Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 5)

Gambar diolah oleh A.

Yogyakarta, 26 November 2045

Setelah menimbang suratmu yang baru saja kau kirimkan dan surat yang sebelumnya lagi, aku cukup terkejut juga: ternyata jarak surat itu sudah setengah tahun! Selama rentang itu, tentu saja aku menanti surat selanjutnya, Jim. Akan tetapi, sekali lagi kuyakin, kau punya semacam pertimbangan tersendiri—dan kuputuskan guna menunggu balasan saja. Ah, kukira, kau masih paham, Jim, keahlianku untuk menunggu terlampau amat. Hahaha… Meski demikian, jelas, kau boleh menaruh curiga, aku bertanya-tanya: bagaimana nasibmu di kota sana. Dan sebab aku penyair-pengarang, aku membayangkan serangkaian kemungkinan: dari yang masuk akal hingga terlampau di luar nalar. Kukira, membayangkan sosokmu dengan cara demikian jadi menarik. Bukankah kau adalah tokoh fiksi yang terjebak pada dunia yang terlampau fakta ini, Jim?

Di sini, di kota yang terlampau sulit digenggam ini, aku masih begini-begini saja. Dan keluarga kecilku kurasa masih menempati ruang bernama “tak terlampau menderita”. Ya, aku masih saja ragu akan ruang bernama bahagia itu. Namun, kukira tak menderita sudah lebih dari cukup. Kemarin, anak gadisku menunjukkan esai panjangnya tentang penelitiannya, relasi Jawa dan Tionghoa.

Ah, aku kelepasan waktu itu: Andai ada Jimmi, kukira dia akan mendongengimu dengan kisah yang aneh-aneh tapi lumayan bisa dipercaya, Nduk… Kalau luang, dan berdiam cukup lama di Madura, akan kukirimkan salinan esai itu padamu, Jim. Dan kalau luang dan sempat, berilah beberapa rekomendasi penunjang untuk anakku; atau bagilah beberapa ilmu yang sudah menubuh dalam dirimu.

Oh, ya, dua pekan lalu, sekolompok anak muda mendatangi; dan tentu saja mengingatkanku pada masa muda kita: yang liar dan ngantukan. Mereka sedang menggarap majalah sastra. Asu, ucapku kala itu. Bagaimana tidak, Jim, di 2045, ada pemuda yang mau membuat majalah sastra cetak? Aku tertawa tentu; tapi melanjutkan dengan tanya: Apa yang bisa kubantu? Dan mereka memintaku menulis cerita bersambung. Asu, ucapku lagi kala itu; dan istriku yang di dekat situ lekas menegur: Jangan misuh-misuh, Mas.

Aku jelas terbawa pada rentang awal tahun duaribu likuran, ya, kan? Ada pemuda beralis tebal yang mengajak kawan-kawannya membuat majalah fiksi. Di hadapan mereka, lekas saja kutanya, manfaat apa yang akan kudapat. Mereka jelas berkata, mereka kekurangan dana; tapi juga tak mau merepotkan orang sepertiku dengan beban kerja sosial yang terlampau. Mereka menjanjikan sedikit uang; dan kuiyakan. Ah, sebenarnya, tak sebanding, tapi melihat sosok mereka: jelas, aku terbawa nostalgia. Asu, asu.... Aku masih menyimpan draf naskah novela lama; dan kuberikan saja. Pagi ini, mereka memberi cetakan pertama yang belum dipublis padaku. Aku senang; garapan mereka serius dan mengasyikan—

Lalu, Jim, sebab kau di Madura, kuharap kau berikan kisah-kisah menarik. Kau tahu, makin tua seseorang, makin butuh ia pada cerita. Kukira, kucukupkan saja tulisanku di sini. Agaknya, aku memang makin tak bisa menulis panjang seperti dulu. Tidakkah kau ingat, ejekan kawan-kawan: Cokro itu kalau menulis puisi seperti menulis cerpen dan novela, kepanjangan. Hahaha… Doa baik untukmu, Jim. Sehat-sehat. Semoga penyakit dadamu tak rajin kumat.

Bersambung...


Penulis: Polanco S. Achri (l. 1998) adalah seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Selain menulis, ia kadang menjadi kurator pameran, sutradara teater, dan produser film dokumenter. Ia bisa dihubungi di Instagram: polanco_achri.


Editor: Rudi Agus Hartanto

Posting Komentar untuk "Surat-Surat Cokro Soedibjo kepada Jimmi Lim (Bagian 5)"