Mencatat Kota #1: Forum Perdana Bicara Tradisi Pencatatan Skena Solo Raya

Foto: Studio Foto Solo

Mencatat Kota #1 (31/7) merupakan forum percakapan perdana yang digelar di Rumah Blogger Indonesia, acara ini dimulai tepat pada pukul 19.45 WIB sesuai dengan poster yang disebar, forum ini dipantik dengan buku Lampu Apil: Musik dan Persimpanagan yang ditulis oleh Rudi Agus Hartanto. Forum diisi oleh Rudi Agus Hartanto (penulis), Firman Prasetyo (Rock In Solo, Down For Life, dan MTAD), Fran (Saksi skena lintas semesta), dan dipandu oleh Nanang Musha.

Dimulai dari Nanang, ia menjelaskan bahwa Rock In Solo berawal dari sebuah inisiasi yang sekarang mulai berevolusi menjadi sebuah institusi dan mulai menemukan momentumnya. Menurut Nanang sebuah festival harus terkait dengan kotanya, seperti aspek sosial dan politiknya. Tradisi pengetahuan hilang yang menjadi kekhawatiran adalah ketika orang itu mempunyai pengetahuan namun pengetahuan itu hilang dan tidak diwariskan. Setiap dari kita berhak memiliki kesempatan untuk membangun tradisi pencatatan ini.

Ditanggapi oleh Rudi, ia tidak terbayangkan Lampu Apill bisa bisa dibicarakan di sini dengan orang-orang yang hanya bisa ia lihat dipanggung dan terhalang sebuah barikade. Berawal menulis di blog dengan membawakan tulisan yang dekat dengan sekitarnya, lalu ditahun 2015 ia mulai menulis mengenai Rock In Solo. Namun, diperiode 2016-2020 di Solo cukup sepi karena jarang ada festival underground. Ditahun 2021 ia mulai menulis lagi mengenai Rock In Solo dan Apoliptika (Down For Life). Rudi mengaku bahwa ia terinspirasi dari America Hardcore dan Bullhead, ia menegaskan bahwa tulisan-tulisan itu tidak hanya sekedar menyoroti tentang musiknya namun juga menyoroti aspek masyarakatnya. Rudi mengaku bahwa ia tidak bisa menulis mengenai musikalitas dan estetika, namun ia hanya bisa menulis mengenai wacana. Minat menulis Rudi dimulai dari lirik kemudian dengan gabungkan dengan metode yang ia pelajari. Rudi mengaku terpantik dengan kata-kata yang dibawakan oleh Stephanus Adjie ketika berada dipanggung  “Kami para bajingan dari kota Bengawan” yang menjadikan Rudi tertarik dengan bahasa. Ketika Rudi sulit mendapatkan sebuah data, ia memilih rasan-rasan sebagai jalan keluarnya. Ia merasa tidak ada beban ketika menulis menggunakan rasan-rasan, dari situlah ia mulai mencatat tentang skena Solo Raya.

Ketika Rudi berpikir tulisan tentang Solo hanya akan terbatas di rak buku dan ingatan saja, Dian (Leluasa): ”Koe ra pengen tulisanmu tentang musik diterbitke toh?”, dari situlah buku ini mulai disusun. Rudi mengaku inferior dengan tulisannya. Buku ini adalah tulisan POV, ia menulis hospitality pengalaman sebagai penonton. Mitigasi bencana menjadi hal menarik untuk ditulis. Rock shop dan venue menjadi salah satu hal yang ditulisnya dalam buku ini. Menurut Rudi, setelah covid zine mulai menjalar untuk hari ini. Zine makin mudah ditemukan sekarang. Tulisan seperti ini bisa ditemukan di universitas namun bahasa yang dipakai sulit. Ia melihat arsip-arsip ini tercecer pada hari ini.

Dari sisi Firman, ia di sini tidak sedang mencoba mengglorifikasi Rock In Solo, Down For Life, dan band-band setan lain. Menurutnya, penyelenggara festival dan konser hanya ingin memberikan penonton sesuatu yang mereka ingin tonton atau lihat, padahal sebenarnya di belakang panggungnya berisi kechaosan, panitia yang berantem, dan pusing untuk acaranya. Firman mengaku tertarik dengan buku ini karena di dalam buku ini berisi sudut pandang Rudi yang diambil dari kebanyakan sudut pandang yang orang lain jarang lihat. Firman menjelaskan, Rock In Solo itu terbagi menjadi 3 periode. Pertama tahun 2004-2010, kedua 2011-2020, ketiga 2021-sekarang. Pada periode kedua tahun 2012 menjadi tahun lepas landasnya Rock In Solo. Setelah 21 tahun, Projek yang awalnya dibuat hanya untuk bersenang-senang hingga sekarang mulai berevolusi menjadi salah satu bagian dari budaya. Ia mengaku merasa terbebani oleh perputaran ekonomi yang terjadi di dalamnya, pada awalnya juga ia beranggapan bahwa kota ini (Solo) belum siap mendatangkan band dari luar  negeri. Ia juga melihat adanya peralihan dari yang awalnya senang-senang hingga menjadi sebuah institusi. Namun, setelah berjalannya waktu, kota ini mulai siap akan hal ini karena mulai banyak brand yang masuk.

Beralih ke kacamata Fran, ia menjelaskan bahwa Rock In Solo berawal dari inisiasi teman-teman untuk membuat acara dengan menonton band-band yang mereka sukai. Secara ekosistem nasional, peran Rock In Solo adalah menontonkan band yang mereka tahu sampai band yang mereka belum ketahui. Menurutnya, secara keseluruhan untuk pengarsipan kita sebenarnya tidak terlalu bagus dari segala daerah ataupun bidang. Pada era 2000an sudah mulai ada penulisan namun sekarang mulai berkurang. Ia menjawab kenapa tradisi pengarsipan itu mulai hilang, menurutnya karena aktornya mulai sibuk, namun di sisi lain tidak bisa menjawabnya. Dan jika ia melihat pada zaman ini, referensi mengenai penulisan  harusnya semakin mudah, namun entah kenapa tradisi pengarsipan ini mulai berukurang.

Stephanus Adjie menambahkan, bahwa ia beranggapan tidak usah dipaksakan, ia melihat bahwa zaman akan terus berkembang, banyak media yang terus berkembang di media sosial hari ini. Ia juga menunjukan satirnya terhadap kondisi hari ini “mereka lebih mementingkan tai daripada tahu”, ini merujuk kepada anggaran pendidikan yang dipotong untuk program M**. Ia juga menegaskan bahwa kita sudah dibuat inferior sejak zaman kolonial, karena kita sudah dianggap bodoh dari dahulu. Menurutnya, sebenarnya kita sudah banyak memproduksi sebuah tulisan, namun hanya saja kita selalu dipatahkan oleh n****a. Menambahkan, “ini menjadi tugas Rudi dan kawan-kawan untuk mematahkan hal tersebut.”

Setelah mengikuti forum ini kami mencoba wawancara bereberapa rekan yang hadir, yang pertama ada Jar, yang datang dengan alasan sederhana namun personal, bertempat tinggal di sekitar lokasi acara sekaligus rindu bersilaturahmi dengan teman-teman. Dari diskusi malam itu, ia mengaku baru menyadari betapa kaya dan luasnya skena Solo, sekaligus membenarkan gagasan bahwa Kota Solo adalah kota lisan yang perlu mulai dibiasakan untuk dicatat. Baginya, judul "Lampu Apil" mencerminkan banyaknya rambu dan persimpangan yang harus dipilih warga Solo dalam menentukan arah, sementara buku ini menjadi rekam jejak perskenaan pertama yang pernah ia baca. Soal band-band arus bawah, ia mengaitkannya dengan watak khas Kota Solo lewat pepatah Jawa "koe banter ngoyak opo, alon ngenteni sopo", yang menurutnya menjadi salah satu ciri khas kota ini. Ia menutup dengan satu kata: "setara".

Wawancara kedua kami yaitu Nanang sekaligus salah satu inisiator program Mencatat Kota, Nanang bercerita bahwa program ini justru lahir dari pengalamannya menghadiri bedah buku Rudi di Pagars, di masa ketika bukunya bahkan belum sempat naik cetak sehingga ia belum bisa membacanya langsung yang kemudian mendorongnya mengundang Rudi untuk kembali membedah bukunya di forum ini. Ia ingin mengulik lebih jauh apa saja yang tercatat dalam buku tersebut serta hal-hal lain yang menurutnya perlu diceritakan, hingga arah diskusi malam itu justru mengerucut pada persoalan kesenjangan dalam tradisi mencatat dan menulis di kalangan pelaku skena. Ia memaknai "Lampu Apil" secara visual sebagai titik lampu merah, penanda penting untuk berhenti sejenak dari kesibukan skena guna mencatat dan merekam apa yang terjadi di persimpangan itu. Menariknya, ia menilai definisi "arus bawah" kini sudah tidak lagi relevan, sebab setiap orang bebas menciptakan panggungnya sendiri tanpa lagi terpaku pada dikotomi pusat dan daerah, dan baginya apa yang dilakukan teman-teman skena hari ini adalah sesuatu yang menyenangkan untuk disaksikan. Ia menutup dengan satu kata: "gak nyangka".

Lalu yang ketiga, kami mewawancara Stephanus Adjie. Ia mengaku mengetahui acara ini dari cerita Bowli saat sedang tur di Kota Pati, dan tertarik hadir karena buku semacam ini tergolong langka di Solo, khususnya yang mengangkat musik arus pinggir kota. Baginya, sebuah diskusi baru dianggap menarik justru ketika orang-orang pulang dengan pertanyaan dan kegelisahan yang belum tuntas terjawab, sebab dari kegelisahan itulah setiap orang pada akhirnya mengolahnya menjadi sesuatu entah menjadi karya, menjadi bahan renungan, atau sekadar menjadi penikmat, karena menurutnya setiap orang punya jalan suksesnya masing-masing dan tidak semua harus menulis, berkarya, atau berhasil dengan cara yang sama. Ia mengaku belum sempat membaca bukunya, namun menduga dari judulnya bahwa "Lampu Apil" merujuk pada suasana perempatan jalan, dan ia menaruh minat besar untuk membacanya lebih jauh karena topiknya musik, budaya, dan subkultur arus pinggir terasa relate dengan apa yang ia jalani, sekaligus menjadi bacaan yang menghibur di tengah bacaan-bacaan berat seputar demokrasi. Soal band-band arus bawah, filosofinya sederhana, bermusik pada dasarnya soal bersenang-senang dan percaya diri, sebab menurutnya popularitas dan uang hanyalah bonus, karena rasa senang itulah yang pada akhirnya membawa kebahagiaan, terlepas dari besar-kecilnya hasil materiil yang didapat. Ia menutup wawancara dengan satu kata: "menyenangkan".


Penulis: Fadiel Permana Rizky, mahasiswa program studi S1 - Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saat ini sedang magang di Leluasa.

Editor: A.


Posting Komentar untuk "Mencatat Kota #1: Forum Perdana Bicara Tradisi Pencatatan Skena Solo Raya"