DOM 65, Sebuah Perlawanan Stereotipe Musik Punk Lokal
Kota Yogyakarta, kondang dengan sebutan ‘kota pelajar’. Tidak hanya perguruan
tinggi dan pelajar dari berbagai daerah di seluruh Nusantara yang bisa kita temui di sana, tapi juga
berbagai genre
musik, lengkap dengan band nya.
DOM 65 (1997-2005)
Di akhir tahun
1997 di Yogyakarta, terbentuklah DOM 65. Sebuah band streetpunk yang memainkan Fast
Oi! gaya musik sebagai gaya musik layaknya The Ejected, sebuah band punk rock/Oi! dari Inggris.
Di awal
bermusiknya, DOM
65 memainkan
Fast Oi! genre musik seperti yang
dapat didengar dalam debut mereka Split album Laga Bara / DOM 65 Oi! Laskar Mataram (1999) dan mini abum mereka Oi! Ruck n Raw! (2001), yang pada bagian vokal diisi oleh Oik.
Pada tahun 2002,
DOM 65 merilis single berjudul Fortuna yang masuk dalam album kompilasi Oi! The Penalty: The Punk Rock Tribute To Football Terraces (2004). Single ini
adalah awal peran Imam Senoaji
sebagai vokalis.
Dalam lagu ini mereka banyak dipengaruhi genre musik hardrock yang cukup berbeda
dengan gaya musik yang mereka mainkan sebelumnya.
Setelah pembaharuan gaya bermusik ini, DOM 65 resmi merilis mini album fenomenal mereka yang berjudul Secret Warehouse (2004). Album ini sukses membawa pengaruh musik hardrock ke skena punk lokal. Lagu yang mereka cover; Shine On You Crazy Diamonds milik Pink Floyd, sebuah band aliran psychedelic/ progressive rock dari Inggris, berhasil melawan stereotipe musik dari skena punk lokal.
DOM 65 terus berkomitmen dalam menggali musik hardrock dan punkrock dengan merilis full album berjudul The Greatest Pledge Articles. Album ini dirilis secara independen oleh label rekaman mereka sendiri pada tahun 2005 dan album ini dianggap sebagai blueprint gaya musik DOM 65. Mereka memadukan unsur progressive rock dalam aransemen musik mereka. Gaya musik semacam ini menjadi gaya musik DOM 65 yang mereka mainkan sampai sekarang. Album berisi 10 lagu ini dirilis ulang dalam format piringan hitam pada tahun 2017 oleh Nirmana Records.
DOM 65 (2009-2022)
Pada tahun 2009,
DOM 65 merilis full album kedua berjudul Committed.
Album ini (dengan artwork Hyena di
sampul album depan) sedikit berbeda gaya musiknya dibandingkan dengan album
mereka sebelumnya. Konsep aransemen musik album ini sangat dipengaruhi oleh The Who, sebuah band dari Inggris yang
memainkan musik hardrock. Album ini
dinilai berhasil membawa kembali suara rock
vintage pada gitar karena mereka menggunakan peralatan musik vintage selama proses rekaman album.
Setelah band
hiatus dari tahun 2014, DOM 65 kembali lagi di tahun 2017 dengan versi yang
lebih modern. DOM 65 mencoba mereproduksi pengaruh musik mereka dari band-band
seperti Sham 69, Cock Sparrer, Cockney
Rejects, Angelic Upstart dan Blitz.
Mereka kembali dengan gaya suara yang spesifik, aransemen musik faktual dan
lirik lagu yang menonjolkan isu sosial.
Berkisar tahun 2019-2020, DOM 65 merilis empat single di bawah naungan Dugtrax Records di platform digital. Berbeda dengan lirik lagu mereka sebelumnya yang ditulis dalam bahasa Inggris, single terbaru DOM 65 ini ditulis dalam bahasa Indonesia. Keempat single ini mendapatkan review positif dari para pecinta musik di Indonesia: bahwa DOM 65 berhasil membawa penikmatnya pada kompleksitas kehidupan kota urban Yogyakarta sekaligus musikalitas yang sophisticated.
Tahun 2022, DOM 65 merilis sebuah EP berjudul Gembel Perumahan, yang berisi 4 lagu berjudul: Orang-Orang, Apokalip Hari Ini, Jumbo Bus, Dan Monyet Pun Mengemis. Diproduseri oleh Tommy Katjong dan Jimmy Mahardhika, album Gembel Perumahan yang menyuarakan keresahan sosial yang dialami oleh sebagian besar masyarakat Yogkakarta, khususnya di era pandemi kala itu, dirilis oleh Sinar Suara Records dalam format pita kaset dan digital.
Hingga kini, DOM 65 tercatat telah menghasilkan banyak karya yang bisa disimak di platform digital, dengan dua personil orisinalnya: Imam Senoaji dan Adnan D. Kusuma.

Posting Komentar untuk "DOM 65, Sebuah Perlawanan Stereotipe Musik Punk Lokal"
Posting Komentar