Puisi Kabar dari Langit yang Sama - Munanda Okki Saputro
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Setelah Ia pergi,
kota itu tidak jadi dihancurkan.
Orang-orang kembali ke pasar,
menawar ikan, membeli roti,
anak-anak main di lumpur seperti biasa.
Ia yang diutus itu duduk di bawah pohon,
menunggu apa yang tak jadi terjadi.
Seekor ulat merayap di daun,
jatuh, merayap lagi.
jatuh, merayap lagi.
Di kejauhan, seorang perempuan
menjemur kain di halaman.
menjemur kain di halaman.
Sesekali menengok ke langit,
tapi tidak ada apa-apa.
tapi tidak ada apa-apa.
Hanya matahari yang sama
seperti kemarin.
seperti kemarin.
Matahari yang sama
Seperti besok.
Mojosongo, 04 Maret 2026
Di sini, kita menonton dari layar.
Cahaya biru menerpa wajah.
Sesekali sedih,
lalu kembali ke gambar kucing
dan iklan pinjaman.
Seorang penyiar menyebut "escalation"
dengan nada datar,
seperti membaca ramalan cuaca.
Sementara di tempat lain,
seorang anak mencari mamanya
di antara puing yang masih berasap.
Kita tak tahu mana lebih nyata
ledakan di sana atau getar di saku celana.
Tapi keduanya sama-sama
tak bisa kita matikan.
Mojosongo, 04 Maret 2026
Seperti besok.
Mojosongo, 04 Maret 2026
KABAR DARI LANGIT YANG SAMA
Langit di sana lain katanya
merah dari sesuatu yang bukan senja.
Ibu-ibu menghitung anak dalam doa,
Langit di sana lain katanya
merah dari sesuatu yang bukan senja.
Ibu-ibu menghitung anak dalam doa,
tapi angka tak pernah cukup untuk dikubur.
Di sini, kita menonton dari layar.
Cahaya biru menerpa wajah.
Sesekali sedih,
lalu kembali ke gambar kucing
dan iklan pinjaman.
Seorang penyiar menyebut "escalation"
dengan nada datar,
seperti membaca ramalan cuaca.
Sementara di tempat lain,
seorang anak mencari mamanya
di antara puing yang masih berasap.
Kita tak tahu mana lebih nyata
ledakan di sana atau getar di saku celana.
Tapi keduanya sama-sama
tak bisa kita matikan.
Mojosongo, 04 Maret 2026
Penulis: Munanda Okki Saputro

Posting Komentar untuk "Puisi Kabar dari Langit yang Sama - Munanda Okki Saputro"
Posting Komentar