Di Ruangan yang Penuh, Apa yang Sebenarnya Sedang Dibagikan?

Pameran Practice of Joy: Pride | Foto: Dok. Imarafsah

Catatan setelah mengunjungi pameran Practice of Joy: Pride

        Ada jenis ruang yang tidak perlu besar untuk terasa penuh dan ramai. Bahkan sebelum sempat melihat satu per satu benda di dalamnya, mata sudah duluan sibuk memilih ke mana harus melihat. Di tengah keramaian itulah ingatanku melompat pada sebuah kamar yang pernah kutemui di dalam novel.


Dalam Sebuah Ruang yang Terasa Tidak Asing
Ada sebuah bagian dalam novel Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang membuatku teringat pada ruang pamer yang beberapa hari lalu kudatangi (19/9).

Dalam novel itu, ada tempat yang disebut Kamar Paling Berantakan di Seluruh Dunia. Sebuah kamar yang mengapung di luar angkasa, dipenuhi barang-barang, kasur, lemari, meja belajar, ember, pakaian, buku, dan sampah yang seperti sudah kehilangan tempatnya masing-masing. Di sana tinggal seorang perempuan dan seekor kucing gendut berwarna abu-abu bernama Bastet, yang bulunya hampir botak saking setresnya tinggal di lingkungan yang kacau.

Ruang pamer yang kudatangi tentunya bukan ruang yang kacau seperti dalam novel. Tapi menurut perasaanku, begitu aku masuk, rasanya seperti ada di ruangan yang penuh. Bukan penuh barang-barang, melainkan penuh cerita dan informasi.

Ruangnya kecil, mungkin sekitar 3x10 meter. Aku tidak sempat mengukurnya, jadi angka ini mungkin saja keliru. Yang jelas, dinding-dindingnya dipenuhi karya-karya berukuran kecil yang dipasang berdekatan. Jarak antara satu karya dengan karya lainnya mungkin sekitar tujuh sentimeter. Aku juga tidak menghitungnya.

Yang membuat ruangan itu terasa penuh bukan hanya jumlah karyanya, melainkan betapa berbeda-beda dunia yang dibawa oleh masing-masing karya. Mereka juga datang dari macam-macam pendekatan dan tidak tampak sedang berusaha menjadi satu keluarga visual. Ada wajah, lanskap, makhluk-makhluk yang sulit diberi nama, coretan, bidang warna, gambar yang terasa seperti ilustrasi, karya yang (nyaris) abstrak, sampai relief yang memiliki jejak-jejak benda sehari-hari. Tiap karya seperti sedang bercerita dengan bahasa yang sangat berbeda dari karya di sebelahnya.

Karena jaraknya rapat, mataku lekas berpindah dari satu karya ke karya lain, berhenti sebentar, kemudian berpindah lagi. Seperti saat mencari satu potongan puzzle, tetapi untuk menemukannya harus melewati potongan-potongan lain terlebih dahulu. Jadi, kurasa ini seperti sedang mencari sesuatu yang bahkan sejak awal tidak kuketahui apa. Satu perasaan aneh bagiku, menurut mataku, tidak ada satu karya yang paling stand out. Tidak ada satu karya yang membuatku berpikir, “Nah, ini dia!” Yang melekat adalah keseluruhan pengalaman melihat banyak hal sekaligus.

Foto: Dok. Imarafsah


Perbincangan Beberapa Arah yang Hangat

Pameran yang kudatangi adalah Practice of Joy: Pride di Riang Studio. Menurut catatan dalam teks pameran, Practice of Joy lahir dari gagasan bahwa kegembiraan adalah sesuatu yang dilatih, dirawat, dan dibagikan. Pride dimaknai sebagai kebanggaan terhadap proses, identitas, perjalanan, dan keberanian seniman untuk terus berkarya. Yang menarik dari catatan teks pameran adalah, beragam karya yang hadir diharapkan menjadi ruang dialog mengenai bagaimana kegembiraan dapat tumbuh melalui proses kreatif, kebersamaan, serta hubungan yang terus dirawat antar sesama pelaku seni. Itu membuatku kemudian memikirkan kata, “dialog.”

Ketika melihat karya-karya yang begitu beragam dan ditempatkan berdekatan, apakah aku sedang melihat sebuah dialog? Apakah aku diajak berdialog? Atau sebenarnya aku sedang berada di tengah keramaian?

Aku tidak merasa sedang mendengar percakapan antara satu karya dengan karya lainnya. Malah rasanya seperti banyak orang berbicara dalam satu ruangan pada waktu yang sama. Menurutku itu tidak jadi dialog namanya. Sebab aku tidak melihat percakapan antara dua atau lebih tokoh yang terlibat perbincangan.

Alih-alih menyebutnya dialog, aku memilih mengatakan bahwa yang kusaksikan adalah sebuah “polilog.” Polilog merupakan jenis wacana yang melibatkan lebih dari dua orang dan semuanya berperan aktif dalam sebuah interaksi. Biasanya jenis wacana ini menggunakan topik yang luas sebagai bahan pembicaraannya. Wacana polilog bisa ditemui dalam debat atau diskusi (kumparan.com).

Demikian, tidak ada satu karya yang terasa paling menonjol untuk menjadi pusat percakapan. Tidak ada yang berdiri sebagai suara utama sementara karya-karya lain menjadi penanggapnya. Semuanya seperti memperoleh volume yang kurang lebih sama. Aku berpindah dari satu karya ke karya lain, tetapi tidak menemukan satu jalur yang mengharuskanku mengikuti percakapan tertentu. Yang kutemukan adalah banyak percakapan yang mungkin terjadi sekaligus, dan aku hanya bisa memilih beberapa di antaranya untuk kudengarkan.

Dalam pengertian itu, mungkin keberagaman di ruang ini memang bukan soal mencari satu kesatuan. Justru yang menarik adalah tidak adanya satu karya yang mengambil alih seluruh perhatian. Setiap karya mendapatkan jatah ruang untuk hadir, meskipun akhirnya tidak semuanya akan didengarkan dengan durasi yang sama oleh setiap pengunjung.

Aku mungkin tidak mengingat semuanya. Bahkan sebagian besar karya hilang dari ingatanku beberapa hari setelah kunjungan ini. Tetapi kenyataan bahwa mereka pernah berada dalam satu ruangan yang sama membuatku berpikir bahwa berbagi ruang tidak selalu berarti harus saling berhubungan. Kadang-kadang, berbagi cukup berarti memberi kesempatan bagi banyak suara untuk hadir tanpa harus menentukan suara mana yang paling penting.

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, bahwa tiap karya seperti sedang bercerita dengan bahasa yang sangat berbeda dari karya di sebelahnya, tanpa harus saling menjawab.

 

Sebuah Informasi dari Dunia yang (Sepertinya) Tidak Asing

Di antara semua karya yang berdesakan itu, ada satu relief karya Risao Pambudi yang justru membuatku berhenti. Aku tidak tahu apa judulnya, tidak bertanya juga. Pun di sini aku tidak ingin mengarang maksud seniman di balik karya tersebut hanya berdasarkan apa yang kulihat. Tetapi secara sadar karya itu membuatku sedih. Sebab ketika kumelihatnya tiba-tiba kepalaku disergap sesuatu yang berasal dari luar ruang pamer.

Belakangan ini aku agak susah melihat berita tentang MBG dengan kepala dingin. Berita tentang anak-anak yang mual, muntah, diare, sampai harus dilarikan ke rumah sakit terus muncul dari berbagai daerah. Rasanya seperti ada satu program yang seharusnya bicara tentang makanan bergizi, tetapi sesekali malah membuat warga sibuk menghitung jumlah orang yang masuk rumah sakit. Ironis sekali. Seperti menu bergizinya datang lengkap dengan bonus paket kecemasan.

Yang membuatku gelisah bukan cuma jumlah korbannya, tetapi kenyataan bahwa yang sedang dibicarakan adalah makanan yang diberikan kepada anak-anak. Anak-anak yang secara sederhana seharusnya tinggal makan, kenyang, lalu belajar dengan tenang dan gembira. Bukan makan, kemudian masuk ambulans. Di titik tertentu aku bahkan merasa marah. Ada sesuatu yang terasa sangat tidak masuk akal ketika sebuah program yang namanya membawa kata bergizi justru membuat orang tua bertanya-tanya: ini makanan atau latihan keberanian?

Makanya, ketika melihat relief Risao di ruang pamer itu, berita-berita tersebut tiba-tiba ikut masuk ke dalam kepalaku. Aku tidak tahu apakah karya itu memang sedang membicarakan MBG. Bisa jadi sama sekali tidak. Tetapi belakangan ini rasanya apa pun yang berhubungan dengan makanan dan anak-anak sulit kulihat tanpa sedikit rasa was-was.

Mungkin memang begitu cara kita melihat karya. Kita tidak pernah benar-benar datang dengan kepala kosong. Kita datang (barangkali) membawa berita yang baru kita baca, percakapan yang menggantung, buku yang pernah dibaca, orang yang baru kita temui, sesuatu yang sedang kita pikirkan, atau bahkan sesuatu yang sedang membuat kita takut.

Karya kemudian bertemu dengan semua itu.

Barangkali hal-hal itu yang membuat sebuah karya bisa tiba-tiba terasa dekat, ketika kita tidak tahu siapa pembuatnya, bahkan apa maksud sebenarnya dari karya tersebut.

 

Kucing-Kucing Penjaga Dunia: Penutup

Aku berjumpa seekor kucing di galeri. Kucing oren. Aku tidak sempat berkenalan dengannya jadi aku tidak tahu namanya. Dalam Semua Ikan di Langit ada Bastet. Kucing di galeri ini tentu bukan Bastet, soalnya warnanya oren.

Kalau Bastet hidup di antara pakaian, buku, ember, dan sampah, kucing oren ini hidup di antara lukisan, relief, gambar, dan berbagai macam benda yang tidak sempat kukategorikan satu per satu. Dan yang pasti ruang pamer ini tidak berantakan, setidaknya secara fisik.

Pada akhirnya, mungkin kegembiraan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang riuh. Ia bisa berupa kesempatan untuk menaruh satu karya di antara karya-karya lain, memberi ruang bagi perbedaan untuk berdampingan, lalu membiarkan setiap orang menemukan sesuatu untuk dibawa pulang.

Aku membawa pulang kepala yang lebih penuh. Dan untuk kali ini, aku tidak keberatan.


Bacaan pendukung

Arti Wacana Menurut Ahli dan Jenis-jenisnya | kumparan.com https://share.google/QKbaLmLHhHUPGFfyi

Zezsyazeoviennazabrizkie, Ziggy. 2017. Semua Ikan di Langit. Jakarta: Grasindo.


Penulis: Imarafsah Mutianingtyas



Posting Komentar untuk "Di Ruangan yang Penuh, Apa yang Sebenarnya Sedang Dibagikan?"