Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 7)

Gambar diolah oleh A.

Yogyakarta, 24 Januari 2046

Suratmu sudah kuterima dan kubaca dengan ditemani secangkir kopi, Jim. Senang rasanya kau masih hidup—dan mengirimiku surat. Meski pendek, kurasa surat itu punya gema panjang: dan dapat kubaca ulang. Ah, ya, sembari menunggu surat balasan, terkadang aku membaca surat-suratmu yang silam. Cukup senang kubaca buku atau tulisan yang sudah pernah kubaca; dan tak tahu, entah kenapa, senantiasa terasa berbeda dan berbeda. Oh, ya, keluargaku di sini baik-baik saja, sehat-sehat saja; tak terlampau gelisah perkara makanan dan tempat tinggal—cukup berkecukupan.

Saat kau berkata sedang berada dan menetap cukup lama di Bali, aku teringat masa sekolah menengah pertamaku; tepatnya ketika kelas tiga. Saat itu, seperti yang kau tahu, aku bertemu gadis yang dinamai abadi—dan jadi semacam ibu bagi puisi-puisiku di suatu masa: sampai kusadari hidup berkisar antara “Tak Sepadan” dan “Derai-Derai Cemara”. Ah, kenangan... Saat itu, bahkan hingga kini, hingga kawin, beranak, dan berupaya berbahagia, tetap tak kupahami, apa itu cinta; dan aku pasti akan diketawai istriku, sebab bagaimana mungkin seorang penyair tak memahami cinta. Namun, sungguh, Jim, aku tak paham tentang cinta. Aku jadi teringat pada buku puisi pertamamu: Yang Tak Mereka Bicarakan tentang Cinta

Suatu waktu, dalam arti sering sebenarnya, istriku bertanya, apa aku mencintainya atau tidak. Dan, ya, Jim, saat itu aku berkata padanya, aku tak tahu. Namun, kukatakan berulang padanya, aku tak ingin kehilangannya, tak ingin dirinya terluka, dan ingin kutunjukkan segala apa yang bisa membuatnya bahagia. Namun, seperti kata manusia bijak: Manusia tak genap memiliki, tapi sudah merasa kehilangan. Namun, aku tetap tidak bisa berbohong… Aku takut kehilangan.

Asu! Aku sudah menulis beberapa paragraf dan sangat sentimentil—

Begitulah, Jim, satu soalan senantiasa membawaku mengenang silam… Dan, kukira surat ini demikian saja. Bersama surat ini kukirimkan beberapa terbitan pemuda-pemuda itu: beberapa buletin dan majalah garapan mereka. Semoga kau senang mambacanya. Kukirim juga sebuah buku kumpulan esai dan sebuah novel dari penulis muda negeri kita yang kurasa bagus—tapi sialnya tak dilirik pusat. Sebenarnya, kemarin-lusa, sudah kusiapkan setoples kue; tapi sebab pemuda-pemuda bebal yang gandrung pada sastra itu datang ke rumah jadi kusuguhkan. Istriku berkata tak apa. Jadi, ini kali, kuhadiahkan saja beberapa buku dan bacaan. Semoga kau senang.

Seperti di suratmu sebelumnya, kuserahkan kepadamu pilihan untuk kembali kepada Sunyi itu. Sekali lagi, terima kasih. Kudoakan kebaikan buatmu. Salam. []

(2023—2025)


Penulis: Polanco S. Achri (l. 1998) adalah seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Selain menulis, ia kadang menjadi kurator pameran, sutradara teater, dan produser film dokumenter. Ia bisa dihubungi di Instagram: polanco_achri.
Editor: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 7)"