Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 6)
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Yogyakarta, 3 Desember 2045
Jembatan sudah dibentang, tetapi kesenjangan kian saja merentang… Suratmu sudah sampai dengan lekas, Jim; dan sudah
kubaca dengan lekas. Akan tetapi, keinginan membalas dengan lekas, mesti
kutunda: sebab beberapa soalan. Kuyakin, kau akan sedikit tertawa mendengar
alasanku: Mesti kurapikan naskah buat majalah cetak yang digarap mahasiswa itu.
Hahaha... Aku menunda membalas suratmu juga sebab anakku memintaku menjadi
pembicara pengganti untuk acara kampusnya: Membicarakan relasi antara kisah dan
sejarah, antara fiksi dan histori. Sial benar! Ah, kukira kawin, beranak, dan
berbahagia memang sejenis keentahan yang maha. Aku tak benar-benar tahu, apa
pilihanku tuk kawin dan beranak itu benar—meski jelas agama menganjurkan.
Namun, kukira, kehidupan yang lumayan baik ini adalah hasil dari doa
Ibu-Ayahku; dan anak-istriku. Kau tahu, doa penyair terasa getir, kan…? Anak
gadisku memang pandai, Jim; amat pandai; dan saking pandainya, karyaku habis
dikritiknya. Coba cari beberapa esainya di perpustakaan arsip di Madura; atau
kau akses saja media; akan kau temukan tulisan anakku, Jim. Tulisan itu
mengkritik habis tulisanku. Asu! Aku berada di batas antara: mesti bangga pada
anakku, sebab mengkritik karyaku, atau sebal dan geram karena itu. Sajak maupun
cerita adalah anak ruhani, ucap beberapa pengarang kenamaan. Karenanya, bisa
kau bayangkan anak fisik-biologisku memberi kritik pedas dan tajam pada anak
spiritual-intelektualku. Asu… Aku yakin, kau tertawa membaca bagian ini.
Tidak, Jim, tidak; anakku tidak tertarik padamu. Hahaha. Bukan sebab
apa, tapi anakku terlalu pandai. Hanya jenis penyair-pengarang di atas kualitas
kita yang bisa menariknya. Sajakmu bagus, memang bagus; tapi untuk menarik hati
anak gadisku, kau harus punya kualitas lebih. Kau tahu, dia sedang menggarap
kritik untuk puisi Chairil, penyair yang entah bagaimana kita junjung itu. Dan
kucuri baca tulisan kritik itu; sebab anakku tak mengizinkan kubaca—sebelum
termuat atau memenangkan sayembara.
Dan kau tahu, kritiknya berlandas, berpijak, benar, dan menunjukkan
serangkaian kecacatan Chairil! Asu. Anaku memang bukan anakku, agaknya; seperti
kata Khalil Gibran; meski tentu dia tetap anakku... Hahaha, aku ingat saat
membuatnya, Jim. Karenanya, Jim, tanpa perlu genap kau ajari, anak gadisku
telah membuat benteng yang terlampau tebal, untuk ditembus seniman jenis apa
pun, kecuali dengan kualitas tinggi.
Aku memang tersenyum geli, Jim; ketika tahu kau ada di Madura. Aku
teringat kawan-kawan kita! Kemarin, salah satu dari pemuda yang mendatangiku
juga pemuda Madura; dan tentu saja aku merasa bahagia—sambil bergumam dalam
hati: Selama lingkaran ini dibersamai pemuda Madura, kukira akan baik-baik
saja. Hahaha. Ah, ya, aku selalu menaruh hormat pada pemuda-pemuda Madura:
kepada Iwan, kepada Oji (yang kini menjaga toko dan sesekali mengingat mimpi
jadi cerpenis kenamaan), kepada banyak kawan lainnya…! Asu, benar juga,
utangnya. Kukira, meminjamkan 100 pada Iwanlah yang membuat kita sedikit-banyak
jauh dari bahaya. Semacam tolak bala! Aku ingat, penyakit usus dan lambung
serta hatiku; juga penyakit dadamu itu; tetapi amatlah mungkin, jika kita tak
mengutangi Iwan, nasib kita bisa lebih buruk… Iwan kuat di luar, rapuh di
dalam, ya, kan?
Jim, kukira, kau memang punya sejenis kecocokan dengan gadis Madura.
Namun, mungkin nenek moyangmu memang pelaut—atau pengembara. Berdiam terlampau
lama di suatu tempat amat mengusikmu. Tentu, sebagai kawan, aku ingin menyaran:
Carilah kawan mengembara. Namun, semua kembali lagi padamu.
Asu! Sudah tua begini, masih saja diromantisisme. Hahaha... Namun, Jim,
aku sungguh ingin berkata padamu: Keinginanmu untuk tak menyakiti siapa pun
nyatanya adalah keinginan yang paling menyakiti siapa pun, Jim; termasuk dirimu
sendiri! Asu, kebijaksanaan bapak-bapak ini agaknya memang mengerikan…!
Oh, ya, Jim, uang itu sudah kuberikan kepada kekasihku, kepada istriku;
guna membeli tepung, telur, dan apa-apa yang bisa dibuat kue. Aku masih merasa
sebagai pemuda Jawa; dan hendak menolaknya, hendak mengembalikannya; tetapi,
sisi yang lain berkata padaku: Jika diberi, terimalah… Jadi, kuucapkan terima
kasih; anak dan istriku juga mengucapkan terima kasih. Aku juga sudah sampaikan
ke anakku: uang untuk membeli novel dan esai tentang peranakan itu. Bersama
surat ini, kukirimkan juga esai yang agak panjang dari anakku, Jim: esai kritik
atas buku pertamamu itu—dan tentu saja menjadi kritik yang pedas dan menikam.
Kukira, esai itu bisa jadi hiburan tersendiri buatmu.
Dan, jangan kau bandingan esai anakku itu dengan esai tanggapanku dulu
itu. Hahaha… Sangat lain. Sangat jauh. Ya, kudoakan kebaikan untukmu, Jim;
semoga kau baik-baik saja. Kuduga, menghirup lama udara Madura akan
menyadarkanmu akan sesuatu yang Luhur, entah apa itu. Aku tak tahu, tapi
meyakini itu. Kalau boleh berharap, tentunya, senang juga mendapat balasan
darimu lekas-lekas. Aku memang berbakat menunggu; tapi melelahkan juga meunggu
itu—
Kubayangkan kau membaca surat ini dari tempat yang bisa memandang laut;
dan lamat-lamat membayangkan ada gadis manis iseng sendiri…
Bersambung...
Penulis: Polanco S. Achri (l. 1998) adalah seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Selain menulis, ia kadang menjadi kurator pameran, sutradara teater, dan produser film dokumenter. Ia bisa dihubungi di Instagram: polanco_achri.
.png)
Posting Komentar untuk "Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 6)"
Posting Komentar