Sebelum Ingatanku Tenggelam di Laut (Bercerita): Sebuah Resensi

Foto: Gutami Hayu

Aku akan mengantar tulisan ini dengan menantang perumpamaan pembaca kekinian tentang satu kata: related. Seperti ungkapan Naomi Srikandi, “emang kalau gak relate terus kenapa?” dalam salah satu forum inkubasi teater di Yogyakarta tahun 2025.

Pertemuanku bersama novel karya Leila S. Chudori memerlukan waktu. Tertaut kemudian, atas kehadiran tokoh Asmara yang selalu ingin berpikir praktis. Asmara mengingatkanku pada ingatan personal tentang sesuatu hal yang dapat diukur—ia menyebutnya tangible. Ada secuil pemantik keserupaan di sana. Aku seperti menjadi bagian dari yang tak suka kegaduhan, menganggap bahwa dunia baik-baik saja, bahkan apatis dan terkesan merindu fakta elok semata.

Namun, menghabiskan satu novel ini kulakukan tanpa paksaan atau tendensi menggebu bahwa “aku harus berubah setelah membacanya”. Pertemuan dengan ragam bacaan bagiku sangatlah personal dan pragmatis. Aku adalah pembaca yang menuntut.  Berhubungan dengan akses dan kedekatan personal terhadap isi bacaan serta isu yang ingin kupelajari sebagai bentuk prasyarat.

Nampak bernas, karena di antara kelahiran jutaan karya sastra di dunia, mencicipi dari yang dapat dijangkau adalah bentuk syukur. Tulisan ini memuat ulasan serupa catatan, yang berkaitan pada pembacaan atas transisi tafsir pengetahuan personal yang tidak related, seperti berikut.

 

Impresi: Ingatan dan Memoar

Salah satu bagian yang membekas adalah tentang memeriksa cara kerja ingatan dan dampaknya dalam interaksi sosial. Prinsip sederhananya, ingatan–terlepas dari tahap pelan yang dimulai dari melihat—serupa proses mengamati dan menyimpan. Bagiku, ingatan adalah pecahan dari tahap mendalami bahkan menjiwai yang merujuk pada refleksi. Pantulan-pantulan berpendar inilah yang merambat ke subjek sekitar sebagai ruang lingkup sosial masyarakat. Interaksi satu sama lain erat kaitannya dengan pelibatan seluruh indera.

Misalnya, keberadaan Laut, Alex, Anjani, Ibu, dan Bapak tengah membangun ingatan di antara makan malam, yang tak ubahnya seperti ritus keluarga (hlm. 289). Makanan menjadi titik temu perkenalan, pemakluman, bahkan perjuangan yang selanjutnya dapat membangun intensi, baik subjek dengan subjek dan atau subjek dengan lainnya.

Bagi Alex dan Anjani, mereka telah diterima sebagai bagian dari satu kesatuan. Oseng pare dan sambal terasi adalah perantara yang menenangkan Ibu-Bapak atas beban akademis Laut. Ditambah manis dan sejuknya es cendol, memang tak mudah membekukan interaksi Asmara serta Anjani yang semakin mengalir. Makanan berhasil menghapus jarak dan menggantinya dengan keakraban.

Relasi Laut dan keluarganya terhadap makanan benar bagaikan ritus akan penghormatan. Layaknya seremonial, konstruksinya memang dibuat di waktu tertentu. Setiap hari Minggu, Ibu dan Bapak mengkondisikan tata cara dapat dilakukan, berhubungan dengan kehadiran masing-masing anggota keluarga inti. Bahkan, saat rasa kehilangan melanda, Ibu dan Bapak tidak menganggap Laut absen dari kehadiran. Tanpa mengurangi jumlah piring yang disediakan, Ibu dan Bapak merasai bahwa Laut masih menjadi bagian dari jalannya ritus.

Namun, di sinilah letak celah ketidaknyamanan atas cara kerja ingatan bermula. Bagi Ibu dan Bapak, waktu demi waktu berubah, tapi sosok Laut masih jadi bagian dari sakralitas kesucian yang dianggapnya dapat muncul secara tiba-tiba. Bahwa repetisi adalah penting, khas cara kerja ritus yang membutuhkan kontinuitas seolah menjanjikan rasa aman.

Ingatan telah menawarkan persepsi melalui titik memar sebagai luka akan kehilangan, menimbulkan persepsi yang tekanannya berbeda-beda. Asmara dengan alasan praktis menganggap hidup harus berjalan, sementara Ibu dan Bapak melihat bahwa ingatan adalah pengharapan. Pertanyaannya, apakah mengelola ingatan dengan segala persepsinya di waktu singkat, dapat disebut sebagai kemenangan? Rasanya kurang bijak jika menganggap Ibu dan Bapak adalah sebaliknya. Mengingat, bahwa ingatan tidak melulu berlaku pada yang indah saja. Terlebih, menerima yang terasa nyaman hanyalah serupa peta penjerumusan jalan semu. Di titik lain, kita sadar bahwa ingatan pahit yang membuat hidup tampak tak bergairah untuk dijalani, adalah sebuah fakta.

Lantas, bagaimana jika ingatan buruk sengaja terus dipertahankan bahkan dibangun ulang? Jangan-jangan, Ibu dan Bapak tengah mengunjungi kembali ingatan, yang barangkali telah sukses menjadi dorongan besar atas gairah dalam memutar roda hidupnya?

Pantikannya ada pada “rekonstruksi peristiwa” yang terlihat sukar, namun dilaksanakan dengan penuh kesediaan. Perlu daya dan upaya yang berangkat pada simulasi pembentukan pengalaman langsung. Bahwa ritus adalah cara menghidupkan kembali ingatan itu. Sejatinya, Ibu-Bapak tengah membangun ingatan baru, tentang melanjutkan ingatan lama yang tak terikat oleh benda semata.

Sudah barang tentu, bahwa tatapan personalitas antara Asmara dan Ibu-Bapak berkaitan terhadap tafsir personal atas persepsi dikotomis—rela dan tidak rela. Aku membayangkan adanya kinerja alamiah saat kita mengingat sesuatu: kehendak. Muaranya ada pada mempertahankan atau melupakan. Bahwa perasaan atas rasa gundah—dari persepsi personal—adalah bagian dari hasil transisi terhadap kegamangan, yang individu rasakan karena penundaan menentukan pilihan; membentuk-mempertahankan atau menghapus-melupakan.

Ukuran keberhasilan ingatan bukan hanya “hidup terus lanjut”, dengan membiarkan perintilannya lesap. Lebih penting lagi, ingatan senyatanya membuka katup empati agar kita masih layak disebut sebagai bagian dari makhluk yang tergolong manusiawi. Tidak harus mengalami dan membangun ingatan yang sama. Tidak harus pula merasa related. Memoar sekalipun menyakitkan, sudah sepantasnya memberi pengertian.

Lantas, dalam jagad yang lebih besar di luar gelembung fiksi. Apakah ingatan tentang Laut dan kawan lainnya sedang sengaja untuk dilupakan? Pada pertanyaan ini, ingatan seolah menemukan bahaya berikutnya. Jika demikian, rasa-rasanya Laut telah naik level menjadi memoar, bahwa kekejaman masih hadir dan ada di antara kita–para pembela dan perawat ingatan. Dan, secara tidak langsung, kita tengah menyaksikan adanya ingatan lain tentang situasi negeri hari ini.

Foto: Gutami Hayu

Serupa Kritik

Optimisme dan pesimisme seringnya seolah datang satu paket. Tidak lepas dari memoar, suasana atas ingatan di buku ini juga dibangun atas dukungan lagu dan pilihan kata. Satu di antaranya yang menggambarkan kelindan dua kutub di atas adalah We Shall Overcome oleh Joan Baez.

Ada situasi yang sulit dijelaskan tentang ketidakpastian di sana. Suasana atas lagu mewakili perasaan Bapak atas pengalaman hilangnya kawan begitu saja ditelan malam. Bapak adalah bagian dari masyarakat pembela, dari hidup yang mesti dijalani. Sulit menerangkannya, ketika harus membayangkan saja rasanya sudah sangat abstrak. Someday, barangkali yang dimaksud Jean untuk mewakili harapan terhadap situasi yang dialami Bapak.

Apabila abstraksi memang kadang perlu dikuatkan lewat diksi. Makian menjadi salah satu alternatifnya. Namun, perlu mengindahkan pertimbangan tertentu demi memilih kesan yang lebih casual. Bayangkan, bahkan mengumpat mesti dibarengi dengan unggah-ungguh.

Misalnya, pemilihan diksi yang merendahkan hewan, tentu adalah persoalan yang perlu ditinjau ulang. Monyet bukan makhluk yang harus kita anggap sebagai yang lebih rendah. Tak ada monyet yang lebih baik daripada kebengisan penculik aktivis, bukan? Sebaliknya, bajinguk adalah pilihan Laut yang patut dimaklumi (hlm. 123). Bagiku, pilihan kata sangatlah politis yang mewakili sudut pandang kontekstual. Bahwa rujukannya turut mewarnai kesan politically incorrect seperti yang disampaikan Ayu Utami. Artinya, hubungan kata dan yang terjadi hari ini bergantung pada kehadiran penuh pembaca yang senantiasa merefleksikan di kehidupan keseharian yang terus berubah.

Perihal gerakan, novel ini bukanlah buku saku yang menggambarkan cetak biru. Lebih subtil, bagian per bagian cerita sedang menerangkan situasi yang merujuk pada: what if your family is an activist? What should we do? And, what happen to our lovely government? What’s wrong with you?

Sama seperti yang digugat oleh Leila. Apa yang berubah? Mereka yang teringat seolah tak ada, diibaratkan seperti orang mati. Namun jelas, di antara kaum kita akan terus lahir, berkali-kali. Anehnya, tidak kurang orang suci mewartakan dan mengajarkan hal-hal bajik. Tapi, apa yang salah dari nasihat, tenggelamkah ia bersama ingatan kita?  Jangan-jangan, orang bijak justru mewujud dalam bentuk lain, yang enggan mendeklarasikan diri sebagai yang arif. Mereka yang kita jumpai dimana saja. Sebagaimana kebijaksanaan seharusnya dibutuhkan, bersama kekesalan, kekecewaan, kegelisahan, kemarahan, bahkan kehilangan.

Kupikir, terkadang kebijaksanaan tidak bisa hanya dinilai dari sebuah ketenangan bagai laut yang dalam. Kebijaksanaan di ruang yang lain juga muncul dari suasana gaduh. Bahkan letupan-letupan yang tak enggan menggugat sesuatu. Demi mempertanyakan situasi yang terkesan nyaman hari ini. Benarkah tak ada yang salah dari dan di sekitar kita? Capaian utopis akan selalu menjadi acuan harapan yang membuat kita mengingat, bahwa kita masih hidup.

Oh, deep in my heart

I do believe

We shall overcome, some day.




Penulis: Gutami Hayu Pangastuti adalah seniman dan penulis independen alumni Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM. Bersama grup Artaxiad Gamelan Syndicate ia turut menginisiasi Gamelan Camp dan Lokananta Gamelan Gigs. Ia pernah terlibat sebagai seniman residensi di Global Youth Culture Forum (GYCF) Korea Selatan 2018, komposer di Kata Bunyi Forum 2024, penulis buku di BWCF 2024, seniman eksibisi tunggal untuk pamerannya di Galeri Lokananta 2025, dan pelantun lagu bercorak tradisi Buddha. Kini, ia tinggal di Surakarta.

Posting Komentar untuk "Sebelum Ingatanku Tenggelam di Laut (Bercerita): Sebuah Resensi"