Lebaran dan Suprlus Bebunyian yang Mengantarainya

Gambar diolah oleh A.

Di balik lagu jedag-jedug yang terus terbarui, barangkali ada tetangga kita yang kalender ruang tamunya belum terganti. Di balik sound horeg yang rambatan suaranya hingga berkilo-kilometer jauhnya, barangkali ada tetangga kita yang dalam rumahnya kekurangan cerita. Di balik linimasa ucapan Lebaran yang tak putus-putus, barangkali ada tetangga kita yang hiasan ruang tamunya masih memasang potret presiden dua puluh tahun lalu.

Tulisan ini bukan untuk mengupas sisi nostalgik dari fenomena Lebaran. Amatan tentang Lebaran yang bernada nostalgik sudah sangat banyak. Sebaliknya, cara pandang yang menempatkan Lebaran dalam lanskap hari depan justru jauh lebih sedikit. Bukan pula untuk mempertentangkan masa depan dan masa lalu, tulisan ini lebih memandang Lebaran dalam konteks refleksi. Seperti yang dikatakan oleh cendekiawan dan reformis dunia pendidikan, John Dewey, bahwa manusia tidak belajar dari pengalaman, tetapi manusia belajar dari merefleksikan pengalaman.

Refleksi Lebaran hari ini, kita menghadapi surplus bebunyian. Bebunyian itu berupa sound horeg, lagu jedag-jedug, knalpot brong, hingga notifikasi-notifikasi yang berlimpah. Keberlimpahan itu nyatanya tidak serta-merta membuat jiwa kita merasa utuh. Justru, keberlimpahan itu menimbulkan berbagai noise dan glitch dalam kepala.

Telinga kita yang hanya mampu mendengar sekitar dua puluh hingga tiga puluh ribu kata perhari dipaksa menampung berlipat-lipatnya pada Lebaran ini—dari basa-basi yang yang bersahut, obrolan yang bertumpuk, hingga notifikasi yang tak sempat dibalas satu per satu. Telinga kita yang biasanya hanya sanggup mengolah beberapa percakapan dalam satu waktu, dipaksa berpindah-pindah dari satu topik ke topik lain tanpa jeda: dari hubungan keluarga, kabar pekerjaan, hingga pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu ingin dijawab.

Telinga kita yang pada kesehariannya nyaman berada di kisaran 40 hingga 60 desibel, tiba-tiba harus berhadapan dengan bunyi yang melonjak hingga 80 bahkan 100 desibel—dari sound horeg, knalpot brong, hingga suara petasan yang saling mendahului. Sungguh, bebunyian itu bukan hanya menggetarkan badan, melainkan juga menggetarkan iman.

Di sisi lain, tidak selalu Lebaran hari ini diwarnai dengan surplus bunyi. Terdapat pula fenomena defisit bunyi jika kita menilik pada tetangga-tetangga kita yang kian renta dan rumah-rumah yang perlahan membisu. Salah satu pelajaran kita pada Lebaran barangkali tidak terletak pada meriahnya perayaan, tetapi juga dari heningnya sudut-sudut perayaan Lebaran.

Kita masih bisa melihat foto presiden yang usang di rumah-rumah tetangga kita. Hal ini berkesesuaian dengan tulisan Soe Hok Gie dalam buku Catatan Seorang Demonstran. Sekilas, bagian buku itu membahas tentang warga lereng Gunung Merapi yang masih memajang foto Soekarno kendati kalender sudah menunjukkan tahun 1969—4 tahun pascakekuasaan Soekarno. Menurut Gie, ada semacam romantisme suatu kepemimpinan yang akan lama melekat. Ada semacam konstruksi imaji ideal dari masa lalu karena dirasa lebih menawarkan kestabilan.

Kembali lagi tentang surplus bunyi, bagi yang tidak nyaman dengan gemuruh bunyi, mereka akan mudah sepakat bahwa Lebaran yang khusyuk dan khidmat adalah sebenar-benar Lebaran. Khusyuk dan khidmat adalah dua hal yang lekat asosiasinya dengan peribadahan. Ibadah ini merujuk ke menjaga hubungan dengan manusia dan Tuhan sebagai bentuk laku khalifah di bumi.

Akan tetapi, tidak selamanya perayaan Lebaran dapat terjalin dengan khusyuk dan khidmat. Kronik perayaan Lebaran dapat dilacak dari—salah satunya—amatan budaya dan sastra. Hal ini sesuai dengan tulisan di Sukusastra:

Ketika listrik belum masuk desa pada 1980-an, anak-anak dan remaja keliling kampung sambil bertakbir diterangi obor. Pada 1990-an, cerita-cerita tentang perjalanan mudik mulai menjadi cerita wajib di sekitar lebaran: pada dasawarsa itu, orang yang melakukan urbanisasi ke kota-kota besar memerlukan pulang ke kampung halaman pada momen Idulfitri—yang kemudian menjadi tradisi populer hingga sekarang.

Para penulis sastra Indonesia mulai marak merayakan Idulfitri sejak 1990-an itu, terutama dengan tema mudik. “Lebaran di Karet, di Karet …” karya Umar Kayam seluruhnya berisi cerpen-cerpen dengan tema mudik, yang tentu saja mengambil latar waktu sekitar libur lebaran.

Namun, kita juga melihat perubahan. “Ke Solo, Ke Njati” mendokumentasikan bagaimana wong cilik di Jakarta yang ingin pulang ke kampung halaman harus berjibaku berebut alat transportasi umum: bus. Jibaku seperti itu lazim dan dialami banyak sekali orang pada 1990-an, tetapi mungkin tidak demikian pada hari ini: banyak pemudik yang memilih kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil—terlihat dari kemacetan gila di jalan tol yang seharusnya bebas hambatan itu.

 

(Esai “Mana Sastra Lebaranmu?” yang dimuat di Sukusastra edisi 30 Maret 2025)

 

Tulisan tersebut menunjukkan bahwa momen Lebaran memiliki coraknya masing-masing dan tantangannya masing-masing. Sementara itu, tantangan kita hari ini terletak pada surplus bunyi yang tidak pada tempatnya.

Dalam kerangka itu, apa yang disebut Svetlana Boym sebagai the future of nostalgia menjadi perlu untuk kita tata ulang. Nostalgia tidak semata-mata berarti kembali ke masa lalu, tetapi juga cara untuk merefleksikan masa kini melalui pantulan masa lalu. Dengan kata lain, nostalgia bekerja dengan mengamati masa yang telah berlalu, mempertanyakan apa yang telah berubah, dan aspek apa yang seharusnya dipertahankan. Kesunyian yang absolut bukanlah jawaban dari fenomena surplus bunyi ini. Justru, rumusnya terletak pada upaya menata ulang relasi kita: antara manusia, bunyi, dan makna.

Begitulah kiranya, kenangan memang bisa membeku, tetapi ruang dan waktu selalu bergerak dengan cair. Dalam gerak yang cair itu, Lebaran tidak pernah benar-benar sama dari satu masa ke masa lain. Namun, justru di situlah letak posisi kita: bagaimana mengisi ruang dan waktu yang terus berubah itu dengan pengalaman yang lebih bermakna. Sebab pada akhirnya, suatu yang kita cari dalam setiap perayaan bukanlah sekadar keramaian, melainkan kemungkinan untuk kembali saling mendengar.


Penulis: Erhan Al Farizi

Posting Komentar untuk "Lebaran dan Suprlus Bebunyian yang Mengantarainya"