jawab Rudi dengan bahasa krama.
Masih banyak.
Belum sempat obrolan itu memanjang, Rudi pamit entah ke mana.
“Aku mlebu sik. Arep pamitan karo Dian.” ucap Pak Frans.
Aku mengangguk sambil menghabiskan rokok.
Namun beberapa menit kemudian kulihat ia belum juga keluar.
Obrolan yang kukira hanya pamitan rupanya berubah lagi menjadi percakapan.
Aku menyalakan kembali mesin Astrea Star.
Pak Frans masih di dalam. Kulihat seseorang
menodongkan ponsel ke arahnya. Mungkin wawancara.
Aku meninggalkan Pagars melalui Sam
Ratulangi yang semakin lengang.
Bedanya, saat berangkat aku hanya ingin
menghadiri bedah buku.
Saat pulang, aku membawa pikiran yang lain.
Setiap arsip selalu bermula dari seseorang yang memutuskan untuk mencatat.
Penulis: Nanang Musha adalah praktisi event di Solo. Sejak 2010, ia banyak terlibat dalam
berbagai festival dan kegiatan publik, serta mengamati bagaimana ruang publik,
budaya, dan peristiwa kolektif membentuk dinamika kota.

Posting Komentar untuk "Lampu Apill dan Kota yang Belum Selesai Dibaca"
Posting Komentar