Membicarakan Komunitas dan Musik di Karanganyar dalam Lawatan Tur Buku Lampu Apill
![]() |
| Foto: Dok. Leluasa |
Sedikit melipir dari Kota Surakarta, buku Rudi Agus Hartanto yang berjudul Lampu Apill: Musik dan Persimpangan dibedah dan didiskusikan di Kabupaten Karanganyar, di Sedoso Coffee (14/07/2026). Diskusi ini dibersamai oleh komunitas asal Karanganyar, Linimasa Kolektif. Dibersamai oleh Dwi Prakoso selaku MC acara, Munanda Okki sebagai pemantik keberjalanan diskusi, serta Widi Samudra dan Erhan Al Farizi selaku pembedah buku ini. Antusiasme kawan-kawan dari Karanganyar dan sekitarnya yang turut hadir terlihat mendengarkan, dan turut serta terlibat diskusi menjadikan suasana terasa hangat, ramai, serius. Itulah gambaran yang mewarnai keberjalanan diskusi buku ini.
Okki selaku pemantik dari diskusi buku pada malam hari itu memberikan beberapa pertanyaan dan statemen sebagai jalan pembuka dari diskusi yang akan berjalan. “Lampu Apill merupakan sebuah metafora dari Kota Surakarta yang sekarang ini bertumbuh menjadi kota yang padat tidak hanya aktivitas sosial masyarakatnya, tetapi juga aktivitas kebudayaan dan musik yang bertumbuh di Surakarta” ujar Okki. Di mana suatu Kota yang padat akan geliat-geliat musik dan komunitasnya pasti akan dipengaruhi oleh daerah yang ada di sekitarnya.
Widi sebagai pembedah dalam buku ini, yang juga sebagai podcaster sekaligus penikmat band yang dibicarakan—khususnya musik punk dan underground—sejak bangku SD. Ia sangat konsen terhadap komunitas dan musik yang dibicarakan dalam buku ini. Widi ingin merasakan komunitas grassroots yang memiliki keterbatasan tetapi tetap dapat tumbuh bebas. Rasa penasaran itulah yang mengawali ketertarikan Widi terhadap musik. “Buku Lampu Apill: Musik dan Persimpangan menjadi perwujudan dari bantuan dan pantikan terhadap komunitas musik yang ada di Solo” jelas Widi.
Buku ini berisi kumpulan esai dari Rudi Agus Hartanto yang dibangun berdasarkan personalitas/kedekatan dengan teman-temannya di komunitas dan band musik di Solo Raya. Kedekatan yang menjadi jembatan dalam pengkaryaan buku ini diisi dengan band-band Solo, salah satunya, Down For Life yang banyak disinggung dalam buku ini menjadi hal yang mempengaruhi skena/komunitas musik di Solo. “Eksklusivitas bukan sebuah masalah karena mereka (komunitas) punya irisannya masing-masing. Pinggiran dan Eksklusivitas belum menemukan formulanya sehingga terjadi sebuah muara/irisan” pernyataan Widi mengenai kebertahanan suatu komunitas pinggiran.
![]() |
| Foto: Dok. Leluasa |
Erhan memberikan pandangannya mengenai buku ini sebagai rekam jejak Rudi Agus Hartanto mengenai perlintasan yang terjadi pada skena musik. Buku yang tidak ditulis secara struktural namun berdasarkan sudut pandang sosiologis. Erhan menggambarkan buku ini memiliki awareness tentang segala bidang yang ditulis, dengan mengambil sudut pandang yang tidak pernah tuntas (selalu melompat dari satu ke yang lain). Mulai dari Rock In Solo, sepak bola, dan apa yang dibahas dalam buku ini.
“Lampu Apill mengganbarkan musik sebagai arena yang terus dinegosiasikan (tarik ulur)” tutur Erhan. Kompleksitas dalam komunitas musik itu dibiarkan mengambang dan terus menggema sehingga belum menemukan konklusinya atau malah dibiarkan mengambang saja. Sama seperti pendapat Widi, Erhan juga menyoroti bagaimana buku ini terbentuk dari sebuah kedekatan dan gaya tutur penulisannya seperti mengobrol.
“Buku ini dari paragraf satu ke paragraf lain membahas konteks yang berbeda yang terlihat seperti meloncat-loncat menjadikan buku ini tidak tuntas/mengambang” Erhan. Buku ini juga membahas mengenai resistensi/kebertahanan komunitas-komunitas. Ada yang bertahan atau dipertahankan dan juga ada yang tidak bertahan. Kesederhanaan dalam komunitas yang dijadikan sebagai pilihan dalam menjalankan kerja itu tidak apa-apa, tetapi jangan jadikan kesederhanaan itu sebagai sandaran dalam komunitas.
Buku Lampu Apill: Musik dan Persimpangan dibiarkan mengambang atau tidak utuh. Base penulisan buku ini berawal dari rasan-rasan Rudi Agus Hartanto yang membuat ketertarikannya tentang sesuatu tidak pernah tuntas dan melompat-lompat. Itulah yang membuat buku ini terasa mengambang dan melompat dari satu konteks ke konteks yang lainnya. Booktour Lampu Apill: Musik dan Persimpangan digunakan sarana untuk bertemu dengan teman-teman dan menyebarkan semangat gotong royong.
“Saya hanya ingin menulis tentang teman-teman, kelak jika mereka sudah menjadi, hati-hati bila mereka menunjukkan taringnya” terang Rudi Agus Hartanto. Buku ini adalah sebuah arsip yang digunakan untuk merekam perjalanan teman-teman agar tidak hilang dan perjalanan tersebut tidak hanya dapat dikenang secara lisan.
Surakarta hari ini merupakan suatu daerah yang menjadi titik kumpul teman-teman dalam perjalanan musiknya. Sukoharjo yang masih berada dalam cakupan Solo Raya adalah muasal pantikan dan check point bagi Rudi sebelum kembali ke karanganyar. Rudi melihat bukan dari segi seberapa penting komunitas itu, tetapi tentang semangat komunitas itu berkumpul. Rudi merasa ketika tidak ada jalan untuk to do something, teman- teman komunitaslah yang menjadi jembatan untuk melakukan berbagai hal. Karena itulah yang ia tangkap bahwa komunitas merasakan hal yang sama.
Saya menangkap sebuah untaian kata dari Okki yang menurut saya menarik dan menjadi salah satu makna dari berbagai makna yang muncul pada kata “lampu apill”. “Lampu apill merupakan sebuah metafor dari Kota Surakarta yang sekarang ini bertumbuh menjadi kota yang padat tidak hanya sosial masyarakatnya, tetapi juga aktivitas kebudayaan dan musik yang bertumbuh di Surakarta. Jika dahulu mendayung dalam diksi sekarang mendayung dalam deskripsi.”
Antusiasme turut dirasakan Erhan yang datang untuk membalas dukungan yang pernah diterimanya dari Rudi saat merilis buku pada 2 tahun silam. Baginya, acara ini seperti temu kangen dengan teman-teman lintas komunitas seperti, Linimasa, Leluasa, dan Ngglituk Podcast. Dari jalannya diskusi ia menangkap ada upaya mempertemukan dua kutub, yakni hal-hal yang jauh dan hal-hal yang dekat dan mencari jalan tengah diantara keduanya.
Mengenai judul buku, Erhan memaknai “lampu apill” bukan sekedar rambu lalu lintas, melainkan sebuah persimpangan geliat musik lokal. Ia ingin buku ini dikonfirmasi dan dipertanggungjawabkan lewat teori agar tulisan di buku ini lebih matang. Ia menutup dengan satu kalimat untuk menggambarkan suasana malam itu nano-nano banget.
Kesan berbeda datang dari Dwi, yang hadir merangkap sebagai MC dan penyedia sound untuk acara diskusi ini. Dia datang juga karena dorongan dekat dengan teman-teman Sukoharjo yang telah banyak membantu selama ini. Baginya, buku ini berfungsi sebagai pemantik agar cerita dan pergerakan teman-teman dilekang oleh zaman maupun kehilangan pewaris untuk menceritakannya kembali.
Dari judul "Lampu Apil", ia membayangkan rambu-rambu yang mengisyaratkan berhenti, hati-hati, dan berjalan. Sebuah metafora yang menurutnya pas menggambarkan posisi komunitas-komunitas yang diceritakan Rudi. Ada yang masih bergerak, ada yang berhati-hati, ada pula yang telah berhenti.
Sementara itu, Jonathan, perwakilan Linimasa Kolektif penasaran dengan pandangan orang lain terhadap buku ini, menyoroti pentingnya menjaga komunitas tetap hidup walaupun dengan sedikit acara, sekaligus menyarankan pelaku musik muda di Karanganyar untuk memperluas relasi lewat sharing dengan musisi-musisi yang lebih dulu berkarya. Keduanya sepakat menutup kesan mereka dengan kata yang menggambarkan semangat malam itu: "keren" dan "pecah".


Posting Komentar untuk "Membicarakan Komunitas dan Musik di Karanganyar dalam Lawatan Tur Buku Lampu Apill"
Posting Komentar