Melewati Tahun Terburuk dengan Album Terbaik
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
“Ada dua hal yang paling saya sesali dalam hidup: tidak bisa berenang
dan tidak bisa bermain gitar. Selain keduanya, saya belajar untuk tidak
menyesali nasib.” – RA
Saya masih mengingat kalimat
yang ditulis oleh kawan saya dari Wonosobo itu. Ada beberapa alasan mengapa
kalimat tersebut bisa bertahan cukup lama di kepala saya. Pertama, tentu karena
penulisnya adalah kawan saya. Kedua, karena ia menuliskan sesuatu yang selama
ini gagal saya rumuskan sendiri hingga saya pun berujar, “Hooh ya?”
Ketiga, karena sialnya saya juga tidak bisa berenang sekaligus tidak bisa
bermain gitar. Mungkin saya gagal sebagai seorang lelaki, tetapi setidaknya
saya masih senang sarungan sembari duduk di teras rumah sambil nggerundeli
kebajinganan pemerintah.
Saya tidak bisa berenang. Ini
bukan persoalan besar, tentu saja, kecuali jika saya adalah Jack dalam film Titanic
yang harus berbagi sebidang papan dengan Rose demi keberlanjutan hayat di
kandung badannya. Sementara, satu-satunya keterampilan yang saya miliki
hanyalah mengapungkan penyesalan. Saya pernah berusaha belajar berenang, tetapi
tubuh saya tidak segera menunjukkan tanda-tanda hendak berdamai dengan air. Ia
lebih suka berada di daratan, tempat segala sesuatu memiliki pijakan.
Saya juga tidak bisa bermain gitar. Berbeda dengan berenang,
ketidakmampuan ini tidak mengancam keselamatan jiwa, kecuali jika saya
memaksakan diri tampil di acara dangdutan lengkap dengan orang-orang yang
sedang memiliki masalah pribadi. Saya pernah memegang gitar milik seorang kawan
dan mencoba memetik senarnya. Bunyi yang dihasilkan tidak bisa disebut musik,
tetapi juga terlalu teratur untuk dianggap kecelakaan. Barangkali ia merupakan
bentuk baru dari permintaan maaf.
Sejak saat itu, saya memahami
bahwa tidak semua orang dilahirkan untuk memainkan gitar. Sebagian yang lain memang
ditakdirkan menjadi pendengar. Kita boleh mengandaikannya sebagaimana sebagian
orang hanya ditakdirkan menjadi penonton pertandingan sepak bola, pembeli
tiket, atau orang yang mem-bleyer motor ketika timnya lagi menangan.
Lagipula, saya memiliki alasan
yang cukup masuk akal untuk tidak belajar gitar. Saya tidak punya gitar. Dan
untuk membeli gitar, saya membutuhkan uang. Untuk memperoleh uang, saya perlu
bekerja. Untuk bekerja, saya perlu memiliki tenaga. Untuk memiliki tenaga, saya
perlu makan. Sementara itu, untuk makan, saya kembali membutuhkan uang.
Begitulah saya menyusun sebuah lingkaran argumentasi yang sangat kokoh,
sampai-sampai saya sendiri tidak tahu mengapa kemiskinan mulai menyamar sebagai
filsafat.
Maka, selain tidak bisa
berenang dan tidak bisa bermain gitar, saya mencoba mencintai nasib. Terutama
ketika tahun-tahun berjalan dengan kebangeten bin nemen seperti
saat ini. Lalu, saya pun berusaha mencari sesuatu yang masih dapat saya cintai.
Saya menemukannya dalam album-album musik.
Tentu saja, saya tidak sedang
mengatakan bahwa musik dapat menyelesaikan segala persoalan. Musik tidak bisa
mengembalikan uang negara yang hilang, menurunkan harga bahan bakar,
membubarkan persekutuan ormas-ormas yang meresahkan, atau membuat para pejabat
tiba-tiba melakukan taubatan nasuha karena merasa bersalah. Mendengarkan
musik juga tidak dapat membayar tagihan listrik. Khusus untuk urusan terakhir
ini, musik bahkan cenderung tidak membantu sama sekali.
Namun, musik dapat membuat
seseorang bertahan sedikit lebih lama sebelum benar-benar membenci kehidupan.
Bagi seorang NPC seperti saya, setidaknya musik membuat hidup saya terasa
memiliki intro, reff, dan bagian instrumental yang cukup catchy untuk
dijadikan Instastory nan gaul.
Selain karena sarapan jenang
pagi tadi, ada satu hal yang membuat saya bertahan sedikit lebih lama hari ini.
Satu hal ajaib tersebut adalah album Paradoks Diametral dari FSTVLST.
Album ini tentu memiliki makna yang adiluhung. Namun, karena keterbatasan
kognitif dan psikomotorik saya terhadap dunia musik, saya hanya izin
mengatakan, “Terima kasih sudah membuat album se-josjis ini, Lik.”
Sependek ingatan saya yang jongkok, album ini merangkum sengkarut-sengkarut
problema kita hari-hari ini yang tak pernah selesai: peristiwa sejarah yang tak
menjumpai masa kininya, harapan yang perlahan meluntur, atau kosmologi yang
menaungi jagat kita. Mendengar album ini membuat saya merasa bahwa memolakan
kejadian-kejadian demi menavigasikan hidup adalah privilese sebagai seorang
manusia. Tuhan Maha Teliti, sebagai manusia yang mendapat kehormatan sebagai
salah satu makhluk-Nya, tentu kita mendapat sepersekian ketelitian karunia-Nya. MasyaAllah tabarakallah, religius sekali.
Album josjis yang saya
dengarkan selanjutnya di tahun yang sungguh gathel ini adalah Melankolia
Radikal dari Dongker. Album ini merekam kesedihan personal yang
berimplikasi dengan konteks sosial. Entah mengapa album ini membuat saya
teringat album Balada Joni dan Susi (2009) dari Melbi. Setidaknya saya memahami
bahwa keterkaitan Balada Joni dan Susi dengan Melankolia Radikal
terletak pada cinta manusia yang tidak pernah otonom.
Satu album dari kuintet art-school
punk-rock dari Solo, The Skit, juga tidak pantas dilewatkan. Adalah 1000 Kemungkinan yang menjadi album terbaru mereka. Ada nuansa dystopian-optimist
yang kentara menaungi album ini sepanjang 34 menit. Mendengarkan lagu semacam
“Badai Pasti Berlalu (Lalang)”, “Membelah Neraka”, “Mimpi/Sia-Sia” atau “Waktu
> Kepalamu” membuat saya belajar bahwa hidup pantas di-pisuhi
sekaligus pantas dijalani.
Sebetulnya, masih banyak
sekali album josjis yang mungkin teman-teman dengarkan di tahun
berjelaga ini. Sebagai misal, Constant Change dari Colorcode, Zzuf
dari ZZUF, Jahanam dari Black Horses, dan masih banyak lagi. Oleh karena
itu, selagi telinga kita masih bekerja, napas kita masih berdaya, dan jantung
masih berkenan untuk berkompromi diajak kerja bakti menanggung cicilan: marilah
kita dengarkan album-album yang bermunculan. Hidup terlalu singkat jika hanya
dihabiskan untuk mendengarkan berita-berita buruk dan rasan-rasan
tetangga.

Posting Komentar untuk "Melewati Tahun Terburuk dengan Album Terbaik"
Posting Komentar