Repetisi: Pidato Khayalan
![]() |
| Gambar diolah oleh A. |
Bumi tempat berpijak adalah landasan tentang arti bertahan. Kita setiap hari mendengar pidato yang meliuk-liuk, penuh tenaga, dan pernyataan yang berapi-api. Konon pidato dengan model seperti itu menciptakan suasana lebih meyakinkan. Kita pernah mendengarkan kisah seseorang belajar berpidato dari kamar mandi, di Jalan Peneleh Gang VII, di Kota Surabaya.
Kemampuan pidato tersebut terus bertumbuh hingga menghasilkan kemerdekaan bagi sebuah bangsa. Atas nama perasaan yang sama, keinginan untuk independen, serta menitipkan harapan agar hidup lebih baik. Bagaimana bila kita membalik kenyataan atas nama waktu. Itu dulu. Bangsa yang besar. Negara yang kaya. Masyarakat sejahtera. Dalam pidato.
Ketika hari ini peristiwa pidato semakin rutin terdengar, namun kenyataan justru ditemukan sebaliknya. Kiranya, orang-orang yang rutin berpidato tersebut perlu melintas jalanan Jambangan-Masaran. Agar pidato yang berapi-api berubah kenyataan, tidak ada jalan berlubang, sehingga suara truk tronton tidak lagi terdengar glundung-glundung, tetapi mulus seperti di film-film berlatar jalanan kota.
Atau, tenaga yang habis di atas mimbar bisa digunakan untuk memadamkan api di Kalimantan, Sumatra. Atau, sisa banjir di Aceh yang belum selesai. Begitu pula penanganan gempa di NTT yang belum tuntas. Apabila tidak terjadi, maka hal itu mengingatkan kisah Napoleon dalam novel Animal Farm, seekor babi yang terus menerus memanipulasi kenyataan di Peternakan Manor.
Kenapa dari waktu yang panjang kita lebih banyak mendengar (pemangku kebijakan) masalah? Kenapa kabar bahagia hanya melintas begitu saja? Apakah ada yang salah dari jenis kenyataan semacam ini? Benarkah slow living, di tengah realitas seperti ini ada? Apakah stoikisme bisa berlaku dalam rentang kenyataan yang terus-menerus ngelus dhadha? Bagaimana dengan mimpi yang rutin kita dengar. Terutama menyoal kesejahteraan dan kemakmuran?
Apakah pertanyaan sekilas di atas terdengar sebagai pemikiran yang sempit? Jikapun iya, banyak orang menyatakan hal yang sama. Memiliki perasaan yang sama. Masalahnya, hal yang “sama” itu berbalik dengan kenyataan alasan mendasar untuk merdeka. Namun, sekali lagi, hidup harus terus belangsung. Napas harus terus berembus. Persis penutup Kacamata edisi 21 September 2026 yang sangat optimis.
“...Hidup terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk mendengarkan berita-berita buruk dan rasan-rasan tetangga.”
Bagaimanapun pernyataan di atas adalah alasan mendasar. Jika kita sudah terlalu sering bergantung kepada sosok, maka sudah waktunya bergeser menjadi suara. Jika ada yang berpaling, maka tidak lagi kecewa. Kenyataan tetaplah kenyataan. Pada satu malam yang gamang karena keadaan, menggeluti waktu yang telah terlewat adalah keniscayaan. Meski tak seperti yang pernah kita bayangkan di masa-masa sebelumnya.
Dalam waktu yang singkat, bacaan sejarah yang terbata-bata, cerita agung dari masa silam, tidak ada yang menggairahkan jika berhenti di sana. Kita akui saja bahwa hari ini kita bukanlah pemenang. Ke depan masih ada nasi yang harus direngkuh. Apakah yang digdaya dari masa lampau sekadar cerita dan filosofi?
Karena itu pula, terus mengambil formasi bertahan adalah hal yang paling mungkin. Persis seperti yang dilakukan Jose Mourinho ketika menukangi Inter Milan. Saat mereka menghadapi Barcelona pada semifinal Liga Champions 2010. Tak ada taktik indah yang disuguhkan Mourinho. Ia memastikan formasi bertahan dan menyerang seefektif mungkin.
Kita tahu yang dilakukan Mourinho sebelum pertandingan berlangsung. Ia membuat frustasi Pep Guardiola lewat pernyataan tangkas di pelbagai media. Tekanan demi tekanan terus dilontarkan. Laga legendaris itu menandai dengan sangat jelas bahwa pertandingan bahkan dimulai jauh sebelum peluit wasit dimulai.
Kemampuan membaca momen yang dilakukan Mourinho adalah keniscayaan yang dilandaskan pada pengalaman. Seperti pengalaman pengorganisiran yang dilakukan Ken Arok sebelum mengalahkan Tunggul Ametung di Tumapel. Sama dengan cara Ken Dedes yang berjuang dari dalam istana sebelum sepenuhnya menjadi ahli strategi di kadipaten yang kelak menjadi ibu banyak kerajaan besar di Jawadwipa.
Sejauh ini sebagian informasi tentang mereka yang bertugas sebagai tukang pidato masih berbasis keturunan siapa. Perjuangan orang-orang yang bukan keturunan siapa-siapa cenderung lebih banyak dalam praktik kerja elementer. Mereka tidak memberi kesempatan penuh kepada orang-orang yang di masa Arok terbatasi oleh kasta-kasta. Apakah ini yang disebut sebagai repetisi sejarah?
Kita tidak pernah bisa menjawabnya. Tetapi membaca pola seperti mengarah ke sana. Napoleon Bonaparte di Prancis, Joseph Stalin di Soviet, atau di negara kepulauan di bagian selatan bumi hari ini. Begitulah, kira-kira, lalu kita mendengar kata-kata indah, “berusahalah sebaik mungkin.”
Ini bukan bentuk ketidak-bersyukuran, tetapi realitas sosial yang perlu ditinjau kembali. Adakah yang berjarak menyoal pengetahuan dan khalayak? Adakah orang jenius tetapi tidak mendapatkan ruang belajar yang layak dan aman? Semuanya selalu berhenti menjadi pertanyaan di pos kamling atau angkringan.
Tidak kurang-kurang seseorang berangkat bekerja sekadar berharap menggunakan jalan aspal yang mulus. Tetapi, dia mendengar kalimat repetitif dalam pidato-pidato, “kita akan...”. Sepertinya, “kita akan...” yang akan terus terdengar bagi para pekerja, korban bencana alam ciptaan manusia, dan lain-lainnya tidak terselesaikan paripurna.
Jika congak dan angkuh adalah karakter kekuasaan, karenanya perlu pelatihan kepada kekuasaan untuk melihat dari sisi yang lain. Persis seperti anak-anak yang potensial tenaga dan pikirannya yang diarahkan menuju Balai Latihan Kerja. Atau, mereka yang memilih untuk pergi ke negeri yang jauh. Untuk membangun mimpi dan menciptakan harapan.
Pidato yang kita dengar hari-hari ini jauh dari kenyataan itu. Kadang-kadang, masalah perlu diselesaikan dengan praktik kerja. Apabila bahasa masih dalam bentuk produk teks (tulisan dan lisan), maka perlu dijadikan sebuah praktik sosial. Hidup memang menuntut itu. Angka delapan artinya berjuang bersama-sama. Kecuali patah salah satu garisnya.
Karena itu, sejarah perlu mencatat bahwa kini kamar mandi tidak lagi menjadi tempat belajar berpidato. Jika seratus tahun silam sebagai embrio lahirnya sebuah cita-cita merdeka, kini justru air yang membilas sedu sedan air mata.

Posting Komentar untuk "Repetisi: Pidato Khayalan "
Posting Komentar