Tawakal: Monumen Ingatan

Gambar diolah oleh A.

Arianto Tawakal. Nama yang sangat indah, penuh makna, dan begitu kuat. Ia saat ini sudah berada di tempat terbaik. Masih seusia anak SMK, menyimpan cita-cita, dan harapan dari orang-orang yang dikasihinya. Sayangnya, ia bukan siapa-siapa. Namanya tak akan masuk dalam jajaran dokumen Arsip Nasional atau patungnya berdiri di Museum Nasional.

Tawakal adalah pengingat bahwa kekerasan, ketamakan, dan keangkuhan masih hidup dan mengancam siapa saja. Suatu kali, Seringai, pernah membuat satu kaus bersablon kalimat di bagian belakang: “Melayani, melindungi siapa?” Dan, sepertinya kalimat itu terus tumbuh menjadi pertanyaan turunan: sampai kapan?

Terlepas dari perdebatan pola pendidikan anak akan dibebaskan atau menuruti kehendak lingkungan di sekitarnya, perlindungan sudah seharusnya disadari menjadi kebutuhan paling mendasar. Seorang anak yang memiliki cita-cita beragam atas hidupnya kelak, ditambah bukan anak siapa-siapa, memang sepantasnya mendapatkan apa yang mereka harapkan.

Tumbuh di dalam kenyataan yang tidak berpihak kepada mereka, bahkan Tawakal sampai terenggut nyawanya adalah sebuah tamparan keras. Tetapi, di dalam realitas sosial kita, tamparan sekeras apa pun, tak ubahnya serupa angin lalu belaka. Bukan sebuah pembelajaran untuk perbaikan atau bahkan tumbuh menjadi lebih baik.

“Semoga cita-citamu kelak tercapai,” terang bapak dan ibu guru rutin di kelas-kelas.

Dalam hal ini, bahasa menjadi penguat bagi anak-anak untuk bermimpi dan bercita-cita. Ketika berhadapan di depan kenyataan justru berbalik serupa alih-makna dari ketidakberdayaan. Bahkan, sekalipun mereka masih di bawah umur. Harapan yang tertanam sekadar penenang semata. Mereka belum sempat mengupayakan harapannya hingga berpengertian: aku berhasil atau gagal. 

Siapa yang mampu membayar peristiwa yang dialami Tawakal ketika ia mengupayakan cita-cita saja belum terjalani namun sudah direnggut? Apabila mengukur dengan salah dan benar, apa kesalahan mereka sehingga harus meninggalkan dunia ini sebelum mereka matang memilah keduanya? Terlampau jauh berbicara akan menjadi lebih baik, apabila persoalan sama terus berulang.

Mas Suwardi Suryaningrat sudah memberi garis besar bagi pendidikan kita. Ibrahim dari Suliki juga telah membuat garis demarkasi kesadaran sosial-intelektual. Namun, apa yang dicanangkan jauh sebelum kita berteriak “merdeka” itu, kini berhenti pada tahapan slogan. Untuk menemani anak-anak menawakali mimpi saja, kita kesulitan, berkat hadirnya sebuah pukulan helm.

Seraya mendengarkan keberulangan sebuah tragedi keji yang kian menjadi daripada berhenti, Tawakal meneguhkan bahwa ia bukanlah anak-anak biasa. Ia mengambil posisi sebagai pengingat: monumen. Seorang anak tangguh bukan karena apa-apa yang melekat, tetapi karena betapa narasi tentangnya sebagai anak yang baik, memiliki cita-cita mulia, dan tidak jauh dengan lingkungan sekitarnya 

Mungkin, pertanyaan setiap orang tidak bisa memilih dari mana dirinya lahir terdengar angkuh. Namun, kenapa yang bukan siapa-siapa lebih sering menjadi korban? Bahkan, sekalipun ia tak melakukan kesalahan apa pun. Setiap orang yang bermimpi memang tak pantas mendapat hantaman helm.

Perlu diketahui bahwa helm adalah pengaman kepala. Pengertian fungsional dari zaman Romawi hingga kini tak banyak berubah. Jika pengertian para legiun menggunakan helm untuk melindungi bangsanya, maka sudah berbalik di hadapan Tawakal. Helm berbalik peran sebagai alat penyiksa.

Leonidas, seorang jenderal perang dari Sparta, memberi pengertian sesungguhnya untuk melindungi bangsanya. Atau, di dalam negeri, Soedirman, jenderal besar, melindungi orang-orang kecil di tengah kecamuk perang lewat narasi empatik bernapas melalui satu paru. Dan, dunia tidak kekurangan contoh.

Betapa pembelajaran dari seorang patriot sebenarnya tidak kurang-kurang dipelajari. Mereka menghadapi apa yang disebut dengan “musuh” sebagai bentuk pengayoman bagi orang-orang kecil. Sementara, di Asia Timur bagian selatan, tidak begitu adanya yang terjadi. Justru lebih sering sebaliknya.

“Tubuhmu membiru, tragis…” lantun Efek Rumah Kaca.

Foto: Instagram @banksy

Banksy sering mengunggah mural bertema anak-anak. Di salah satu unggahannya, Banksy menggambar fisik bervisual tulang. Dengan tafsir bebas, mural Banksy sepertinya diamini oleh warga satu planet. Sebagian mungkin berdasar kebencian, sebagian lainnya mungkin bertanya-tanya: mengapa selalu mereka? Apakah enggan berubah?

Ketika dunia dipenuhi narasi perbaikan diri dan perdamaian, kita seolah dihadapkan dengan polah para—seharusnya—pelindung yang nir perasaan. Ketidakterimaan dan ketidakpercayaan mungkin sudah menjadi simpanan setiap orang. Namun, kembali ke pertanyaan mula: sampai kapan?

Peristiwa itu terjadi di tengah perdebatan model pendidikan yang tak pernah usai: behaviorisme, nativisme, liberalisme, dan lain-lain. Namun, yang perlu diketahui adalah, di tengah perdebatan itu sama-sama mengupayakan bentuk ideal pengetahuan untuk kemanusiaan. Tak ada model yang berpandangan sebaliknya.

Mulai dari papan tulis, proyektor, hingga LED telah menampilkan materi-materi yang tak kurang bagi para pembelajar untuk saling melindungi dan mengasihi. Di situlah pendidikan berada di jalur yang mentas. Tawakal, pasti sudah memelajari hal itu dengan sangat baik. Dari pengantar sampai apa yang menjadi minatnya.

Mungkin hari ini adalah rentetan kekecewaan yang menghampiri kita terus-menerus. Sesuatu yang tidak pernah diharapkan oleh bukan siapa-siapa. When nobodies unite, it means the way is open. Siapa yang tahu perasaan yang sama? Sulit untuk mengukur perasaan apabila dihadapkan pada situasi yang jauh dari harapan.

Dan, lebih sulit lagi mengontrol kekecewaan yang melampaui batas nalar. Tak ada siapa pun. Jika orang banyak merefleksi dan memperingatkan, artinya ada masalah yang semestinya segera diluruskan. Kapan kiriman “maaf” tanpa tendensi tersampaikan? Saat melacak ingatan sepertinya yang ditemukan hanyalah nihil belaka.

“...Suara mantra-mantra/ bergumam di kepala...” rapal Tanasaghara. “...Beranilah jiwanya,” tegas musisi dari ujung timur Pulau Jawa itu.




Posting Komentar untuk "Tawakal: Monumen Ingatan"