Lampu Apill menjadi arsip dan memori yang berisi ulasan media, zine, dan pengalaman festival yang dikumpulkan oleh Rudi. Dalam buku ini, ia menulis mengenai karakteristik dan pilihan teman-teman dalam perjalanan bermusiknya. Namun, buku ini juga mendapatkan beberapa kritik dari Indra Agusta. Menurutnya, buku ini memiliki tata letak penulisan yang membingungkan pembaca. Ia juga menilai bahwa dalam buku ini hanya ada empat inti penulisan yang menonjol, yaitu Down For Life, Rock In Solo, Arus Bawah, dan Kaum Minor. Selain itu, buku ini dianggap kurang berani dalam berstatement, serta pemilihan beberapa diksi dianggap kurang tepat, seperti “solo keluar dari halusnya”. Penggunaan kata “band daerah” juga menjadi sorotan dalam kritik Indra. Menurutnya, “ora ono daerah atau pusat, kabeh yo pusat” dan diksi yang memusatkan pada konteks kedaerahan dianggap sebagai gaya bahasa yang lekat dengan masa Orde Baru.
Rudi kemudian membawa statement yang cukup kuat, yang berangkat dari teori lalu dikaitkan dengan kaum minor. Ia menyampaikan, “Selalu ada yang tidak kelihatan dengan konstruksi masyarakat yang absolut.” Arus subkultur ini dianggap mengganggu karena merusak tatanan yang ada. Skena bawah tanah merekam hal-hal yang minor dengan berisi perlawanan. Seperti Rock In Solo yang membuat orang-orang menjadi lebih menghargai sebuah produksi festival, pergerakannya dari waktu ke waktu terus tumbuh menjadi festival yang mulai bergeliat dalam isu-isu lingkungan dan sosial. Band-band “bawah tanah” pun mulai membawa isu-isu tersebut ke atas panggung, baik melalui cara pertunjukan maupun lirik yang dibawakan.
 |
Rudi & Indra Agusta | Foto: @nathanaelrhd
|
Bagian penting lain dalam buku ini adalah pembahasan mengenai zine. Saat ini, zine mulai merambat pada isu sosial, ekologi, maupun pameran. Zine sendiri dianggap sebagai media yang lebih jujur dalam mengungkapkan suatu hal, sekaligus menjadi solusi untuk pengarsipan berbagai peristiwa.
Menurut Jalu, dalam kultur sepak bola juga terdapat pola perlawanan, mulai dari banner, komunitas, kritik terhadap manajer, hingga kritik terhadap isu-isu sosial. Dalam kultur sepak bola saat ini, ia mengungkapkan bahwa mereka sadar apa yang seharusnya mereka lawan. Menurutnya, komunitas kolektif yang tidak berorientasi pada uang dan dibangun atas transparansi justru lebih mampu bertahan lama, sedangkan komunitas yang berorientasi pada uang dan terpapar FOMO justru lebih rentan bubar.
 |
Jalu Barnes | Foto: @nathanaelrhd
|
Perilisan Buku berjudul Lampu Apill: Musik dan Persimpangan yang digelar di Pagars Backyard turut dihadiri beberapa pendengar yang bisa dibilang cukup banyak. Setelah diadakannya sesi bedah buku, diskusi dan beberapa pertanyaan dengan pendengar. Saya mencoba mengobrol dengan beberapa pendengar dalam diskusi ini untuk mengetahui kesan dan perspektif mereka mengenai diskusi buku ini. Gutami Hayu, misalnya, ia datang karena penasaran dengan isi buku tersebut sekaligus ia ingin mampir ke Pagars Backyard. Meski ia berlatar belakang musik, ia mengaku berdiri diposisi outsider dan ia melihat bahwa musik tidak bisa berjalan sendiri tanpa ekosistem sekitarnya. Menurutnya "Dibalik isi musik yang terlihat seperti kechaosan, nongkrong-nongkrong, terdapat sisi humanis," ia menyebut hal itu sebagai bentuk solidaritas yang mahal harganya hari ini. Menurutnya "ternyata bisa dimulai dari sini," hal tersebut merujuk pada gerakan-gerakan kecil arus bawah yang jarang terlihat justru lebih berdampak dibandingkan sesuatu yang besar tapi utopis.
Frans yang hadir pada malam itu, mengaku datang karena ingin memberikan dukungan sekaligus resah dengan minimnya pengarsipan musik segmented di Solo Raya. Ia terkejut dengan jumlah yang datang pada acara kali ini dan ia senang melihat audiens aktif bertanya. Soal musisi arus bawah, menurutnya batas itu makin kabur sejak adanya media sosial, "musisi yang seolah-olah berada di arus bawah tiba-tiba bisa jadi di atas", meskipun ia yakin skena grassroot Solo Raya akan terus punya ceritanya sendiri. Serupa, Dewa datang karena tertarik dengan judul buku yang menurutnya pas untuk menggambarkan campur aduknya skena musik Solo Raya. ia memaknai “Lampu Apill” seperti rambu lalu lintas, merah untuk berhenti, kuning untuk berhati-hati, hijau untuk terus berjalan, dan semangat hijau itulah yang menurutnya masih ada hingga saat ini, seperti yang ia katakan "Teruslah mengalir, teruslah berjalan tanpa memetakan ideologi".
Ekosistem yang dibangun dalam komunitas kolektif, seperti pertemuan, obrolan, dan diskusi, merupakan kerja kolektif yang dibutuhkan oleh komunitas itu sendiri. Buku ini bukanlah buku problem solving, melainkan arsip mengenai perjalanan teman-teman dan lingkungan sekitar. Hal tersebut juga didorong oleh latar belakang Rudi yang berangkat dari seorang penonton yang ingin menulis mengenai apa saja yang ditonton. Buku ini diciptakan untuk menyebarkan semangat gotong royong yang tidak merugikan. Seperti yang disampaikan A. Dian, “jangan sampai ketika tidak ada dananya mengajak teman terdekatnya, sedangkan ketika ada dananya teman-teman di sekitarnya malah terlupakan”.
Penulis: Fadiel Permana Rizky, mahasiswa program studi S1 - Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saat ini sedang magang di Leluasa.
Editor: A.
Dokumentasi:
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
 |
| Foto: @nathanaelrhd |
Posting Komentar untuk "Words from Manahan: Lampu Apill Booktour bersama Indra Agusta & Jalu Barnes"
Posting Komentar